Seusai jam pelajaran terakhir, Gunawan berjalan menuju ruang OSIS. Langkahnya lebih berat dari biasanya, pikirannya masih penuh tentang Rara tentang tatapan curiganya, tentang suaranya yang melemah, tentang diam-diam yang ternyata menyimpan banyak hal.
Begitu ia masuk, beberapa pengurus OSIS sudah berkumpul. Rani ada di sana sudah berdiri cukup dekat dengan meja rapat, dan ekspresinya berbinar ketika melihat Gunawan muncul.
Gun! Duduk sini aja," ajak Rani sambil menepuk kursi yang tepat di sebelahnya.
Biasanya Gunawan tidak terlalu memikirkan hal seperti itu. Tapi kali ini ia langsung merasakan alarm kecil muncul, mengingat kata-kata Meli: "Hati-hati sama Rani. Cewek itu kayaknya nyaman banget deket Aa."
Gunawan tersenyum tipis. "Di sana aja, Ran. Sekalian mau bantu Faul beresin dokumen."
Rani sempat tertegun. "Oh... iya, boleh."
Gunawan bergerak cepat menuju kursi lain, sengaja memilih duduk di dekat Faul dan Nia. Dia tidak ingin memberi celah untuk Rani menempel lagi.
Sesi rapat pun dimulai. Biasanya Gunawan cukup santai dan sering mengobrol singkat dengan pengurus yang cewek-cewek saat diskusi. Tapi kali ini sikapnya berubah lebih formal, lebih fokus, tidak basa-basi.
Rani mencoba membuka topik, "Nanti aku share materi, kamu cek ya?"
Boleh. Kirim aja di grup, biar yang lain juga bisa lihat "jawab Gunawan tegas dan singkat tanpa menoleh
Faul, Nia dan Ridwan tentu memperhatikan seluruh gerak-gerik Rani dan Gunawan. Semua dibalas dengan profesional oleh Gunawan. Dingin? Tidak. Tapi jelas menjaga jarak. Mereka cukup tenang, Gunawan sudah mengambil sikap dengan tepat.
Beberapa menit sebelum rapat berakhir, Rani tiba-tiba mendekat untuk memberikan draft kertas. Gunawan langsung menggeser kursinya sedikit ke samping, memberi jarak sopan namun tegas. Gerakan itu kecil, tapi cukup terlihat oleh beberapa orang. Rani ikut terdiam sebentar.
Gunawan menerima kertas itu dengan dua tangan, cepat, formal. "Makasih. Gue cek dulu ya."
Tidak ada kontak mata lama, tidak ada kesempatan bagi Rani untuk membuka obrolan personal. Rapat selesai, Gunawan langsung bangkit. "Gue pamit duluan ya. Ada janji."
Padahal janji itu hanya satu: menjaga diri untuknya dan untuk Rara. Tidak mau ada celah yang membuat Rara terluka lagi. Gunawan berjalan lebih cepat, seolah ingin menjauh bukan dari OSIS, tapi dari potensi kesalahpahaman yang selama ini ia biarkan terbuka.
Setelah rapat OSIS bubar, sebagian pengurus masih berjalan beriringan menuju tangga. Rani berada sedikit di belakang, matanya tak lepas dari punggung Gunawan yang melangkah cepat tanpa menoleh sama sekali.
Rani mempercepat langkah. "Gun!" panggilnya.
Gunawan berhenti, tapi tidak mendekat. "Kenapa, Ran?"
Rani agak terkejut mendengar nada suaranya lebih datar, lebih singkat. "Kamu buru-buru ya?"
Gunawan mengangguk pelan. "Iya. Ada perlu."
Oh." Rani mengerjap. "Perlu apa? Bisa dibantu?"
Enggak. Ini urusan pribadi "jawab Gunawan cepat
Ada jeda. Singkat, tapi cukup membuat Rani merasa asing.
Saat mereka mulai berjalan lagi, Rani kembali mencoba. "Kamu capek? Atau sakit? Dari tadi kayak beda."
Gunawan menggeleng. "Bukan apa-apa, Ran. Aku cuma mau lebih fokus. Sama tugas, sama hal-hal yang harus aku jaga."
Ucapan "hal-hal yang harus aku jaga" itu membuat langkah Rani terhenti sepersekian detik. Ia tidak bodoh, ia tahu persis siapa yang dimaksud Gunawan. Rara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetap Menunggu
RomanceJodoh memang rahasia Tuhan. Tapi Tuhan juga mengharuskan kita untuk berikhtiar dan menjemput jodoh itu. Berdoa adalah satu-satunya cara untuk merayu Tuhan agar jodoh itu datang.
