Part 58

34 1 0
                                        

Satu semester di kelas XII berlalu tanpa terasa. Kesibukan, tawa, konflik kecil, dan perubahan perasaan terlewati begitu saja, hingga akhirnya mereka dihadapkan pada satu hal yang tak bisa dihindari yaitu memilih arah masa depan.

Di antara mereka, Gunawan menjadi yang pertama mendapat kepastian. Sebuah surat resmi, beasiswa di salah satu universitas negeri di Bandung. Ini ia dapatkan karena mendapatkan juara Olimpiade. Prestasi yang seharusnya disambut dengan bangga.

Namun kebahagiaan itu tidak sepenuhnya utuh. Gunawan menatap lembar pengumuman itu berulang kali. Nama universitasnya tertera jelas, begitu pula jurusan yang ditawarkan. Bukan jurusan yang ia impikan sejak lama. Bukan bidang yang selama ini ia bayangkan akan ia tekuni.

Aku harusnya senang "katanya, suaranya pelan tapi berat, "Tapi kenapa rasanya kayak... aku lagi milih jalan yang bukan aku."

Di sisi lain, Rara justru berdiri dengan keyakinan yang tidak goyah. Sejak awal, tujuannya jelas—farmasi. Bukan karena ikut-ikutan, bukan pula karena gengsi. Ia tahu apa yang ia mau, tahu betul ke mana ia ingin melangkah, meski jalannya mungkin tidak semudah milik Gunawan.

Aku gak mau nyesel cuma karena takut gagal "ujar Rara mantap. "Kalau nanti capek, itu urusanku. Tapi jurusan ini yang aku mau."

Rara sudah melalui diskusi panjang dengan kedua orangtuanya tentang ini. Papanya yang memang profesinya sebagai dokter, sangat mendukung apa yang menjadi pilihan Rara.

Sore itu, suasana di antara mereka terasa lebih tenang dari biasanya. Tidak ada canda berlebihan, tidak ada topik yang berputar-putar. Hanya dua orang yang sama-sama sedang menimbang masa depan.

Gunawan membuka pembicaraan lebih dulu. "Yank... sebenarnya aku dulu juga kepikiran farmasi."

Rara menoleh, agak terkejut. "Serius?"

Iya "Gunawan tersenyum tipis. "Tapi kakakku malah nyaranin keperawatan anestesi. Katanya peluangnya besar, peminatnya masih dikit waktu itu. Aman, jelas jalurnya."

Rara bisa mendengar konflik di nada suaranya. "Tapi itu bukan yang kamu mau?"

Gunawan menggeleng pelan. Ia menatap ke depan, seolah melihat versi dirinya di masa depan.
"Aku punya mimpi lain. Aku pengen jadi sarjana IT. Bikin program sendiri. Bukan cuma pakai punya orang lain, tapi menciptakan."

Ada jeda singkat. Rara tersenyum kecil penuh pengertian. "Kamu selalu kelihatan hidup kalau ngomongin itu "katanya pelan. "Matamu beda."

Gunawan terkekeh lirih. "Masalahnya... beasiswa ini gak ke arah sana."

Beasiswa itu kesempatan "jawab Rara mantap. "Tapi mimpi kamu juga penting. Kamu bukan orang yang bisa bertahan lama di hal yang gak kamu cintai."

Gunawan menoleh ke arahnya. "Kalau aku nekat ambil IT, sementara jalannya lebih berat?"

Berat bukan berarti salah "Rara menjawab tanpa ragu. "Aku aja keukeuh farmasi, padahal mama papa sempet nawarin di kedokteran."

Gunawan terdiam mendengarnya. Ada kagum, ada iri kecil yang tak ia akui. Rara tahu apa yang ia perjuangkan, sementara dirinya terjebak di antara rasa syukur dan keinginan yang tertunda.

Gunawan menghela napas panjang. "Aku takut nyesel."

Semua pilihan ada potensi nyeselnya "kata Rara lembut. "Bedanya, kamu mau nyesel karena mencoba, atau nyesel karena gak pernah berani?"

Gunawan tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya sejak surat itu datang, dadanya terasa sedikit lebih ringan. Di antara mereka, tidak ada paksaan. Hanya dua mimpi yang saling menghormati dan sebuah keyakinan pelan bahwa masa depan tidak harus sama, asal dijalani dengan jujur pada diri sendiri.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang