Rara merasa masalah-masalah yang akhir-akhir ini ia lalui sudah selesai. Walaupun Aulia semakin menjauh, tapi ia tetap bersyukur Aulia tidak lagi menabuh genderang perang terhadapnya. Lalu persoalan Rani? Gunawan sudah membuktikannya, ia kembali ke dirinya sendiri. Hanya saja membatasi interaksi jika dirasa terlalu berlebihan. Teman-teman siswinya di OSIS pun paham akan sikap Gunawan yang seperti itu.
Di setiap semester kedua, pasti diadakan Olimpiade antar sekolah. Olimpiade ini diikuti oleh perwakilan dari siswa-siswi kelas XI. Mata pelajaran yang dilombakan adalah Matematika, Biologi, Geografi, Fisika, Kimia, Ekonomi dan Komputer. Kabar akan diadakan seleksi olimpiade sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Saat upacara bendera, Bapak Kepala Sekolah memberitahu akan mengumumkan nama-nama siswa yang akan mengikuti seleksi olimpiade sesuai bidangnya. Nama-nama itu nantinya akan terpampang di papan pengumuman sekolah.
Pagi ini pengumuman peserta seleksi olimpiade ditempelkan di papan pengumuman depan ruang guru. Siswa-siswa mulai berkerumun, berebut membaca nama-nama yang tertera. Bukan hanya siswa kelas XI yang berkerumun, tapi siswa dari kelas X dan XII pun ikut penasaran dan berkerumun.
Hari dan Ipan berlari kecil saat memasuki kelas, napas mereka masih memburu karena terburu-buru dari papan pengumuman.
Ra! Gun! Kalian berdua masuk daftar seleksi olimpiade!" seru Hari begitu sampai di depan meja mereka. Suara Hari lumayan kencang membuat satu kelas ikut fokus mendengarkan.
Putri mengerjapkan mata pelan. "Hah? Serius?"
Serius banget!" Ipan mengangguk cepat. "Namamu ada di dua bidang malah, Ra. Matematika sama Komputer. Kalau Gunawan yaa, hampir semua bidang ada namanya."
Gak aneh Gunawan mah "celetuk Rani yang terlihat sangat bangga pada Gunawan
Tapi kamu saingan sama Ipan Ra di komputer "Hari menambahkan, Rara hanya tersenyum kecil
Wah hebat kalian. Selamat-selamat "Dian merasa bangga dengan prestasi teman-temannya
Ayo Di kita lihat papan pengumuman, penasaran juga sama yang lain "Putri menarik tangan Dian tak sabar. Teman-teman yang lain juga banyak yang mengikuti mereka menuju papan pengumuman. Sementara Rara dan Gunawan masih diam di tempat.
Kenapa kok kayak gak seneng? "tanya Gunawan
Kayak beban aja buat aku "jujur Rara
Loh? Jangan gitu dong! Banyak yang pengen ada di posisi kamu "protes Gunawan
Rara menyandarkan punggung ke kursi, terlihat malas menanggapi "Aku cuma nggak yakin aja. Seleksinya panjang, pembinaannya juga, dari dulu aku tuh gak pernah siap dengan perlombaan-perlombaan seperti ini. Lebih baik sparingan voly."
Mulai sekarang harus semangat. Hargai mereka yang sudah memberi kamu kepercayaan dan aku yakin kamu pasti bisa lolos seleksi di salah satunya "percayalah Gunawan sebisa mungkin menahan untuk tidak mengeluarkan kata sayang pada Rara, mereka sedang berada di kelas
Rara hanya tersenyum tipis mendengarnya. Ia sebenarnya tidak pernah menduga namanya akan muncul, terlebih di dua bidang sekaligus.
Kamu harus yakin kamu emang pantes ikut seleksi Dhe, percaya diri itu perlu "Gunawan menatap Rara dalam menyalurkan keyakinan yang dirinya miliki. Rara paham tatapan itu
Kita lewatin tiap prosesnya sama-sama, aku temenin. Aku siap bantu apapun itu "tambah Gunawan karena iya tahu Rara belum yakin
Rara mengangguk, wajahnya memerah hangat. Kali ini ia akan mengikuti setiap prosesnya dengan percaya diri. Sedikit. Hanya sedikit itupun karena Gunawan.
