Meli tidak mengetahui kejadian sebenarnya di Bandung, yang ia tahu Rara dan Gunawan datang kesana untuk meminta restu.
"Jadi kapan acaranya?" tanya Meli
Rara yang baru saja duduk di sofa ruang tamu apartemen Meli langsung berhenti membuka tasnya. Gunawan yang berdiri di dekat meja makan juga ikut menoleh.
"Acara... apa?" tanya Rara pelan, memastikan ia tidak salah dengar.
Meli mengerutkan kening sedikit. "Lamarannya." Ia menatap mereka berdua bergantian, lalu tersenyum lebar seolah itu hal yang sangat jelas. "Bukannya kalian ke Bandung buat minta restu? Ya biasanya habis itu kan langsung ditentuin tanggal lamaran."
Rara dan Gunawan saling melirik sebentar. Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat keduanya sama-sama menahan napas.
Meli masih santai. Ia bahkan sudah mengambil bantal lalu memeluknya. "Eh tapi jangan bilang kalian belum ngomongin itu?" katanya lagi. "Aku sama Arga sudah siap loh kalau diminta jadi panitia dadakan."
Gunawan menahan tawa kecil, sementara Rara menutup wajahnya sebentar dengan tangan.
"Meli..." kata Rara akhirnya.
"Iya?"
Gunawan menarik kursi lalu duduk, tangannya disilangkan di meja. "Ceritanya agak... panjang."
Meli langsung menegakkan badan. "Nah ini yang aku suka. Cerita panjang biasanya seru."
Rara menatapnya tidak percaya. "Ini bukan gosip, Mel."
"Iya iya, tapi tetap cerita."
Gunawan melirik Rara sebentar, seperti memberi isyarat kamu duluan atau aku?
Rara menghela napas kecil. "Firman datang ke rumah Papa," katanya akhirnya.
Meli mengernyit. "Firman kakak tingkat kamu itu? Datang... buat apa?"
"Melamar."
Bantal yang tadi dipeluk Meli hampir jatuh dari tangannya. "HAH?"
Rara mengangguk kecil. "Dan Papa sempat kaget. Semua orang juga."
Meli menatap mereka berdua bergantian, otaknya jelas sedang berusaha mengejar informasi yang baru saja ia dengar. "Tunggu... tunggu..." katanya sambil mengangkat tangan. "Jadi kalian ke Bandung bukan buat minta restu..."
Gunawan menggeleng pelan. "Niatnya memang itu Neng."
Rara mengangguk lagi.
Lalu Meli menoleh sangat pelan ke arah Gunawan. "Dan kamu masih hidup sampai sekarang?" tanyanya serius.
Gunawan tertawa pendek. "Syukurlah masih."
Meli langsung berdiri dari sofa. "Ya ampun! Kalian pulang dengan wajah santai begini seolah cuma habis liburan!"
Rara ikut tertawa kecil meski sedikit canggung. "Masalahnya sudah selesai, Mel."
Meli menatapnya tajam. "Selesai gimana?"
Rara menoleh ke Gunawan sebentar sebelum menjawab. Lalu ia menceritakan kejadian sebenarnya.
Mata Meli langsung membesar. "Serius?"
Gunawan mengangguk.
Meli menatap mereka beberapa detik, lalu tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya lagi ke sofa sambil menghela napas panjang. "Ya Allah... aku ketinggalan episode penting banget."
Gunawan terkekeh.
Meli menutup wajahnya dengan bantal sebentar, lalu kembali menatap mereka. "Tapi jujur ya," katanya sambil menunjuk mereka berdua. "Kalian gak ada niatan buat batalin kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetap Menunggu
RomanceJodoh memang rahasia Tuhan. Tapi Tuhan juga mengharuskan kita untuk berikhtiar dan menjemput jodoh itu. Berdoa adalah satu-satunya cara untuk merayu Tuhan agar jodoh itu datang.
