Sejak pindah kelas, dunia Rara terasa berubah cepat. Bangku kelas pun tak lagi berdekatan dengan Gunawan. Hari menjadi tempat Rara bertanya dan menyesuaikan diri. Mereka sering terlihat, mengobrol soal tugas, bercanda ringan, atau sekadar duduk di koridor kelas.
Gunawan memperhatikan semua itu dari kejauhan.
Awalnya ia berusaha biasa saja. Ia tahu Rara butuh teman. Ia tahu Hari memang ramah. Tapi rasa itu tetap menyelinap pelan-pelan, seperti duri kecil yang makin lama makin terasa. Terlebih lagi saat Indra yang memang kelasnya bersebelahan dengan Rara sering bergabung. Kadang tertawa saat jam kosong karena kelas mereka bersebelahan.
Gunawan tidak sedekat itu lagi dengan Indra sejak kejadian tempo lalu. Dan justru karena itulah, pikirannya mulai berisik.
Yank, kamu sekarang sering main sama Indra ya," ucap Gunawan suatu sore, nadanya terdengar santai, tapi matanya tidak.
Rara menoleh, bingung. "Indra? Iya, sama Nabila juga kan kelasnya sebelahan. Kenapa?"
Gak apa-apa "jawab Gunawan cepat. Terlalu cepat.
Rara terdiam. Ada rasa tak enak menyusup di dadanya. "Aku tahu gapapa kali ini tuh bukan yang sebenarnya. Kenapa?"
Gunawan menghela napas. "Aku cuma ngerasa aku bukan bagian dari harimu lagi."
Kalimat itu menusuk. Rara menatapnya lama, lalu tersenyum tipis, bukan senyum senang. "Aku gak pernah ninggalin kamu. Aku cuma lagi adaptasi aja di kelas baru. Soal Indra, apa salahnya sih? Kan dari dulu juga berteman baik"
Iya. Tapi caranya bikin aku ngerasa asing "balas Gunawan, kali ini emosinya mulai naik. "Kamu ketawa sama mereka. Aku lihat."
Rara mengernyit. "Jadi sekarang aku gak boleh ketawa sama orang lain?"
"Itu bukan maksudku!"
Terus apa? "suara Rara ikut meninggi. "Kamu cemburu sama Hari, sekarang sama Indra juga? Kamu tuh gak berubah ya."
Gunawan terdiam. Dadanya sesak. "Masalahnya aku takut kehilangan kamu."
Kata-kata itu seharusnya terdengar tulus. Tapi di telinga Rara, itu terdengar seperti tuduhan.
"Aku bukan barang yang bisa kamu hilangin atau jagain seenaknya "ucap Rara pelan tapi tajam. "Aku butuh kamu percaya sama aku."
Hening menggantung di antara mereka.
Gunawan ingin menjelaskan, tapi kata-katanya tercekat oleh ego dan rasa takutnya sendiri. Sementara Rara menunduk, matanya mulai berkaca-kaca, lelah harus terus menjelaskan bahwa pertemanan bukan pengkhianatan.
Sejak hari itu, jarak di antara mereka bukan lagi soal kelas yang berbeda, tapi soal kepercayaan yang mulai goyah.
Putri adalah orang pertama yang merasa ada yang tidak beres.
Biasanya, setiap bel pulang berbunyi, Rara sudah berdiri di dekat pintu kelas, matanya otomatis mencari satu sosok. Gunawan pun hampir selalu muncul tak lama kemudian, entah dengan senyum tipis atau sekadar anggukan kecil sebelum mereka berjalan berdampingan keluar gerbang.
Tapi hari ini tidak.
Rara keluar kelas sendirian. Langkahnya cepat, nyaris seperti ingin menghindari sesuatu. Beberapa menit kemudian, Gunawan terlihat dari arah berlawanan juga sendirian, dengan raut wajah yang tertutup.
Putri menoleh ke arah Meli dan Nia. "Kalian sadar gak?"
Meli menghentikan langkahnya, memperhatikan punggung Rara yang makin menjauh. "Dari kemarin juga gitu," katanya pelan. "Rara selalu pulang duluan."
Nia mengerutkan kening. "Dan Gunawan selalu langsung ke ruang OSIS. Biasanya kalaupun ada pertemuan, Gunawan datang paling akhir, dan aku tahu dia pasti nemenin Rara dulu sampai di jemput."
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetap Menunggu
RomanceJodoh memang rahasia Tuhan. Tapi Tuhan juga mengharuskan kita untuk berikhtiar dan menjemput jodoh itu. Berdoa adalah satu-satunya cara untuk merayu Tuhan agar jodoh itu datang.
