Part 62

18 1 2
                                        

disclaimer!!!

dengerin dulu ya lagunya sebelum baca cerita dibawah.

Hari-hari setelah putus tidak langsung terasa hancur. Justru sunyi.

Rara bangun pagi, menyiapkan diri ke kampus seperti biasa. Jadwalnya tetap padat, tugas tetap datang tanpa peduli pada hatinya yang baru kehilangan. Ia masih tersenyum pada teman-temannya, masih tertawa di momen tertentu, tapi ada jeda kecil di antara semua itu—ruang kosong yang dulu selalu diisi oleh nama Gunawan.

Tangannya beberapa kali refleks meraih ponsel. Ingin bercerita hal sepele: dosen yang datang terlambat, kucing kampus yang tidur di depan kelas, lelah yang tak bisa dijelaskan. Lalu ia ingat. Tidak ada lagi "kita".

Di sisi lain kota, Gunawan menjalani hari-hari yang lebih berat dari yang ia kira. Ia tidak lagi menunggu balasan pesan, tapi justru menunggu dirinya sendiri berhenti berharap. Setiap notifikasi membuat dadanya menegang, lalu kecewa ketika bukan nama Rara yang muncul.

Hal-hal kecil menghantam paling keras. Lagu yang biasa mereka dengarkan bersama. Waktu tertentu di malam hari ketika mereka dulu selalu saling menelpon. Kebiasaan bertanya yang kini tak punya tujuan. Ia belajar menahan diri tidak mengirim pesan, tidak bertanya kabar, tidak mencari-cari alasan untuk sekadar muncul. 

Rara mulai belajar menikmati pulang tanpa rasa bersalah, sibuk tanpa harus menjelaskan, diam tanpa takut disalahpahami. Kadang ia menangis tanpa sebab yang jelas. Kadang ia merasa lega, lalu merasa bersalah karena merasa lega.

Sementara itu, Gunawan mulai memahami satu hal yang datang terlambat, kepercayaan bukan soal bertanya lebih banyak, tapi berani melepaskan kendali. Dan penyesalan sering kali baru mengajarkan maknanya setelah semuanya usai.

Mereka tidak saling membenci. Tidak juga saling melupakan. Mereka hanya berjalan di hari-hari yang berbeda, membawa luka yang sama perlahan berubah menjadi bekas, lalu cerita. Dan meski belum siap mengakuinya, hari-hari setelah putus adalah awal dari dua orang yang sedang belajar hidup tanpa saling menggenggam, tapi tetap membawa pelajaran dari cinta yang pernah ada.

Nia, Rara, Meli dan Putri akhirnya bertemu setelah selesai ujian semester pertama. Mereka satu kampus, hanya beda fakultas. Mereka bertemu di sore yang hangat, beberapa hari setelah ujian semester pertama benar-benar berakhir. Tidak ada lagi wajah tegang, tidak ada lagi buku catatan yang dipeluk seperti pelampung.

Nia datang paling dulu, duduk di bangku caffe kampus sambil mengayun-ayunkan kaki, wajahnya terlihat jauh lebih ringan. Tak lama, Putri muncul dari arah depan, langsung melambaikan tangan tinggi-tinggi.
"AKHIRNYA HIDUP LAGI," serunya tanpa peduli siapa pun yang mendengar.

Meli menyusul sambil tertawa, masih membawa tas penuh kertas coretan. "Sumpah, aku tadi kayak bangun tidur pas udah selesai."

Rara datang paling terakhir. Begitu langkahnya terlihat, obrolan mereka otomatis terhenti sejenak. Rara tersenyum, senyum yang tipis tapi hangat, lalu duduk di antara mereka. Tidak ada pelukan dramatis, tapi kehadirannya membuat lingkaran itu terasa lengkap.

Beberapa detik pertama hanya diisi tawa kecil dan napas lega.

Ada yang masih kebawa mimpi ujian? "tanya Nia.

Jangan bahas "sahut Putri cepat. "Aku pengen otakku libur sebulan."

Mereka mulai berbagi cerita soal soal yang bikin nyesek, jawaban ragu-ragu, pengawas yang terlalu serius, sampai momen lucu. Tawa pecah berkali-kali, bukan tawa yang dibuat-buat, tapi tawa lega karena semuanya sudah lewat.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang