Part 67

25 3 0
                                        

Hari-hari menjelang wisuda berjalan dengan ritme yang berbeda bagi Rara dan Gunawan yang terpisah jarak, tapi disatukan oleh tanggal yang sama.

Rara sibuk dengan hal-hal kecil yang terasa besar. Ia bolak-balik ke penjahit, memastikan kebaya itu pas di bahu dan tidak terlalu panjang di langkah. Mamanya membantu memilih bros, sambil sesekali berkomentar soal warna yang "bikin wajahmu lebih tenang." Di sela-sela itu, Rara mengecek undangan, dan menyimpan toga dengan hati-hati. Malam hari, ia duduk sendiri di kamar, menatap sepatu yang sudah dipoles. Ada harap yang rapi disembunyikan: siapa tahu ada satu nama yang datang tanpa perlu diundang.

Sementara itu, Gunawan menyiapkan diri dengan cara yang lebih sunyi. Ia sudah memutuskan untuk menepati janjinya. Gunawan memastikan jasnya masih layak, menyetrika kemeja, dan mengecek rute perjalanan jam berangkat, kemungkinan macet, tempat parkir. Ia berlatih kalimat singkat di kepala: "Selamat ya, Ra." Tidak lebih. Tidak kurang. Ia ingin hadir tanpa mengganggu, menepati janji tanpa membuka luka.

Di waktu yang hampir bersamaan, mereka sama-sama berhenti sejenak. Rara menutup koper kecilnya. Gunawan mengunci pintu kamar. Dua persiapan yang berbeda, satu momen yang sama. Dan di antara toga, kebaya, jas, dan sepatu yang dipoles, ada satu hal yang tak mereka ucapkan, harapan agar hari itu berjalan baik, apa pun bentuk pertemuannya nanti.

Aula wisuda itu ramai oleh wajah-wajah bahagia dan kilatan kamera. Di antara kerumunan, Gunawan melangkah masuk bersama Meli. Gunawan memilih memakai kemeja sopan, tidak jadi menggunakan jasnya, langkahnya tertahan bukan karena ragu, tapi karena ia ingin memastikan kehadirannya tepat, cukup dekat untuk terlihat, cukup jauh untuk tidak mengusik.

"Tenang aja," bisik Meli. Gunawan mengangguk.

Dari kejauhan, ia melihat Rara melangkah mantap dengan toga yang pas, senyum yang sederhana, dan mata yang berkilat. Sesaat, pandangan mereka bertemu. Hanya sepersekian detik. Rara sedikit terkejut. Senyumnya bertahan, lalu menguat. Ada lega yang tak perlu dijelaskan.

Meli menepuk lengan Gunawan. "Ayok kita samperin."

Gunawan mendekat ketika Rara selesai berfoto dengan keluarganya. Ia menunggu jeda yang tepat, lalu berkata singkat, "Selamat ya, Ra. Kamu keren."

Rara menatapnya hangat, dewasa. "Makasih, Gun. Aku senang kamu datang."

Tak ada pelukan panjang. Tak ada tanya yang memberatkan. Hanya senyum yang saling mengerti, dan satu janji lama yang hari itu akhirnya ditepati.

Meli memotret dari kejauhan, lalu tersenyum kecil. Ia tak mau mengganggu moment keduanya, walaupun sudah pasti banyak kecanggungan yang tercipta.

Gunawan berdiri agak canggung di hadapan kedua orang tua Rara. Di tangannya, ia menautkan jari, mencoba menenangkan diri. Rara baru saja dipanggil teman-temannya untuk berfoto bersama.

"Om... Tante," sapa Gunawan sopan, menunduk sedikit.

Mama Rara tersenyum hangat, senyum yang tak banyak berubah sejak dulu. "Gunawan. Terima kasih sudah datang."

"Iya, Tante," jawabnya pelan. "Saya... mau mengucapkan selamat atas wisuda Rara. Terima kasih juga sudah mengizinkan saya hadir."

Papa Rara mengangguk, menatapnya dengan tenang. "Kamu masih ingat janji itu, ya."

Gunawan terkejut kecil, lalu mengangguk mantap. "Iya, Om. Saya ingat. Itu janji yang baik, dan saya ingin menepatinya."

Mama Rara menepuk punggung tangan Gunawan pelan dan berbisik. "Rara senang. Tadi kelihatan dari matanya."

Gunawan tersenyum tipis. "Alhamdulillah."

Disela obrolan itu, Gunawan memperhatikan Rara dan teman-temannya. Gunawan menyadari ada seorang teman lelaki Rara yang kelihatan sedang mendekat. Seorang laki-laki, tinggi, mengenakan kemeja biru muda. Ia menyapa Rara dengan akrab, terlalu akrab untuk ukuran basa-basi hari kelulusan. Mereka tertawa kecil, lalu berpose berdampingan. Tidak ada yang berlebihan tapi cukup untuk membuat Gunawan menyadarinya.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang