Pengumuman kelulusan akhirnya resmi diumumkan. Semua murid kelas XII dinyatakan lulus. Tangis haru, tawa, pelukan, dan foto-foto memenuhi halaman sekolah. Rara berdiri di tengah keramaian itu dengan senyum yang terus ia jaga, meski dadanya terasa penuh oleh perasaan yang belum ia beri nama.
Gunawan mendekat, membawa map cokelat berisi berkas kelulusan. "Kita lulus" katanya, suaranya terdengar ringan, tapi matanya tidak sepenuhnya ikut tersenyum.
Rara mengangguk. "Iya... akhirnya."
Mereka berdiri berdampingan, tapi ada jarak tipis yang terasa asing. Bukan karena marah, bukan karena salah paham, melainkan karena keduanya sama-sama tahu, setelah hari ini, segalanya tidak akan sesederhana sebelumnya.
Abis ini kamu langsung pulang? "tanya Gunawan.
Kayaknya iya. Mau cari info kampus sama papa "jawab Rara jujur.
Gunawan terdiam sejenak. Ia menatap lapangan yang perlahan mulai sepi. "Aku juga, bareng Neng."
Rara mengangguk pelan. "Berarti... kita bakal sibuk, ya."
Kalimat itu sederhana, tapi menggantung di udara lebih lama dari seharusnya.
Gunawan tersenyum, berusaha santai. "Iya. Ini memang waktunya."
Rara menunduk, jemarinya memainkan ujung map.
Gunawan menghela napas, lalu berkata pelan tapi tegas, "Jauh itu soal pilihan, Sayang. Kalau kita sama-sama mau bertahan, jarak cuma alamat."
Rara menatapnya, matanya berkaca-kaca tipis. "Kamu janji gak berubah?"
Gunawan tersenyum miring, menahan emosinya sendiri. "Aku janji berusaha. Kamu juga."
Mereka tidak berpelukan. Tidak ada adegan dramatis berlebihan. Hanya saling menatap, lalu tersenyum dengan perasaan yang sama-sama tahu ini bukan akhir, tapi awal yang tidak lagi sederhana. Dan tanpa mereka sadari, kelulusan bukan hanya tentang meninggalkan sekolah, tapi tentang belajar mencintai sambil berjalan ke arah masa depan yang belum tentu searah.
Esoknya mereka berkumpul di sebuah kafe kecil dekat sekolah. Spanduk sederhana bertuliskan "Congrats XII!" tergantung miring, lampu kuning temaram memberi kesan hangat namun suasana hati tak semua ikut hangat.
Tawa memenuhi ruangan. Putri sibuk mengambil foto. Meli tertawa keras saat Nia menceritakan rencana gap year-nya. Hari bercanda seperti biasa, seolah tak ada yang berubah. Hanya Rara dan Gunawan. Mereka duduk satu meja, berhadapan namun tidak saling bersandar seperti dulu. Tidak ada bahu yang saling menyentuh. Tidak ada tangan yang diam-diam saling mencari.
Gunawan lebih sering menunduk, sesekali tersenyum kalau ada yang mengajak bicara, lalu kembali diam. Rara tertawa, tapi tawanya pendek, cepat menghilang. Matanya sering melirik ponsel, bukan untuk chat tapi menahan diri agar tidak menangis.
Putri memperhatikan itu sejak awal. Ia mencondongkan tubuh ke arah Meli dan berbisik, "Mel... kamu ngerasa gak? Mereka beda."
Meli mengangguk pelan, sorot matanya melembut. "Iya, kayak lagi marahan, tapi bukan."
Nia ikut menoleh. "Biasanya mereka lengket. Ini kok... kayak orang asing."
Gunawan berdiri sebentar, menuju kasir untuk mengambil minuman. Begitu ia menjauh, Rara menunduk, bahunya sedikit bergetar.
Meli langsung bergeser, duduk di sampingnya. "Ra?"
Rara mencoba tersenyum. Gagal. Air matanya jatuh begitu saja, tanpa suara. "Aku gak siap, Mel..." suaranya pecah. "Semua orang seneng, tapi aku ngerasa kayak... kehilangan sesuatu padahal belum pergi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetap Menunggu
RomanceJodoh memang rahasia Tuhan. Tapi Tuhan juga mengharuskan kita untuk berikhtiar dan menjemput jodoh itu. Berdoa adalah satu-satunya cara untuk merayu Tuhan agar jodoh itu datang.
