Part 78

15 3 0
                                        

Sore itu langit Jakarta redup lebih cepat dari biasanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sore itu langit Jakarta redup lebih cepat dari biasanya. Awan menggantung rendah, membuat cahaya matahari seperti ragu untuk benar-benar pamit.

Mobil Gunawan berhenti di parkiran, tepat saat jam pulang. Rara sudah melihatnya dari kejauhan, mobil itu terlalu familiar karena baru saja semalam ia melihatnya. Rara menghampirinya, mengetuk jendela mobil.

"Assalamualaikum," katanya pelan saat jendela diturunkan.

"Waalaikumsalam," jawab Gunawan. Ia ingin turun membantu Rara membuka kan pintu, tapi Rara menolaknya dengan alasan agar mempercepat waktu.

Mesin dinyalakan, mobil kembali bergerak menyusuri jalan yang mulai padat. "Capek?" tanya Gunawan

"Biasa," Rara tersenyum tipis. "Kamu kelihatannya yang capek."

Gunawan tidak langsung menjawab. Tangannya mantap di setir, tapi rahangnya sedikit mengeras, tanda ia sedang menahan sesuatu.

"Meli gimana?" tanya Rara akhirnya. Hatinya sudah menebak jawabannya sejak pagi, sejak pesan itu masuk.

Gunawan menghela napas. "Masih demam. Tadi sempat tidur, tapi nggak nyenyak katanya."

Rara mengangguk. "Pantas."

Sunyi sebentar menyela, hanya diisi suara klakson dan radio yang volumenya terlalu kecil untuk benar-benar didengar.

"Aku bawa beberapa obat dan vitamin, mungkin bisa bantu turunin demamnya" kata Rara akhirnya. 

Gunawan mengangguk. "Kayaknya... dia bakal lebih tenang kalau kamu ada."

Kalimat itu membuat Rara terdiam. Ada rasa hangat kecil di dadanya, bukan karena dipercaya, tapi karena sadar betapa rapuhnya Meli sampai butuh lebih dari satu orang untuk sekadar bernapas dengan lega.

Perjalanan terasa lebih singkat dari biasanya. Begitu mobil berhenti di depan rumah, Rara langsung bisa merasakan suasana yang berbeda lebih sunyi, lebih berat.

"Ini rumah kamu?" tanya Rara ragu

Gunawan menggeleng. "Ini rumah Mahira."

Mereka saling pandang sebentar.

"Mereka gak ada, dirumah cuma ada bibi." Gunawan paham apa yang Rara khawatirkan. Rara mengangguk pasrah.

Bibi menyambut mereka dengan senyum lelah. "Meli di kamar," katanya pelan. "Baru bangun, tapi masih lemes."

Rara melepas sepatu, berjalan pelan ke arah kamar. Ia mengetuk dua kali sebelum membuka pintu.

"Mel?" panggilnya lembut.

Di atas ranjang, Meli menoleh. Wajahnya pucat, matanya sedikit bengkak, tapi saat melihat Rara, ekspresinya berubah, bukan jadi cerah, tapi... runtuh.

"Ra..." suaranya serak.

Rara langsung duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Meli yang dingin. "Aku di sini."

Air mata Meli mengalir lagi, tanpa suara, hanya bahu yang bergetar pelan. Rara tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengusap punggung tangan Meli perlahan, ritmenya seperti mengatakan nggak apa-apa, nangis aja.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang