Siang itu suasana perpustakaan cukup lengang. Hanya ada suara kipas angin dan lembar-lembar buku yang disentuh pelan. Guru fisika baru saja mengumumkan pembagian kelompok belajar untuk persiapan ujian akhir, dan nasib berkata Rara dan Aulia harus satu kelompok. Begitu daftar itu keluar, reaksi mereka hanya sama-sama membeku.
Putri langsung berbisik di telinga Rara, "Udah ini kesempatan bagus."
Setelah pembagian kelompok belajar diumumkan, suasana kelas sedikit riuh. Semua sibuk membahas partner masing-masing. Tapi ada dua orang yang langsung saling pandang dengan ekspresi oh no : Gunawan dan Putri.
Mereka berdua tahu betul hubungan Rara dan Aulia beberapa minggu terakhir agak tegang.
Dan sekarang mereka dipaksa satu kelompok?
Putri mencolek lengan Gunawan pelan. "Gun, kamu lihat kelompok Rara?"
Gunawan mengangguk lemah. "Iya."
Dia menarik napas panjang, jelas cemas. "Semoga semuanya baik-baik aja Put."
Putri bersedekap dan menghela napas dramatis. "Perasaan aku nggak enak. Mereka itu kalau lagi baik, ya super baik. Tapi kalau lagi dingin?" Dia memperagakan bahunya bergetar. "Kayak kulkas. Tapi mereka bisa kayak dulu lagi kalau salah satu nurunin gengsinya duluan."
Gunawan teringat Rara yang belakangan lebih lembut dan mulai terbuka lagi. "Mudah-mudahan, tapi aku yakin Rara bisa bersikap lebih dewasa dari Aulia."
Putri hanya tersenyum miring. "Aulia itu sebenarnya baik, cuma emosinya suka jalan duluan sebelum otaknya."
Gunawan menunduk, lalu mengetuk meja dengan jari kebiasaan kalau dia sedang cemas. "Kalau mereka berantem di tengah belajar, gimana? Apa aku harus"
Putri langsung memotong dengan tegas, "Jangan ikut campur." Terlihat jelas dia sedang menahan tawa. "Soalnya kalo kamu ikut, malah makin canggung. Lagian, momen kayak gitu biar mereka selesain sendiri." Putri mencondongkan badan, suaranya pelan tapi yakin. "Percaya deh, mereka itu sebenarnya kangen satu sama lain."
Gunawan terkesiap sedikit. "...Iya juga."
Kita doain aja yang terbaik "tambah Putri sambil menghela napas. "Kalau mereka berhasil berbaikan, kita juga tenang."
Gunawan tersenyum kecil, meski jelas masih khawatir.
Gunawan dan Putri memang berada di kelompok yang sama. Mereka mencoba fokus belajar, meski mata Gunawan beberapa kali melirik ke arah kelompok Rara. Seolah memastikan dari jauh bahwa dua orang tersebut sedang baik-baik saja.
Di perpustakaan, Aulia sudah duduk duluan, lengkap dengan buku dan stabilo warna-warni yang terlalu estetik untuk dipakai belajar.
Rara datang pelan, jantungnya sedikit berdegup. "Boleh aku... duduk sini?" tanyanya lirih.
Aulia terkejut, tapi mengangguk. "Iya, duduk aja."
Beberapa detik awal itu canggung sekali. Rasanya kayak dua orang yang dulu dekat, lalu menjauh, tapi masih saling ingat apa yang pernah terjadi. Teman-teman yang lain mengerti keadaan mereka.
Aulia akhirnya menarik napas. "Ra, sebelum mulai, boleh aku ngomong sesuatu?"
Rara mengangkat wajah. "Iya."
Teman-teman satu kelompoknya seolah mengerti, mereka memberi ruang untuk Rara dan Aulia.
Aulia merapikan anak rambutnya, tampak ragu. "Aku minta maaf, ya. Karena sikap aku yang kemarin-kemarin. Aku sadar aku kadang suka kebawa emosi. Dan—"
Rara langsung menggeleng, cepat. "Nggak, Aul. Aku juga salah. Aku juga banyak diem dan menghindar. Aku bukan nggak mau ngomong sama kamu. Cuma aku bingung."
Aulia tersenyum kecil, miris tapi lega. "Jadi kita sama-sama bingung, ya?"
Rara tertawa kecil. "Kayaknya."
Keheningan yang satu ini terasa jauh lebih ringan.
Perlahan, Aulia membuka buku tugas di hadapan mereka. "Ya udah, kita mulai belajar? Kalau enggak Pak Dadang bisa berubah jadi Thanos."
Rara ikut tertawa. "Bener juga."
Mereka mulai berdiskusi dan yang mengejutkan, suasananya mengalir lancar. Mereka kembali saling menimpali jawaban, bercanda kecil, dan saling membantu tanpa canggung. Beberapa kali bahkan tertawa bersama, sesuatu yang sudah lama hilang. Teman-teman yang lain pun ikut senang melihatnya.
Pada satu momen, Aulia menatap Rara sambil tersenyum. "Ra, aku seneng kita bisa kayak gini lagi."
Rara menahan senyum, mata sedikit berkaca. "Aku juga, Aul. Aku kangen sebenarnya."
Aulia menutup buku sambil mendesah dramatis. "Ya ampun, ternyata rindu itu beneran nyata ya."
Rara memukul lengan Aulia pelan. "Ih lebay." Tapi keduanya tertawa.
Dan hari itu, di ujung meja perpustakaan yang sunyi, Rara dan Aulia akhirnya kembali menemukan ritme mereka, tenang, akrab, dan jujur. Tidak ada dendam, tidak ada jarak, hanya pertemanan yang diberi kesempatan kedua.
Gunawan dan Rara berjalan berdampingan menuju keluar kelas.
Gimana tadi diskusinya, aman? "tanya Gunawan akhirnya, mencoba membuka percakapan.
Aman "jawab Rara singkat, tapi wajahnya tenang. "Aku sama Aulia udah gak secanggung itu kok, kita akhirnya bisa melupakan kejadian yang lalu. Itu kan maksud pertanyaan kamu?"
Gunawan hanya mengangguk, ada senyum kecil yang muncul tanpa ia sadari. "Syukurlah."
Belum sempat Rara membalas, sebuah suara terdengar dari belakang.
"Ra, Gun!"
Langkah mereka berdua otomatis berhenti. Aulia berlari kecil menghampiri. Begitu sampai, Aulia merapikan rambutnya yang tertiup angin lalu menatap Rara, bukan Gunawan.
Gun hari ini kita pinjem Raranya dulu ya buat kerkom "suaranya terdengar ceria dan seperti menggoda
Gunawan berkedip pelan, terkejut. "Eh? Iya silahkan aja Aul"
Aulia menelan ludah, lalu mengangguk cepat. "Aku dan teman-teman yang lain pikir, kayaknya lebih baik dikerjain sekarang juga deh, soalnya kan lumayan banyak yang harus disiapin" ia melirik ke arah Gunawan sekilas, lalu buru-buruu menoleh lagi ke Rara, "jadi waktu kalian kita ganggu dulu boleh ya"
Gunawan menahan napas. Dia merasa ini momen yang selama ini diam-diam mereka tunggu. Rara, setelah sempat bingung beberapa detik, akhirnya tersenyum tipis. Senyum yang bukan dipaksakan—lebih seperti lega.
Tentu aja boleh, Aul "jawabnya Gunawan. "Belajar bukan gangguan untuk kita."
Aulia tertawa kecil, senyum yang masih malu-malu tetapi hangat. "Makasih. Aku sama yang lain tunggu di parkiran ya. Rara diantar kamu kan?"
Gunawan hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah itu, Aulia pamit dan berlari kecil kembali ke arah gerbang, meninggalkan Rara dan Gunawan yang masih berdiri di tempat.
Gunawan menatap Rara, senyum merekah pelan. "Kamu hebat."
Rara mengangkat bahu, berusaha terlihat santai. "Aulia juga hebat. Aku cuma nggak mau ribut terus. Capek." Rara tertawa pendek. "Jangan terlalu khawatir sama aku. Lihat aja—aku baik-baik saja kok."
Gunawan tidak menjawab. Ia hanya menatap Rara beberapa detik terlalu lama, lalu menunduk cepat. "Iya aku lihat."
Dan mereka kembali berjalan berdampingan menuju rumah, sementara di belakang mereka, teman-teman sekelompok Rara mengikuti dan langit perlahan berubah warna seperti suasana yang perlahan ikut membaik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetap Menunggu
RomanceJodoh memang rahasia Tuhan. Tapi Tuhan juga mengharuskan kita untuk berikhtiar dan menjemput jodoh itu. Berdoa adalah satu-satunya cara untuk merayu Tuhan agar jodoh itu datang.
