Part 51

29 3 0
                                        

Begitu seluruh tekanan Olimpiade mereda dan jarak yang sempat terbentuk akhirnya runtuh, keseharian Rara dan Gunawan seperti mendapat warna baru. Tidak ada lagi gerakan canggung, tidak ada lagi tatapan yang buru-buru dialihkan, keduanya kembali seperti dulu. Bahkan mungkin lebih.

Di kelas, Gunawan yang biasanya fokus pada buku sekarang lebih sering melirik ke arah Rara. Bukan mencuri pandang, tapi memastikan: dia baik-baik saja? Capek nggak? Makan nggak? Perhatian kecil yang dulu terasa halus, kini sedikit lebih terang tapi tetap nyaman.

Saat pulang sekolah, Rara sempat menggoda, "Akhir-akhir ini kamu rajin banget ikut aku ke koperasi. Dulu-dulu nggak gitu."

Gunawan pura-pura mengangkat bahu sambil nyengir. "Lho, aku kan cuma memastikan kamu nggak kabur lagi dari aku."

Rara mendelik, tapi pipinya memanas. "Siapa juga yang kabur."

Ya bagus kalo nggak," jawab Gunawan ringan, tapi matanya menunjukkan lebih banyak dari nada suaranya ada lega, ada rindu yang sudah lama ditahan, ada semangat baru yang bahkan Rara sendiri bisa merasakannya.

Gunawan selalu bercerita tentang persiapan Olimpiade ataupun tentang OSIS, berkeluh kesah seleluasa mungkin kepada Rara. Dan setiap kali Rara tertawa atau menjawab dengan semangat, ada kilatan bangga di wajahnya.

Nah, yang kayak gitu. Aku kangen liat kamu ketawa begitu," ucapnya suatu sore saat mereka duduk di taman. Rara menunduk, jantungnya berdebar pelan. Untuk pertama kalinya setelah hari-hari yang berat, Rara merasa seluruh kerikil di dadanya hilang. Tak ada lagi ketegangan. Tak ada lagi rasa takut. Hanya ada kehangatan. 

Di kantin siang itu, Rara baru saja duduk ketika Gunawan datang sambil membawa dua gelas jus strawbery. Tanpa berkata apa-apa, ia menaruh salah satunya tepat di depan Rara.

Yang kurang manis, sesuai pesanan," katanya santai sebelum bergabung ke meja cowok-cowok di seberang.

Rara cuma bisa menggumam pelan, "Makasih"

Namun dari sisi kiri, Meli, Putri dan Nia sudah memelototkan mata dengan ekspresi HAH INI APA LAGI. Begitu Gunawan menjauh, ketiganya langsung menyerbu.

Ra..." Meli menyipitkan mata.

Putri menimpali, "Kayaknya ada yang upgrade level nih."

Nia menambahkan dengan nada dramatis, "Aku mencium aroma, apa ya? Gunawan kayak yang ketemu lagi sama dunianya yang hilang."

Rara langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Kalian lebay banget"

Lebay darimana? "Meli mencondongkan tubuh, suaranya mengecil tapi intens. "Kemarin kamu mati-matian ngindarin dia. Sekarang kayak dunia milik berdua"

Rara menggeleng cepat, pipinya memerah. "Enggak ah, kita cuma udah nggak ada jarak aja. Dia cuma..."

Cuma kangen? "Putri menebak penuh kemenangan.

Rara langsung terdiam. Tidak punya jawaban. Dan itu saja sudah cukup menjadi konfirmasi.

Meli bersiul pelan. "Ah, pantes dia semangat banget pagi ini. Dari rumah juga bersiul terus"

Ketiganya saling pandang lalu tertawa ramai-ramai, sementara Rara hanya bisa meringis malu, tapi di balik itu ada kehangatan yang memenuhi dadanya. Dan di meja seberang, Gunawan sedang memperhatikan mereka sambil tersenyum tipis, seolah tahu persis apa yang sedang dibicarakan.

Pagi itu, suasana sekolah tampak berbeda. Biasanya Gunawan datang dengan langkah santai, tapi kali ini ia melangkah dengan aura serius. Seragamnya rapi, jaket almamater OSIS ia bawa, dan map berisi rangkuman latihan menempel erat di tangannya.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang