Selama perjalanan ke Jakarta, Gunawan dan Rara banyak diam. Mereka berbicara ketika salah satu merasa haus, lapar atau ingin ke toilet. Selebihnya diisi dengan suara musik pelan yang menemani perjalanan mereka. Isi kepalanya sama-sama penuh sampai tidak tahu harus bicara apalagi.
Tol panjang itu seperti tidak ada ujungnya.
Langit mendung tipis, tidak benar-benar hujan, tapi cukup membuat suasana terasa sendu. Musik mengalun pelan lagu lama yang biasanya mereka nyanyikan bersama. Kali ini tidak ada yang bersuara.
Rara menatap ke luar jendela. Sawah, truk, rest area, semua lewat seperti potongan gambar tanpa makna. Di dalam kepalanya, suara Papa, suara Firman, suara Gunawan bercampur jadi satu.
Gunawan fokus pada jalan. Tangannya mantap di setir, tapi pikirannya tidak setenang itu. Setiap beberapa menit ia melirik Rara, memastikan ia baik-baik saja. Rara sadar, tapi pura-pura tidak. Bukan karena marah. Mereka hanya sama-sama lelah oleh isi kepala masing-masing.
Sekitar dua jam perjalanan, Rara akhirnya memecah sunyi.
"Kamu capek?"
"Enggak," jawab Gunawan singkat. Lalu setelah jeda kecil, "Kamu?"
Rara menggeleng.
Sunyi lagi.
Beberapa kilometer kemudian, Gunawan menurunkan volume musik. Tidak mematikannya hanya mengecilkannya.
"Ra."
"Iya?"
"Aku minta maaf."
"Minta maaf karena apa?"
"Karena bikin kamu harus ikut perjalanan yang rasanya kayak kabur."
Rara tersenyum kecil, tipis sekali. "Aku nggak merasa kabur."
Gunawan meliriknya sekilas.
"Aku merasa kita lagi belajar," lanjut Rara pelan. "Walaupun caranya nggak enak."
Gunawan terdiam.
"Aku tahu kamu pergi kemarin bukan karena mau kalah," kata Rara lagi. "Tapi jujur aja, waktu kamu bilang mau pulang aku ngerasa sendirian."
Tangan Gunawan mengerat di setir. "Aku takut kalau aku tetap di sana, aku ngomong sesuatu yang salah," katanya pelan. "Aku lagi berisik banget di dalam kepala."
"Sekarang masih?" tanya Rara.
Gunawan mengangguk kecil. "Masih. Tapi nggak se-chaos tadi."
Rara akhirnya menoleh menatapnya. "Isi kepala kamu tentang apa?"
Gunawan menarik napas panjang. "Tentang Firman yang datang dengan rencana. Tentang Papa kamu yang pasti ingin yang terbaik. Tentang aku yang masih merasa belum cukup."
Rara memandangi wajahnya beberapa detik. "Aku nggak butuh kamu jadi paling siap," katanya pelan. "Aku cuma butuh kamu jangan merasa harus bersaing untuk dicintai."
Kalimat itu membuat Gunawan menelan ludah.
"Aku nggak pernah lihat kamu sebagai kompetisi," lanjut Rara. "Firman mungkin datang dengan timeline. Tapi aku nggak pernah setuju hidupku ditentukan timeline orang lain."
Gunawan akhirnya bertanya pelan, "Kamu takut nggak?"
Rara tersenyum kecil. "Takut."
"Takut apa?"
"Takut kamu terlalu keras sama diri sendiri sampai lupa kalau aku udah milih kamu."
Tanpa banyak kata, Gunawan menggeser tangannya dari setir sebentar, mencari jemari Rara di atas konsol. Kali ini Rara langsung menggenggamnya. Tidak erat. Tidak dramatis. Cukup.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetap Menunggu
RomanceJodoh memang rahasia Tuhan. Tapi Tuhan juga mengharuskan kita untuk berikhtiar dan menjemput jodoh itu. Berdoa adalah satu-satunya cara untuk merayu Tuhan agar jodoh itu datang.
