Part 96

12 3 0
                                        

Rumah itu akhirnya benar-benar hampir selesai. Cat sudah kering, perabot mulai berdatangan, dan suara tukang yang dulu ramai kini tinggal sesekali saja terdengar.

Di ruang tengah yang masih setengah berantakan, Rara duduk bersila dengan laptop di depannya. Excel terbuka, penuh dengan daftar vendor, tanggal, dan angka-angka yang mulai membuat kepalanya pening.

"Gun..." panggilnya pelan.

Gunawan yang sedang mengecek ukuran gorden dari sudut ruangan menoleh. "Hmm?"

Rara menghela napas. "Biaya catering naik lagi."

Gunawan berhenti sejenak. "Naik berapa?"

Rara memutar laptopnya. "Hampir 15% dari deal awal. Katanya karena jumlah tamu kita nambah."

Gunawan mengusap tengkuknya. "Kita juga yang nambah tamu sih..."

Rara langsung menatapnya. "Kamu yang nambah. Aku cuma bilang keluarga inti."

Gunawan tersenyum kecut. "Aku gak enak kalau gak ngundang tim manajemen kantor."

"Terus aku harus ngurangin dari mana?" suara Rara mulai meninggi sedikit, tapi bukan marah lebih ke lelah.

Gunawan berjalan mendekat, lalu duduk di depan Rara. "Kita cari jalan tengah ya... bukan saling nyalahin."

Rara menunduk. "Aku capek, Gun. Rasanya semua keputusan jadi sensitif banget."

Gunawan mengangguk pelan. "Aku juga. Tapi... ini capek yang kita pilih, kan?" Kalimat itu bikin Rara diam. Lalu tanpa sadar, sudut bibirnya naik sedikit.

Siang menjelang, Meli datang dengan membawa dua tas besar. Sekarang rumah itu menjadi tempat favorit mereka untuk sekedar beristirahat atau berdiskusi.

Rara melongo. "Itu apa lagi?"

Meli santai. "Dekorasi DIY. Biar hemat. Kalian kebanyakan overbudget."

Gunawan tertawa. "Ini kenapa jadi kamu yang panik soal budget?"

Meli menunjuk mereka berdua. "Karena kalian kalau udah berdua suka lupa realita."

Rara dan Gunawan saling pandang lalu tertawa.

Meli duduk dengan santai di samping Rara. "Ingat ya, sekarang Aa tuh orang penting. Gak bisa diam-diam tanpa sepengetahuan orang kantor apalagi tim manajemen."

Gunawan yang tadi masih santai langsung mengangkat alis. "Orang penting dari mana lagi ini?"

Meli menoleh cepat. "Loh, Head of IT Governance, halo? Itu bukan jabatan yang bisa tiba-tiba cuti seminggu terus hilang kabar ya."

Rara ikut menatap Gunawan, kali ini bukan bercanda. "Iya, Gun... aku juga kepikiran itu."

Gunawan menghela napas pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa. "Aku udah ajuin cuti kok. Udah di-approve."

Meli menyipitkan mata. "Berapa hari?"

"Lima hari."

Meli langsung geleng-geleng. "Kurang."

Gunawan menatap mereka berdua bergantian. "Kalau terlalu lama juga gak enak. Tim lagi banyak kerjaan. Lagi ada audit juga."

Meli cepat menyahut, "Nah itu dia. Justru karena ada audit, semua harus jelas dari awal. Jangan setengah-setengah. Nanti kamu kepikiran kerjaan pas hari nikah."

Kalimat itu bikin Gunawan diam.

Rara pelan-pelan menutup laptopnya. "Aku gak mau kamu lagi akad tapi pikiran kamu masih di kantor..."

Gunawan menunduk, mengusap wajahnya sebentar. "Aku cuma... gak mau kelihatan gak profesional."

Meli langsung menepuk bahunya. "Profesional itu bukan berarti kamu gak punya hidup pribadi, A."

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang