Part 76

21 2 0
                                        

Stasiun sore itu tidak terlalu ramai, tapi juga tidak benar-benar sepi. Suara pengumuman keberangkatan bersahut-sahutan, bercampur dengan derit koper yang ditarik tergesa.

Rara dan Meli berjalan berdampingan di peron. Meli menenteng tote bag besar, sementara Rara membawa ransel sederhana. Keduanya tampak lega, reuni sudah selesai, tugas sudah ditunaikan, dan kini tinggal perjalanan pulang.

"Jakarta lagi," kata Meli sambil menghela napas pendek. "Besok kerja, lusa rapat. Hidup tuh konsisten banget ya."

Rara tersenyum. "Setidaknya kali ini pulangnya pakai kereta. Bisa istirahat."

Meli mengangguk, lalu melirik papan jadwal.
"Eksekutif, gerbong tiga. Aman."

Mereka melangkah maju dan di situlah langkah Rara melambat.

Beberapa meter di depan, seorang pria berdiri dengan punggung sedikit membungkuk, memeriksa tiket di ponselnya. Jaket gelap, ransel hitam, postur yang terasa familiar.

Rara tidak langsung mengenalinya. Tapi entah kenapa, dadanya berdebar lebih cepat.

Pria itu mengangkat wajahnya.

Gunawan.

Tatapan mereka bertemu. Sepersekian detik yang terasa lebih panjang dari yang seharusnya. Gunawan tampak terkejut, lalu tersenyum kecil.

"Rara," katanya pelan.

Meli berhenti mendadak, matanya bergantian menatap Gunawan tajam. "Loh Aa? Katanya berangkat sama A deni besok"

"Mendadak. Di telepon kantor." jawaban singkat Gunawan

Meli mengangkat alisanya sambil menatap Gunawan. "Kok dapet tiketnya?".

"Dih... emang kenapa?" tanya Gunawan heran

Meli masih merengut. "Biasanya kalau dadakan kan susah."

Gunawan tidak menjawab, hanya mengangkat kedua bahunya.

Meli bergantian menatap Rara dan Gunawan. "Ini serius kebetulan, atau aku ketinggalan satu bab?"

Rara tertawa kecil, mencoba santai. "Kayaknya kebetulan."

Gunawan mengangguk. "Lebay ah. Aku juga kereta yang sama." Ia melirik tiketnya, lalu papan jadwal. "Gerbong tiga."

Meli langsung mengangkat alis. "Lah, sama dong." Meli langsung menggelendot manja, "Pokoknya nanti dari stasiun bareng. Aa anterin kita. Titik."

Gunawan mengangguk pasrah.

Ada jeda singkat. Tidak canggung, tapi penuh kesadaran. Seperti semua orang di situ tahu ini bukan pertemuan biasa, tapi juga bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.

"Kalau begitu," kata Gunawan akhirnya, "semoga perjalanannya nyaman."

Nada suaranya tenang. Tidak memaksa, tidak berusaha lebih. Justru itu yang membuat Rara merasa aman.

"Iya," jawab Rara. "Semoga."

Kereta mulai masuk peron, anginnya mengibaskan ujung hijab Rara. Rara dan Gunawan berjalan beriringan menuju gerbong yang sama. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Cukup untuk saling sadar bahwa mereka ada dalam ruang yang sama, tujuan yang sama.

Mungkin ini hanya kebetulan. Atau mungkin, memang beginilah caranya Tuhan mempertemukan kembali dua orang tanpa drama, tanpa rencana, hanya satu arah pulang yang sama.

Kereta melaju meninggalkan stasiun dengan dengungan halus. Senja perlahan berubah jadi malam, lampu-lampu di luar jendela berlari mundur seperti kenangan yang tak sempat disapa.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang