Arga berdiri sedikit lebih dekat dari biasanya. Bukan dekat yang intim. Tapi cukup dekat untuk menunjukkan perhatian.
"Kamu udah beneran enakan?" tanyanya, nadanya lebih lembut dari biasanya. "Katanya sempat drop."
Rara mengangguk kecil. "Cuma kecapekan. Dramatis aja kayaknya," ia tersenyum.
Arga tidak ikut tertawa. Ia justru memperhatikan wajah Rara lebih serius. "Kamu kelihatan kurusan." Kalimat sederhana. Tapi nadanya tulus. Tanpa sisa perasaan lama. Hanya peduli.
Rara hendak menjawab ketika suara langkah lain terdengar.
Meli.
Ia berhenti satu detik saat melihat mereka berdua berdiri cukup dekat. Hanya satu detik. Tapi Rara melihatnya.
"Oh... kamu di sini," kata Meli, mencoba terdengar biasa.
Arga langsung mundur setengah langkah. Refleks. Seolah jarak itu tiba-tiba perlu diperjelas.
"Iya." jawabnya singkat. Terlalu singkat.
Meli tersenyum. Tapi senyumnya tipis.
Lalu hening.
Aneh. Karena seharusnya tidak ada yang aneh.
Arga biasanya akan mencairkan suasana. Tapi sekarang dia justru memasukkan tangan ke saku, menatap lantai sebentar, lalu berkata, "Aku duluan ya. Ada yang harus diurus."
Cepat. Hampir seperti kabur.
Begitu Arga melangkah pergi, Rara tidak langsung bicara. Ia hanya memandangi punggung Arga yang menjauh lalu menoleh pelan ke Meli.
Dan di situ.
Ada sesuatu di mata Meli. Bukan cemburu pada Rara. Tapi seperti seseorang yang sedang berusaha menenangkan hatinya sendiri.
Rara mendekat sedikit. "Mel..."
"Hm?"
"Kamu kenapa?"
Meli cepat-cepat tersenyum. "Kenapa apanya?"
Rara menatapnya lama. Sahabatnya itu tidak biasa sekaku ini. "Kamu tadi kelihatan kaget."
Meli terdiam sepersekian detik. Lalu menjawab pelan, "Enggak kok. Cuma nggak nyangka kalian di sini."
Tapi Rara tahu. Itu bukan kaget karena melihat mereka bersama. Itu kaget karena melihat Arga begitu perhatian.
Biasanya Arga orang yang santai. Kalau bicara, matanya fokus. Tapi sekarang, setiap kali Meli bicara, Arga justru pura-pura sibuk, terlalu cepat mengalihkan topik.
Dan Meli... biasanya kalau ada Arga mereka langsung bercanda. Sekarang senyumnya seperlunya. Jawabannya singkat. Tangannya sering merapikan rambut padahal tidak berantakan. Bukan canggung seperti orang yang tidak kenal. Tapi seperti orang yang terlalu sadar akan keberadaan satu sama lain.
Rara akhirnya bertanya pelan pada dirinya sendiri, "Sejak kapan mereka jadi seperti ini?"
Bukan dingin. Bukan bermusuhan. Tapi seperti dua orang yang sedang menahan sesuatu. Dan tidak ada yang berani saling menatap.
Rara tidak bodoh. Dia tahu bahasa tubuh. Dia tahu jeda yang tidak natural. Dia tahu ketika dua orang sedang berusaha terlihat biasa padahal hati mereka sedang tidak biasa.
Sejak kejadian di lorong itu, Rara mulai memperhatikan lebih halus. Bukan untuk mengawasi. Tapi untuk memastikan.
Suatu sore, Rara dan Meli duduk di kafe kecil langganan, mereka sedang menunggu Gunawan menjemput. Tak lama terlihat seseorang masuk dan mendekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetap Menunggu
RomanceJodoh memang rahasia Tuhan. Tapi Tuhan juga mengharuskan kita untuk berikhtiar dan menjemput jodoh itu. Berdoa adalah satu-satunya cara untuk merayu Tuhan agar jodoh itu datang.
