Part 69

18 3 4
                                        

Konflik itu datang pelan. Bukan lewat pertengkaran. Bukan lewat kata-kata tajam. Tapi lewat hari-hari yang makin sulit dicocokkan.

Gunawan pulang semakin malam. Kadang sudah lewat jam sepuluh, kadang hampir tengah malam. Kantor menuntut banyak hal, target, rapat mendadak, revisi yang selalu "sebentar lagi". HP-nya sering tergeletak begitu saja di meja kerja, bukan karena lupa Rara, tapi karena kepalanya sudah terlalu penuh.

Rara juga tak kalah lelah. Pagi berangkat ke lokasi praktik kerja lapangan, siang berhadapan dengan laporan, malam menatap layar laptop menyusun tugas akhir. Waktu tidur jadi barang mewah. Pesan-pesan yang dulu dibalas cepat kini sering tertahan berjam-jam.

Awalnya mereka saling maklum.
"Gapapa, aku ngerti."
"Kamu fokus aja dulu."

Kalimat yang sama, berulang, sampai terdengar seperti mantra penenang, padahal perlahan berubah jadi jarak. Rara akhirnya menyerah, ia tidak bisa terus menyimpan semuanya sendiri.

Sore itu, di sela waktu istirahat PKL, Rara duduk di bangku panjang depan gedung RS. Jasnya ia taruh di samping, tasnya masih di punggung. Meli duduk di sebelahnya, membuka botol minum, lalu melirik Rara yang sejak tadi diam.

"Ra," kata Meli pelan, "kamu tuh kelihatan capek, tapi bukan capek badan doang."

Rara tersenyum tipis. "Kelihatan ya?"

"Banget."

Hening sebentar, lalu Rara bicara, kalimatnya keluar pelan tapi runtut, seolah sudah lama disiapkan.

"Gun lagi sibuk banget. Aku juga. Awalnya kita saling ngerti. Tapi sekarang... aku ngerasa kok aku sendirian ya."

Meli berhenti minum. Menatap Rara serius. "Sendirian gimana?"

"Aku nggak nuntut dia harus selalu ada. Aku ngerti kerja itu penting. Tapi tiap aku lagi jatuh capeknya, yang ada cuma pikiranku sendiri. Aku nggak berani ganggu, karena takut dibilang nggak pengertian."

Meli mengangguk pelan. "Itu bukan ngerti, Ra. Itu kamu ngalah terus."

Rara menunduk. Jarum jam di tangannya berdetak pelan. "Aku mulai jarang cerita," lanjut Rara jujur. "Bukan karena nggak mau, tapi karena capek jelasin kenapa aku sedih. Aku juga takut... kalau aku cerita, ternyata itu cuma ganggu."

Meli menghela napas panjang. "Kamu tahu nggak? Orang yang bener-bener peduli tuh nggak pernah nganggep cerita kamu sebagai gangguan."

Rara menatap Meli, matanya berkaca-kaca. "Aku takut jadi beban," katanya lirih.

"Ra," Meli memegang lengan Rara, "kamu bukan beban. Kamu pasangan. Kalau kamu mulai ngerasa sendirian di hubungan, itu tandanya ada yang perlu dibenahin, bukan dipendem."

Rara mengangguk pelan, air matanya jatuh satu.
"Sebenarnya kita gak pernah menamai hubungan ini, Mel. Tapi kok rasanya lelah ya."

"Itu karena kamu lagi sendirian meluk perasaan kalian berdua," jawab Meli jujur. "Dan itu berat."

Angin sore berembus pelan. Rara mengusap pipinya. "Terus aku harus gimana?" tanyanya.

Meli terdiam sebentar, lalu berkata hati-hati, "Berani jujur. Bukan marah, bukan nuntut. Tapi jujur soal capekmu. Kalau Gun masih mau belajar hadir, dia akan denger. Kalau nggak... setidaknya kamu nggak ninggalin dirimu sendiri."

Rara menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah lama, ia merasa tidak sendirian memikul perasaannya.

Suatu malam, Rara menunggu. Bukan menunggu balasan panjang, hanya satu kabar. Satu kalimat kecil, aku sudah sampai. Tapi yang datang hanya notifikasi grup kampus, lalu jam menunjukkan lewat pukul sebelas.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang