Part 43

32 5 0
                                        

Ruang kelas tempat seleksi terasa lebih sunyi dari biasanya. Hanya ada bunyi kipas angin yang berputar dan beberapa peserta yang masih membuka-buka catatan. Rara duduk di depan, Gunawan duduk di bangku sebelah Rara. Gunawan dan Rara akan mengikuti seleksi Olimpiade Matematika.

Udah siap? "tanya Gunawan sambil menyandarkan punggung, mencoba terlihat santai agar Rara tidak ikut tegang

Rara tersenyum kecil. "Nggak tahu. Deg-degan banget."

Gunawan menunduk sedikit, mendekat tanpa menyentuh. "Tenang ya, berdoa aja semoga ngisi soalnya lancar"

Rara mengangguk. Beberapa peserta lain masuk, termasuk Rani yang sempat melirik ke mereka berdua, tapi Rara dan Gunawan tidak menggubris. Pak Memet masuk dengan membawa lembar soal yang harus dikerjakan oleh semua peserta. Waktu yang diberikan adalah 90 menit untuk 60 soal. 

Rara keluar kelas sambil menghela napas panjang. Gunawan sudah menunggunya di depan, kedua tangan masuk ke kantong. Gunawan selesai lebih dulu dibanding yang lain.

Gimana? "tanya Gunawan 

Rara menggeleng, wajah sedikit lelah. "Ada beberapa yang susah. Kamu?"

Sama "jawab Gunawan cepat

Ah aku gak percaya. Lagian kenapa aku harus tanya, udah pasti kamu lancar banget ngerjain semua soal "Rara meninggalkan Gunawan yang masih bertengger di dinding

Gunawan tertawa kecil, lalu segera menyamai langkah Rara "Tapi beneran. Makasih ya. Aku seneng bisa ngerasain ini bareng kamu."

Rara tersenyum. "Harusnya aku yang bilang makasih, kamu udah banyak bantu aku"

Gunawan tersenyum. Gunawan berharap mereka bisa sama-sama menjadi perwakilan sekolah untuk olimpiade ini.

Dua hari setelah seleksi, suasana sekolah terasa lebih tegang dari biasanya. Banyak siswa kelas XI tampak bolak-balik membuka grup WA kelas, menunggu pengumuman Olimpiade.

Ketika jam istirahat kedua, grup kelas akhirnya berbunyi. Notifikasi bertubi-tubi muncul. Rara yang sedang membuka botol minum tertegun. Rara membuka pesan matanya menyapu daftar itu lalu berhenti. Nama Gunawan ada tapi namanya tidak ada. Rara mengembuskan napas lega. Gunawan yang berada disampingnya merasa aneh, ekspresi Rara terlihat aneh memang.

Kamu kok kayak lega? "Gunawan menatap Rara sendu. Bukan hanya Gunawan yang menantikan jawaban Rara, tapi sahabat-sahabatnya juga sama

Rara mengangguk beberapa kali, wajahnya langsung cerah "Iya. Jujur aku memang gak berharap lolos seleksi"

Gunawan terdiam. Ekspresinya runtuh pelan "Serius? Kayaknya kamu ngerjainnya bagus deh kemarin." Rara hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum lagi, tapi Gunawan tidak puas dengan itu.

Putri mendekat cepat ke Rara "Ra, kenapa?" Rara hanya mengangkat bahu. Semuanya terdiam, mereka berpikir seperti ada yang Rara sembunyikan.

Jam pulang sekolah akhirnya datang, beruntungnya hari ini Gunawan tidak ada kegiatan apapun, jadi ia bisa mengantar Rara pulang.

Sampai di rumah Rara, Gunawan sengaja memarkirkan motornya di halaman dan mendahului Rara menduduki kursi taman. Rara paham, Gunawan pasti ingin bicara dengannya.

Gunawan duduk tapi tidak mengatakan apa-apa dulu. Hanya menunggu sampai Rara mau bicara. Rara berdiri beberapa langkah dari kursi taman, ada hening mengambang di antara mereka. 

Rara menarik napas, akhirnya Rara bicara. "Seleksi kemarin tuh berat, bukan karena materinya. Tapi karena aku ngerasa gak mau ada tekanan lagi. Dari orang-orang. Dari situasi di kelas. Dari Aulia. Dari semuanya."

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang