Jodoh memang rahasia Tuhan. Tapi Tuhan juga mengharuskan kita untuk berikhtiar dan menjemput jodoh itu. Berdoa adalah satu-satunya cara untuk merayu Tuhan agar jodoh itu datang.
Di ruang keluarga rumah Meli, Gunawan dan Meli duduk di sofa yang sama. Gunawan tampak gelisah, mengacak-acak rambutnya lalu menghela napas panjang.
Meli mengernyit. "Aa kenapa sih dari tadi ayak cacing kepanasan?"
Gunawan menunduk, suaranya pelan. "Dhea, Neng."
Meli langsung mengangkat alis. "Rara kenapa?"
Dia kayak lagi ngejauh." Gunawan menatap lurus ke lantai. "Aa rasa dia kayak menarik diri dari aa. Bukan cuma soal waktu. Tapi cara ngomongnya, cara dia liat aa, semuanya kayak dijaga."
Meli terdiam sebentar, mengamati wajah Gunawan yang terlihat lebih lelah dari biasanya. "Kamu udah nanya langsung ke dia?"
Belum." Ia menggeleng. "Aa takut malah bikin dia tertekan, apalagi dia habis sakit. Padahal aa cuma kangen."
Meli mengeluarkan napas pendek. "Aa sadar nggak, selama kamu fokus olimpiade dan OSIS, Rara tuh selalu nungguin kamu? Selalu mikir kalau Aa pasti capek, bukan nggak mau ada waktu buat dia."
Gunawan menelan ludah, jelas ada rasa bersalah. "Aa tahu. Dan justru itu yang bikin aa takut sekarang. Dulu dia selalu terbuka. Sekarang kayak ada jarak yang nggak kelihatan." Ia mengangkat kepala, menatap Meli. "Aa cuma pengen tahu kenapa. Ada apa sebenarnya."
Meli menatap Gunawan lama, lalu berkata lembut, "Aa... kadang orang menjauh bukan karena nggak sayang. Tapi karena mereka lagi berusaha nggak menghalangi kamu."
Gunawan mengerutkan kening. "Maksud kamu?"
Meli tersenyum tipis, tapi matanya serius. "Mungkin dia takut keberadaannya bikin kamu gak fokus sama olimpiade."
Gunawan terdiam. Alisnya bertaut kuat—ada rasa nyeri yang baru ia sadari. "Aa gak pernah merasa begitu Neng. Justru Aa butuh dia buat nguatin Aa, buat semangatin Aa"
Neng paham, tapi mungkin Rara lagi overthinking aja A," jawab Meli pelan
Gunawan menunduk lagi, kali ini lebih dalam. "Aa nggak mau dia ngerasa begitu Neng."
Ya udah," Meli menepuk bahunya. "Jangan cuma ngomong ke aku. Ngomong ke orangnya. Tapi pelan-pelan jangan bikin dia takut."
Gunawan mengangguk kecil, ada tekad yang pelan-pelan tumbuh.
Meli tersenyum lembut. "Good. Karena dari semua orang, harusnya kamu yang paling ngerti Rara."
Setelah berbagi keluh dengan Meli, Gunawan sedikit merasa lega. Tapi rasa rindunya tidak bisa lagi ia tahan. Gunawan mengambil ponselnya dan mengirim pesan untuk Rara.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rara bukan tidak ingin membalas, tapi ia bingung harus mengetikkan kata apa disana. Akhirnya Rara memilih untuk tidak membalasnya.
Putri baru saja duduk, disusul Nia yang membawa roti, dan Meli yang menghampiri mereka berdua di koridor depan kelas.