Jodoh memang rahasia Tuhan. Tapi Tuhan juga mengharuskan kita untuk berikhtiar dan menjemput jodoh itu. Berdoa adalah satu-satunya cara untuk merayu Tuhan agar jodoh itu datang.
Hari-hari setelah perpisahan sekolah terasa ganjil. Tidak ada jadwal tetap. Tidak ada alasan alami untuk bertemu. Rara dan Gunawan kini bertemu lewat layar itu pun tidak sering.
Pagi Rara dimulai dengan membuka email. Mengecek portal pendaftaran. Menunggu satu kalimat yang bisa mengubah hidupnya. Gunawan menghabiskan waktunya di kamar, dikelilingi buku dan kertas coretan. Try out demi try out. Nilai yang naik turun seperti perasaannya.
Suatu sore, hasil pertama datang. Rara duduk di meja makan, laptop terbuka. Tangannya gemetar saat membuka pengumuman.
Lulus Seleksi.
Ia menutup mulutnya cepat, menahan isak. Bukan hanya senang—tapi juga takut. Pesan pertama yang ia kirim tetap ke Gunawan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gunawan menatap layar dengan mata panas. Iya menyesali apa yang sudah ia ketik. Kalimat itu sensitif, sangat. Gunawan mencoba menghubungi Rara, hasilnya nihil. Beberapa chat ia kirimkan untuk meminta maaf, tapi idak ada balasan sampai malam berlalu.
Rara mulai sibuk mengurus daftar ulang, ia juga sedikit melupakan masalahnya dengan Gunawan, Bukan menghindar, tapi ia harus mempersiapkan diri untuk hal-hal yang lebih penting saat ini.
Ditengah kesibukannya, Gunawan akhirnya memutuskan untuk menemui Rara di rumahnya. Tidak ada lagi Meli atau Putri yang bisa dimintai tolong menjadi penyambung mereka. Putri dan Meli juga sedang sibuk mempersiapkan masa depannya.
Rara berdiri di ambang pintu. Tidak menghalangi, tapi juga tidak memberi ruang lebih. "Mau apa? "kata Rara pelan.
Gunawan tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi gugup. "Kamu kelihatan capek."
Rara tidak membalas. Ia hanya menyilangkan tangan di dada, menunggu.
Gunawan menelan ludah. "Aku gak lama. Aku cuma mau minta maaf langsung."
Rara memalingkan wajah sebentar, lalu membuka pintu lebih lebar. "Masuk."
Ruang tamu terasa asing bagi Gunawan, padahal dulu sering ia datangi. Sekarang semuanya terasa lebih formal. Lebih sunyi. Mereka duduk berhadapan. Ada jarak di antara mereka bukan karena sofa, tapi karena kata-kata yang belum selesai.
Aku tahu aku salah "Gunawan membuka suara lebih dulu. "Kalimat itu... sensitif. Aku ngetik pas capek, dan aku gak mikir panjang."
Rara menunduk, jemarinya saling menggenggam. "Aku baca semua chat kamu."
Gunawan mengangkat kepala. "Tapi kamu gak bales."
Aku gak marah "kata Rara jujur. "Aku cuma harus fokus sama yang sedang aku hadapi sekarang."
Kalimat itu sederhana. Tapi Gunawan merasa dadanya diremas. "Aku takut kehilangan kamu," katanya lirih. "Makanya aku ngomong hal-hal yang seharusnya gak aku ucapin."
Rara menghela napas panjang. "Aku juga takut. Tapi aku gak bisa terus berhenti setiap kali rasa takut itu datang."
Gunawan mengangguk pelan. "Aku ngerti. Aku cuma pengen kamu tahu, aku gak pernah merasa terbebani sama harapan kamu, karena harapan kita sama, sayang."