Part 66

15 2 0
                                        

Rara berhenti menggulir layar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Rara berhenti menggulir layar. Foto itu diam, tiga orang berdiri dalam komposisi yang rapi, cahaya hangat, tawa yang seolah baru saja berhenti sesaat sebelum kamera menutupnya. Caption-nya ringan, bercanda. Komentar berderet. Semuanya tampak biasa.

Tapi di dada Rara, ada sesuatu yang tersentil pelan.

Ia mengingat beberapa tahun silam, saat akhir pekan terasa panjang dan janji temu selalu punya waktu. Saat mereka masih sering double date, bukan karena ingin pamer kebahagiaan, tapi karena kebersamaan kala itu terasa mudah. Duduk berhadapan di kafe kecil, saling bertukar cerita receh, menertawakan hal yang sama dua kali, memesan minuman yang itu-itu saja.

Rara menghela napas. Jarinya turun dari layar, ponsel diletakkan di meja. Ia tak iri, setidaknya ia tak ingin menyebutnya begitu. Lebih tepatnya, ia rindu pada versi dirinya yang dulu yang tidak menghitung jarak, tidak menimbang waktu, tidak menyimpan kata-kata yang seharusnya diucapkan.

Di luar jendela, malam berjalan seperti biasa. Di dalam dirinya, kenangan itu singgah sebentar seperti tamu yang tahu diri. Datang, menyapa, lalu pergi. Rara tersenyum tipis, bukan pada foto itu, melainkan pada ingatan yang pernah hangat dan kini cukup ia simpan, tanpa perlu dihidupkan kembali.

 Rara tersenyum tipis, bukan pada foto itu, melainkan pada ingatan yang pernah hangat dan kini cukup ia simpan, tanpa perlu dihidupkan kembali

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gunawan melihat postingan itu tanpa sengaja. Awalnya hanya lewat, sebuah foto panggung yang ramai, warna-warni, tawa yang terasa sampai ke layar. Nama akun itu membuatnya berhenti. Ia memperbesar gambar, menelusuri wajah-wajah yang dulu begitu akrab. Ada Rara di sana. Berbeda, tapi tetap Rara yang ia kenal berdiri di tengah keramaian, percaya diri, bercahaya dengan caranya sendiri.

Ia membaca caption. Lalu komentar-komentar. Dan di antara ratusan nama, matanya tertahan pada satu baris singkat terlalu singkat untuk maknanya yang berat.

dRara: Terimakasih kalian ❤️

Jantung Gunawan berdenyut sedikit lebih keras.

Bukan karena cemburu. Bukan juga karena harap. Lebih seperti sebuah sentuhan halus di ingatan bahwa Rara baik-baik saja, dikelilingi orang-orang yang mencintainya, dan masih menuliskan terima kasih dengan hati yang utuh.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang