Sore itu rumah masih ramai, meskipun acara utama sudah selesai. Masih ada orang-orang yang merapikan rumah. Rara duduk di dekat mamanya, sementara Gunawan berbicara dengan Papa Rara di sisi lain. Tapi pembicaraan mereka pelan-pelan mulai mengarah ke satu hal yang sama.
"Jadi besok langsung ke rumah baru?" tanya Mama Rara, menoleh ke arah mereka berdua.
Rara melirik Gunawan sebentar sebelum menjawab. "Iya, Ma... rencananya besok pagi."
Belum sempat suasana tenang—
"Ya sudah, Mama ikut besok pagi ya. Kita beresin sekalian," sambung Mama Rara cepat, seolah itu keputusan yang paling wajar di dunia.
Rara langsung refleks, "Ma—"
Di sisi lain, Maminya Gunawan yang sejak tadi mendengarkan langsung menyela, tidak mau kalah. "Iya, Mami juga mau ikut. Kasihan mereka, baru pertama di rumah baru pasti masih bingung."
Gunawan menutup mulutnya, menahan senyum kecil. Rara langsung menatapnya, seolah minta bantuan. Tapi Gunawan justru pura-pura sibuk minum.
"Ma, Mi... rumahnya kan sudah siap," coba Rara pelan.
"Siap itu beda sama ditempati," jawab Mama Rara cepat. "Kamu pikir tinggal masuk langsung enak? Harus dicek lagi dapurnya, kamar mandinya, airnya—"
"Betul," sahut Mami Gunawan. "Belum lagi isi kulkas. Masa hari pertama mereka gak ada makanan?"
Gunawan akhirnya ikut bicara, nadanya hati-hati. "Sebenarnya... kita mau pelan-pelan aja dulu, Mi."
"Pelan-pelan itu nanti," potong Maminya. "Hari pertama justru harus dibantu."
Rara mulai terlihat sedikit panik, tapi juga tidak enak. "Ma..." katanya pelan, "aku sama Gunawan pengen coba dulu berdua."
Kalimat itu membuat suasana sedikit berubah. Bukan tegang, tapi... lebih serius.
Mama Rara menatap anaknya beberapa detik. "Maksudnya?"
Rara menarik napas kecil. "Ya... maksudnya, kita pengen ngerasain dulu. Bingungnya, nyarinya... ya pelan-pelan kita aja."
Maminya Gunawan melipat tangan, sedikit menyipitkan mata—bukan marah, tapi jelas belum sepenuhnya setuju. "Kalian yakin?"
Gunawan mengangguk. "Iya, Mi."
Mama Rara menghela napas pelan. "Mama cuma gak mau kamu capek sendiri, Ra."
Rara tersenyum lembut, meraih tangan ibunya. "Aku tahu, Ma." Nada suaranya lebih hangat sekarang. "Tapi... mungkin ini bagian yang harus aku jalanin sendiri dulu."
"Ya sudah," kata Papa Rara tiba-tiba dari sudut ruangan, suaranya tenang. "Biarkan mereka mulai dengan caranya sendiri."
Semua menoleh.
Papa Rara tersenyum tipis. "Kalau hari pertama saja sudah ramai, kapan mereka belajar berdua?"
Gunawan langsung mengangguk kecil, hampir lega.
Maminya Gunawan akhirnya menghela napas, lalu tersenyum tipis juga. "Ya sudah... tapi Mami tetap kirim makanan ya besok."
Rara tertawa kecil, kali ini lebih santai. "Itu boleh."
Mama Rara masih terlihat setengah enggan, tapi akhirnya mengangguk. "Mama datangnya lusa saja."
"Ma..." Rara langsung memprotes pelan.
Mama Rara tersenyum, mengusap tangan anaknya. "Cuma lihat, gak ganggu."
Semua tertawa kecil.
Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetap Menunggu
RomanceJodoh memang rahasia Tuhan. Tapi Tuhan juga mengharuskan kita untuk berikhtiar dan menjemput jodoh itu. Berdoa adalah satu-satunya cara untuk merayu Tuhan agar jodoh itu datang.