Di luar kelas, kerumunan masih ramai. Di antara bisik-bisik nama peserta seleksi, terdengar beberapa suara menyebut nama Rara, kagum, penasaran, bahkan ada yang membandingkannya dengan Aulia. Namun Rara tetap duduk tenang di bangkunya. Hari ini, untuk pertama kalinya, ia benar-benar tidak merasa terbebani oleh suara-suara itu.
Kerumunan di depan papan pengumuman mulai menipis, tapi beberapa siswa masih berdiri membentuk lingkaran kecil, membicarakan nama-nama yang tertera. Aulia datang sedikit terlambat karena tadi harus membantu Bu Reni di perpustakaan. Ia tidak begitu tertarik pada olimpiade, namun tetap berjalan mendekat ketika mendengar beberapa siswa menyebut nama Rara.
Ia mencondongkan tubuh, matanya menyisir perlahan daftar nama yang tertempel. Awalnya ia hanya melihat sambil lalu, sampai pandangannya berhenti pada dua nama yang berdampingan di daftar Matematika.
Dheandra Radifa Jauhari dan Gunawan Ali Sabri
Seorang siswa di belakangnya berseru kecil, "Wah, si Rara masuk dua bidang, ya? Keren juga."
Komentar itu membuat Aulia mengerjap cepat, bola matanya menajam seolah baru sadar apa yang ia lihat. Ia bergeser sedikit mendekat, memastikan pandangannya tidak salah. Dan memang tidak. Nama Rara terpampang jelas, bukan hanya di satu bidang, tapi dua. Ada rasa tidak nyaman merayap perlahan di dada Aulia, tapi ia berusaha menahannya agar tidak terlihat.
Aulia menatap lama daftar itu. Ada sesuatu dalam dirinya bukan lagi amarah seperti dulu, tapi lebih pada rasa kalah. Ia melangkah mundur, mengatur napas. Beberapa siswa masih tertawa, membicarakan harapan mereka untuk perwakilan sekolah. Semua terdengar biasa saja bagi orang lain, tapi tidak untuk Aulia. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa perlahan namun pasti, Rara sedang melangkah maju tanpa dirinya.
Koridor menuju kelas XI-IPA masih ramai karena banyak siswa baru saja selesai melihat pengumuman. Aulia berjalan dengan langkah cepat, ingin segera menjauh dari kerumunan tadi dan menenangkan diri. Namun ketika ia berbelok di ujung lorong, langkahnya berhenti mendadak. Di depan sana, Rara dan Gunawan baru saja muncul dari arah kelas. Mereka berjalan berdampingan, tidak terlalu dekat, tapi cukup jelas menunjukkan kedekatan yang nyaman. Rara terlihat berbicara sesuatu, sementara Gunawan menanggapi dengan senyum tipis.
Pemandangan yang sederhana...
tapi bagi Aulia, cukup untuk membuat dadanya terasa mengeras.
Selamat ya kalian masuk seleksi "Aulia menghentikan langkahnya tepat didepan Gunawan dan Rara. Rara terkejut sesaat, tidak menyangka Aulia akan mengucapkan itu.
Makasih "suaranya lembut, tapi ragu.
Gunawan hanya menambahkan, "terima kasih."
Aulia mengangguk kecil, namun ada sedikit rasa bersalah yang menahan langkahnya. Hingga akhirnya mereka sama-sama melanjutkan langkahnya ke arah yang berbeda.
Gunawan akhirnya membuka suara duluan. "Dia keliatan aneh nggak sih barusan?"
Rara menatap ke depan, tidak langsung menjawab. "Sedikit."
Semoga dia lagi gak merencanakan sesuatu "sahut Gunawan
Gak boleh suudzon loh! "Rara mencubit kecil lengan Gunawan
Justru harus di doakan semoga dia gak berulah dan kembali ke Aulia yang aku kenal "tambah Rara. Gunawan setuju kali ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetap Menunggu
RomanceJodoh memang rahasia Tuhan. Tapi Tuhan juga mengharuskan kita untuk berikhtiar dan menjemput jodoh itu. Berdoa adalah satu-satunya cara untuk merayu Tuhan agar jodoh itu datang.
