Part 90

14 2 0
                                        

Udara sore itu terasa hangat, membalut perjalanan Gunawan dan Rara menuju rumah orang tua Rara. Jantung Gunawan berdebar penuh harap, hari ini ia berniat mengutarakan keseriusannya pada kedua orang tua Rara. Rara menggenggam tangannya erat, senyum tipis tersungging di bibirnya, memancarkan kebahagiaan yang sama. Lima tahun berpisah, lalu kembali bertemu dan memutuskan untuk bersatu, rasanya seperti takdir yang manis.

Saat mereka tiba di teras, samar-samar terdengar suara percakapan dari dalam ruang tamu. Gunawan dan Rara saling pandang, sedikit bingung. Siapa tamu yang datang sore-sore begini?

"Assalamualaikum, Pa, Ma," sapa Rara begitu mereka melangkah masuk.

Suasana di ruang tamu mendadak hening. Di sofa, duduklah Papa dan Mama Rara, dan di hadapan mereka, seorang pria yang langsung membuat Rara mematung. Firman. Kakak kelasnya dulu. Pria yang pernah berjanji akan kembali setelah sukses, dan kini ia ada di sana, di ruang tamu orang tuanya.

Firman tersenyum tipis, pandangannya beralih dari orang tua Rara ke Rara, lalu sejenak melirik Gunawan yang berdiri di samping Rara. Ada kerlingan aneh di matanya, sulit diartikan.

"Oh, Rara, Gunawan," Papa Rara membuka suara, sedikit canggung. "Kalian sudah datang."

"Iya, Pa. Ada apa ini?" Rara bertanya, suaranya terdengar sedikit tercekat. Firasatnya mendadak tidak enak.

Tepat saat itu, Firman berdeham, lalu menatap orang tua Rara dengan serius. "Om, Tante... Seperti yang sudah saya sampaikan tadi, saya datang ke sini untuk melamar Rara."

Deg! Kata-kata itu menghantam Gunawan dan Rara seperti palu godam. Mata Rara membelalak tak percaya, sementara Gunawan merasakan darahnya mendidih. Lamaran? Tanpa sepengetahuannya? Dan di saat Gunawan sendiri berencana melakukan hal yang sama?

"Saya sudah menepati janji saya, Om. Saya sudah sukses, dan sekarang saya siap untuk membawa Rara hidup bahagia bersama saya," lanjut Firman, dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan, seolah Gunawan dan Rara hanyalah figuran dalam dramanya.

Gunawan mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Ia melirik Rara, yang kini terlihat pucat pasi, menatap Firman dengan ekspresi campur aduk antara kaget, marah, dan... sedikit bersalah? 

Sebelum orang tua Rara sempat bereaksi, Gunawan mengambil langkah maju, memisahkan diri dari Rara. Ia memaksakan seulas senyum di wajahnya, meski matanya memancarkan kekecewaan yang dalam.

"Om, Tante..." Gunawan memulai, suaranya sedikit serak tapi ia berusaha keras terdengar tenang. "Maaf, sepertinya saya datang di waktu yang kurang tepat."

Papa Rara terlihat bingung, Mama Rara hanya bisa menatap Gunawan dengan cemas. Firman hanya mengangkat sebelah alisnya, ekspresi datar.

"Saya permisi ya," Gunawan melanjutkan, menghindari tatapan Rara. "Rara, maaf, saya harus pergi sekarang."

Rara spontan ingin menahan, "Gunawan, tunggu! Kamu mau kemana?"

Tapi Gunawan hanya menggeleng pelan. "Saya harus pergi." Dia menoleh lagi pada orang tua Rara, membungkuk sedikit. "Saya pamit dulu ya, Om, Tante. Assalamualaikum."

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Gunawan berbalik. Langkahnya cepat menuju pintu depan, meninggalkan Rara yang terpaku, orang tuanya yang serba salah, dan Firman yang entah kenapa, justru tersenyum tipis. Pintu tertutup di belakang Gunawan, menyisakan keheningan yang menyesakkan di ruang tamu itu.

Firman kembali berbicara santai, seolah tidak ada apa-apa yang barusan terjadi. "Saya tahu ini mendadak," katanya kepada orang tua Rara. "Tapi saya tidak ingin kehilangan kesempatan lagi."

Rara menoleh tajam padanya. "Kesempatan apa?"

Firman tersenyum kecil. "Kesempatan memperjuangkan kamu."

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang