Jodoh memang rahasia Tuhan. Tapi Tuhan juga mengharuskan kita untuk berikhtiar dan menjemput jodoh itu. Berdoa adalah satu-satunya cara untuk merayu Tuhan agar jodoh itu datang.
Meli sudah ada di kamar Rara. Melihat seluruh sudut kamar Rara yang dominan berwarna hijau. Nyaman, pertama kali yang Meli rasakan saat menginjakan kakinya. Ada satu sudut yang menarik perhatian Meli, meja belajar Rara. Buku diary yang disampulnya ada gambar seseorang yang Meli sangat kenal. Gambarnya tidak besar, tapi terlalu menyala.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Akhirnya Meli tahu kenapa Gunawan menggunakan foto itu untuk profile kontaknya. "Bucin" gumam Meli.
Suara pintu terbuka membuat Meli berbalik, ia tersenyum melihat Rara datang dengan nampan yang penuh dengan camilan dan minuman untuk mereka.
Jadi mau mulai darimana Ra? "tunjuk Meli langsung sesaat setelah bokongnya menyentuh karpet kamar Rara
Terlalu kelihatan ya Mel? "Rara balik bertanya. Meli hanya tersenyum tapi membuat Rara akhirnya terbuka.
Bu Mira minta aku jaga jarak dulu sama Al," katanya lirih, hampir tak terdengar. "Katanya biar fokus olimpiade. Aku sangat mengerti itu Mel"
Meli terdiam. "Dan kamu melakukan itu?"
Aku harus." Rara menelan ludah. "Tapi aku juga berat Mel, kangen."
Kata itu keluar terlalu cepat, terlalu jujur, membuat air mata terjun bebas membasahi kedua matanya. Untuk sejenak Meli hanya diam, ia juga merasakan apa yang Rara rasakan. Hatinya ikut teriris.
Kenapa harus aku yang narik diri, apa aku begitu mengganggu Mel? "suarnya sekarang diiringi isakan, siapapun yang mendengarnya akan ikut merasakan sakit. Rara bukan marah. Bukan juga kecewa. Ia hanya terjebak di tengah rasa rindu dan tuntutan. Antara keinginan untuk mendekat, dan kewajiban untuk menjauh.
Ra maaf. Aku paham yang kamu rasain, pasti berat banget "suara Meli akhirnya pecah melihat Rara rapuh
Meli mengusap pelan punggung Rara, gerakannya ritmis, seolah ingin menahan semua patahan yang hampir runtuh dari sahabatnya itu.
Ra, kamu sama sekali nggak mengganggu," kata Meli pelan, hampir seperti bisikan. "Kalau kamu ganggu, dia nggak bakal segitunya nyari kamu setiap hari."
Rara menggeleng, air matanya terus meluncur tanpa izin. "Tapi aku yang harus ngejauh, Mel... aku yang harus pura-pura kayak nggak apa-apa." Suaranya pecah, tersendat, seolah setiap kata adalah duri yang dipaksa keluar dari tenggorokannya.
Meli menarik napas panjang, menahan emosi yang ikut naik. "Ra, kamu tau nggak? Justru karena kamu bagian penting, makanya kamu ngerasanya sesakit ini." Ia menatap Rara, matanya ikut berkaca. "Dan justru karena kamu penting, Bu Mira minta kamu ngejauh sementara. Kalau kamu cuma figuran, nggak bakal ada yang takut kamu ganggu fokus Aa."
Rara mengusap matanya dengan punggung tangan. "Tapi rasanya kayak kalau aku muncul di dekat dia, aku yang bikin dia ke-distract. Padahal dia lagi ngejar sesuatu yang penting."
Meli menghela napas pelan. "Kalau soal fokus, itu urusan Aa juga. Kamu nggak bisa terus nyalahin diri sendiri."
Rara menatap karpet, pandangannya kosong. "Bu Mira cuma bilang sementara. Tapi kenapa rasanya kayak aku yang harus numpuk semua rindu ini sendirian?"
Meli akhirnya menarik Rara ke pelukannya, merengkuh kepala temannya ke bahunya seperti anak kecil yang kehilangan jalan pulang. "Kamu nggak sendirian. Kamu punya aku. Kamu punya dia yang juga lagi bingung setengah mati di sana. Dia ngerasa kamu berubah, Ra. Dia merhatiin. Dia kangen juga, aku yakin."
Meli menatap Rara lama. "Aa itu bukan tipe yang gampang salah paham. Tapi dia bukan cenayang juga, Ra. Dia kerasa kamu narik diri, tapi dia nggak tahu sebabnya. Itu pasti bikin dia bingung."
Rara menutup wajah dengan kedua tangan. "Aku nggak mau bikin dia bingung. Tapi aku juga nggak tahu harus gimana."
Rara menatap Meli, mata merah, hidung memerah, bibir gemetar. "Aku takut kalau aku terlalu menjauh, dia malah beneran ninggalin."
Meli tersenyum kecil, miris tapi penuh keyakinan. "Gunawan? Ninggalin kamu? Ra, aku tahu Aa gimana ke kamu. Aku jamin itu gak akan terjadi."
Rara tidak menjawab, hanya bersandar sedikit ke arah Meli, seolah mencari tempat yang bisa menahan beban yang menumpuk di dadanya sejak beberapa hari terakhir.
Meli menepuk pelan punggungnya. "Kalau nanti kamu udah merasa siap, atau udah nggak kuat nahan semuanya, kamu bilang ke dia. Gunawan berhak tahu apa yang sebenarnya kamu rasain. Dan kamu berhak buat nggak merasa sendirian. Dan juga Ra, kalau kamu seperti ini terus yang ada malah ganggu fokus dia."
Rara mengeratkan genggamannya pada ujung bantal, suaranya nyaris tak terdengar, "Aku cuma takut Mel, kalau aku ngomong sekarang, malah makin ganggu dia. Olimpiade tinggal beberapa minggu. Dia udah capek sama latihan, sama OSIS, aku nggak mau nambah apa-apa lagi."
Meli menghela napas, sedih karena sahabatnya menanggung semua sendiri. "Ra... kamu itu bukan beban buat dia. Dari dulu. Dari awal. Gunawan tuh selalu ngejaga kamu, bukan karena kewajiban, tapi karena dia mau."
Rara memalingkan wajah, menatap langit-langit kamar Rara yang berhias glow in the dark bintang-bintang kecil. Suaranya lebih lirih, pecah sedikit. "Tapi kalau aku tiba-tiba cerita semua, kalau aku ngakuin aku sedih dia jauh, aku capek pura-pura nggak apa-apa, nanti dia makin kepikiran. Aku nggak mau jadi alasan dia gagal."
Meli memutar posisi duduknya, menatap wajah Rara dari samping, lembut tapi tegas. "Ra. Kamu tahu apa yang paling bikin orang gagal fokus?"
Rara menggeleng pelan tanpa menoleh.
Bukan masalah besar," lanjut Meli. "Tapi hal-hal kecil yang dipendam. Yang nggak pernah diomongin. Yang bikin kepalanya penuh pertanyaan. Itu bisa ngabisin energi. Dan kamu tahu Gunawan. Dia tipe yang memendam sendiri."
Rara menutup mata, seolah kata-kata itu mengenai titik yang paling sensitif dalam dirinya.
Meli tersenyum simpul, menepuk pipi Rara dengan lembut. "Justru karena kamu sayang sama dia, kamu harus jujur. Bukan disimpen sendiri sampai kamu hancur duluan."
Suara Rara pecah lagi. "Tapi aku takut Mel, aku takut kalau dia tahu aku secemas ini, dia malah ngerasa kayak dia bikin hidup aku susah."
Meli langsung menarik Rara ke dalam pelukan kecil, santai tapi hangat. "Ra yang bikin hidup kamu berat itu bukan Gunawan. Yang bikin berat itu pikiran kamu sendiri karena nggak ada tempat buat keluar."
Rara menyandarkan kepala di bahu Meli, tubuhnya gemetar kecil. "Aku capek banget."
Aku tahu." Meli mengusap punggungnya perlahan. "Makanya kamu nggak boleh sendirian. Kamu punya aku dan kamu juga punya dia. Kamu cuma lagi nggak percaya kalau kamu layak dibantu."
Rara menarik napas panjang, bergetar pertanda ia menahan tangis, bukan karena putus asa, tapi karena akhirnya ada orang yang memahami.
Setelah beberapa detik, Meli menambahkan dengan nada pelan tapi mantap, "Ra... kalau kamu terus menjauh begini, yang ada Gunawan makin bingung. Dan kalau dia bingung, dia bakal mikirnya jauh, itu justru ganggu fokus dia lebih parah daripada kamu jujur."
Rara terdiam. Kalimat itu masuk perlahan, menembus semua kecemasan yang ia kumpulkan selama hari-hari terakhir.
Meli memiringkan kepala sedikit agar bisa melihat wajah Rara. "Aku nggak maksa kamu sekarang. Tapi suatu saat dalam waktu dekat, kamu harus berhenti lari dari perasaan kamu sendiri dan dari dia."
Aku takut," ucap Rara lemah.
Meli tersenyum hangat. "Kalau kamu takut, aku yang dorong kamu pelan-pelan."
Rara menarik napas panjang, suaranya pecah tapi lebih tenang. "Makasih, Mel."
Selalu," jawab Meli, sederhana.
Dalam kamar yang sunyi itu, Rara akhirnya berhenti melawan tangisnya. Meli tetap di samping, tidak banyak bicara, hanya memastikan Rara punya ruang untuk rapuh tanpa harus merasa salah.