Part 75

29 2 0
                                        

Sesi seminar resmi ditutup dengan tepuk tangan panjang. Lampu aula perlahan diredupkan, panitia mulai membereskan peralatan, dan satu per satu peserta reuni beranjak pulang membawa cerita masing-masing.

Rara menghela napas lega. "Alhamdulillah ya, beres juga," katanya sambil tersenyum ke Meli.

Meli tertawa kecil. "Beres, dan kamu sukses bikin satu aula mikir ulang soal hidup sehat."

Mereka lalu menyusul Aulia dan Putri yang sudah menunggu di area stand makanan. Suasana di luar jauh lebih santai. Aroma sate, kopi, dan gorengan bercampur jadi satu, mengalahkan wangi karpet aula yang sejak pagi menemani.

Aulia melirik Putri, lalu mengangguk kecil, kode yang langsung dipahami tanpa perlu kata. Mereka berdiri dari bangku panjang di dekat stand kopi, membawa gelas masing-masing.

"Eh," Aulia menyapa ringan, senyumnya lebar, seolah tak ada jarak waktu bertahun-tahun. "Kalian belum makan, kan? Gabung aja sama kita."

Ridwan sempat menoleh ke Faul, lalu ke Gunawan. Ada jeda sepersekian detik, cukup untuk menimbang rasa canggung yang belum sepenuhnya hilang.

"Boleh?" tanya Faul, setengah bercanda. "Asal nggak ngerepotin."

"Ngerepotin apaan," sahut Putri cepat. "Ini reuni, bukan rapat dinas."

Gunawan tersenyum kecil, sopan seperti biasa. "Kalau nggak keberatan," katanya pelan.

"Justru kalau nggak gabung, baru keberatan," Aulia menimpali sambil tertawa.

Gunawan menghela napas pendek. "Gue mau minta satu hal," katanya pelan, nadanya serius tapi nggak kaku.

Ridwan langsung menoleh. "Kenapa?"

"Kalau nanti ketemu Rara" Gunawan berhenti sebentar, memilih kata. "Tolong jangan bahas apa pun soal masa lalu gue sama dia."

Faul mengangguk pelan, ekspresinya berubah lebih tenang. "Maksud lo... yang dulu-dulu?"

Gunawan mengiyakan. "Iya. Udah lewat. Dia datang hari ini sebagai pembicara, sebagai dirinya yang sekarang. Gue nggak mau ada obrolan yang bikin dia nggak nyaman."

Ridwan menepuk bahu Gunawan sekali, singkat tapi mantap. "Tenang. Kita paham."

"Serius," tambah Gunawan, suaranya sedikit lebih rendah. "Bukan karena masih apa-apa. Justru karena gue hormat. Sama dia, sama prosesnya."

Putri tersenyum tipis. "Lo berubah, Gun."

Gunawan mendengus kecil. "Atau akhirnya dewasa."

Ridwan tertawa pendek. "Oke. Catet. Hari ini nggak ada nostalgia berlebihan, nggak ada cerita lama. Fokus sekarang."

Gunawan mengangguk. "Makasih."

Mereka pun berjalan bersama menuju meja tempat Meli dan Rara duduk. 

Meli yang pertama menyadari kedatangan mereka, alisnya terangkat tipis, bukan kaget, lebih ke oh, akhirnya.

"Wah, rame," katanya sambil bergeser memberi ruang. "Ayo, duduk."

Rara mendongak. Tatapannya sempat bertemu Gunawan, singkat hampir terlalu singkat untuk disebut pertemuan. Tapi cukup untuk membuat keduanya sama-sama sadar, ada banyak hal yang tak lagi sama, dan entah kenapa, itu terasa baik-baik saja.

"Kirain Aa udah pulang," ujar Meli 

Gunawan langsung mengambil posisi paling ujung, sebelah Meli. "Ngobrol dulu sama mereka," matanya melirik Faul dan Ridwan. Gunawan duduk berseberangan dengan Rara, jarak satu meja, satu piring sate, dan bertahun-tahun cerita di antaranya. Ia menarik napas kecil, lalu berkata, "Acaranya... bagus tadi."

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang