Part 84

19 4 1
                                        

Tepat setelah jarum jam melewati akhir shift siang, Rara keluar dari pintu rumah sakit dengan langkah pelan. Wajahnya lelah, tapi matanya tetap menyimpan sisa-sisa semangat yang dipaksakan demi pasien sejak pagi.

Di seberang area parkir, Gunawan sudah menunggu. Mobilnya tidak diparkir sembarangan, dekat pintu keluar, seolah ia tak ingin Rara berjalan terlalu jauh dengan tubuh yang sudah letih. Ketika Rara melihatnya, ia berhenti sejenak. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menyusup, sederhana tapi menenangkan.

"Capek?" tanya Gunawan begitu Rara membuka pintu.

Rara mengangguk kecil sambil tersenyum. "Lumayan."

Gunawan tidak langsung menyalakan mobil. Ia menyerahkan sebotol air dan sebungkus kecil croissant. "Makan dulu. Kamu belum sempat, kan?"

Rara menerima tanpa komentar. Di dalam hatinya, ia tahu ini bukan kebetulan karena croissant coklat adalah cemilan favoritnya. Gunawan sedang belajar memprioritaskan. Bukan dengan kata-kata besar, tapi dengan hal-hal kecil yang tepat sasaran.

Di perjalanan, Gunawan lebih banyak diam. Bukan karena tak ingin bicara, tapi karena ia tahu Rara butuh ruang untuk bernapas. Sampai akhirnya, di lampu merah, ia bersuara.

"Ra," katanya pelan, "kalau soal kita... boleh nggak untuk sementara jangan cerita dulu ke Meli?"

Rara menoleh. "Kenapa?"

Gunawan menghela napas singkat. "Dia baru putus, aku takut ceritanya malah jadi beban buat dia. Aku nggak mau kebahagiaan kita datang di waktu yang salah buat orang lain."

Rara terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Aku ngerti. Kita simpan dulu, ya. Bukan karena ragu... tapi karena empati."

Gunawan tersenyum tipis. "Iya. Karena nggak semua kebenaran harus diumumkan segera."

"Siap." Rara menjawab dengan suara lugas.

"Terimakasih," ucap Gunawan tulus. "Aku juga udah bilang mami papi soal ini dan mereka setuju. Apalagi Meli anak perempuan kesayangan mereka."

"Iya, aku paham." sahut Rara. "Lagian aku juga bingung kalau harus cerita lebih dulu. Kamu tahu kan adik kamu itu jahilnya gimana."

Gunawan tertawa kecil mendengarnya. Tawa yang singkat, tapi lepas. "Iya. Bisa-bisa belum selesai kamu cerita, dia udah bikin tiga versi, dua tebakan, sama satu lelucon yang nyebar ke mana-mana."

Rara ikut tersenyum, kali ini lebih ringan. "Nah itu. Aku belum siap mental."

Mobil melaju pelan, cahaya jingga menyelinap lewat kaca depan, memantul di dashboard. Ada rasa tenang karena semuanya terasa diurus dengan cara yang benar.

Gunawan melirik Rara sekilas. "Makasih ya, Ra. Kamu nggak keberatan ditahan sebentar."

Rara menggeleng. "Nggak. Aku justru ngerasa ini dewasa." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, lebih pelan, "Aku nggak mau kebahagiaan kita jadi luka buat orang lain."

Gunawan mengangguk. Di dadanya ada rasa hormat yang tumbuh pelan tapi dalam. Bukan karena Rara selalu mengerti, tapi karena ia memilih mengerti.

Sampai di parkiran apartement Rara, Gunawan turun lebih dulu, membukakan pintu. Rara berdiri, merapikan tasnya, lalu menatapnya sebentar.

"Mau ketemu papa sekarang?" nadanya terdengar bergurau tapi tidak bagi Gunawan

"Hah?" Gunawan tersentak, "dengan keadaan aku begini?" Gunawan melihat dirinya dari atas sampai ke bawah.

Rara menahan tawa, menutup mulutnya agar tidak ada suara yang keluar. Rara akhirnya tak kuasa. Tawa kecilnya lolos juga, pecah tapi ditahan setengah mati, matanya menyipit jahil.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang