Part 57

31 2 0
                                        

Hari-hari berjalan pelan tapi pasti. Gunawan akhirnya belajar menata hatinya sendiri, rasa cemburu yang dulu sempat mengusik pikirannya pada Hari dan Indra kini tak lagi menguasai dadanya. Ia mulai memahami bahwa tidak semua kedekatan adalah ancaman, dan tidak semua perhatian harus dimiliki sepenuhnya.

Ironisnya, justru setelah itu arah berubah.

Kini Gunawan yang menjadi tempat Hari bercerita. Tentang hal-hal kecil yang dulu biasa ia ceritakan pada Rara. Obrolan mereka mengalir tanpa beban, dua orang yang sama-sama sedang belajar memahami keadaan masing-masing. Terlebih lagi mereka adalah teman satu organisasi.

Hari meminta waktu untuk berbicara dengan teman-teman Aulia. Putri, Nabila, Ridwan dan Faul ada disana.  Tak lupa juga ia mengajak Rara dan Gunawan duduk bersama. 

Aku mau minta pendapat kalian "ucap Hari akhirnya, setelah diam cukup lama. "Soal Aulia."

Rara menoleh lebih dulu. Ada jeda singkat di wajahnya—bukan kaget, lebih seperti memastikan perasaannya sendiri sudah cukup tenang untuk mendengar itu. "Kamu kenapa sama Aul?" tanyanya pelan.

Hari menarik napas. "Aku kepikiran buat bilang jujur soal perasaanku."

Awalnya mereka bingung dengan ajakan Hari, tapi akhirnya sekarang mereka paham.

Gunawan tidak langsung bicara. Ia memandang Hari sejenak, lalu tersenyum kecil, senyum yang tidak lagi dibebani cemburu. "Kalau kamu nanya pendapatku," katanya akhirnya, "yang paling penting itu niat kamu. Kamu serius, atau cuma karena..."

Aku serius "jawab Hari tanpa ragu.

Rara mengangguk pelan. "Aulia itu orangnya sensitif, emosinya suka naik duluan. Jadi kalau kamu mau ngomong, jangan di momen ramai atau pas dia capek. Bilang sederhana aja, jujur, tanpa maksa."

Gunawan menimpali, "Dan siap sama semua kemungkinan. Kalau dia butuh waktu, kasih. Jangan bikin dia merasa harus jawab sekarang."

Hari tersenyum lega, tapi juga gugup. "Kalian yakin aku gak salah langkah?"

Sebentar. "Putri menyela. "Memang kalian sedekat apa? Sampai kamu yakin mau menyatakan perasaan?" Pertanyaan itu muncul di saat yang tidak terduga

Ridwan dan Faul langsung saling pandang, jelas ikut penasaran. Bahkan Nabila yang biasanya lebih banyak diam ikut menoleh ke arah Hari.

Hari terkekeh kecil, mencoba terlihat biasa. Hari menggaruk tengkuknya, agak kikuk. "Aku cuma berusaha jadi teman yang baik." 

Hari menceritakan kedekatan yang tumbuh tanpa suara dan tanpa pengumuman.  Hari dan Aulia sering berbalas chat, tapi selalu dalam batas yang wajar, diskusi pelajaran, bercanda ringan, atau soal OSIS. Karena itulah, teman-teman lain tidak pernah menangkap sesuatu yang berbeda. Semua tampak biasa saja. Terlebih tidak ada cerita dari mereka berdua, juga sikap mereka di sekolah seperti sebelumnya, tidak ada perubahan.

Mereka tidak pernah menyebutnya "dekat". Tidak ada yang saling mengakui perasaan. Tapi kebiasaan berbagi cerita membuat mereka saling menunggu dan saling mencari. Hal itu perlahan membangun ikatan yang halus tapi cukup kuat untuk dirasakan oleh mereka berdua.

Dan seperti banyak hal yang tumbuh diam-diam, justru karena tak ada yang memperhatikan, kedekatan itu semakin bebas berkembang.

Putri mengangguk pelan, seolah menerima penjelasan itu. "Oke. Selama kamu jelas sama perasaan kamu sendiri dan gak bikin Aulia bingung, aku percaya."

Jadi aku harus gimana? "tanya Hari lagi. Setelah bercerita ia lebih merasa lega.

Rara tersenyum, kali ini lebih hangat. "Sampaikan saja. Perasaan yang disampaikan dengan cara baik itu gak pernah salah, Ri. Hasilnya aja yang kadang gak sesuai harapan."

Gunawan mengangguk setuju. "Dan apapun jawabannya nanti, kamu udah berani jujur. Itu penting."

Hari tersenyum dengan perasaan campur aduk, takut, berharap, dan sedikit berdebar.
Di belakangnya, Rara dan yang lain saling berpandangan singkat. Mereka sadar, satu fase akan segera berubah lagi.

Hari sudah pergi, ia pamit karena sudah ada janji dengan orangtuanya. Tapi obrolan tetap berlanjut, mereka sedang menunggu Meli dan Nia yang masih menyelesaikan tugasnya. Hari itu mereka berencana untuk pergi makan siang bersama. 

Obrolan mereka terhenti ketika Ridwan tertawa kecil, seperti baru teringat sesuatu yang lama terkubur.

Eh... kalian ingat gak "katanya sambil menyender ke kursi, "dulu kita pernah ribet banget nyusun rencana biar Hari sama Aulia bisa dekat?"

Putri langsung menoleh. "Inget banget yank."

Faul ikut tertawa. "Yang sengaja nyuruh Hari nemenin Aulia tiap dia bete."

Dan tujuan awalnya apa?" Nabila menyeringai. "Biar Aulia gak fokus ke Gunawan."

Ya ampun, ternyata kalian pernah bikin rencana seperti itu "Rara tertawa geli

Mereka semua terdiam sesaat, lalu tawa kecil pecah hampir bersamaan. Bukan tawa mengejek, tapi tawa sadar tentang betapa naifnya mereka waktu itu.

Lucu ya "lanjut Ridwan, nada suaranya lebih lembut sekarang. "Dulu kita ngerasa harus ngatur ini-itu. Padahal sekarang gak kita apa-apain, mereka malah lebih dekat."

Putri mengangguk. "Dan keliatan lebih natural. Gak maksa, gak drama."

Justru karena itu, Aulia jadi dirinya sendiri. Hari juga." kata Nabila pelan

Rara tersenyum kecil. "Aku malah senang. Kalau kedekatan mereka tumbuh tanpa strategi, berarti perasaannya juga lebih jujur."

Ridwan menatap ke arah lapangan, "Kadang ya" katanya, "hal yang paling berhasil itu yang gak direncanakan."

Dan untuk pertama kalinya, mereka semua sepakat, bukan karena ingin mengalihkan siapa pun dari siapa pun, tapi karena melihat dua orang yang akhirnya menemukan kenyamanan dengan caranya sendiri.

Meli dan Nia datang bersamaan, wajah mereka jelas menyimpan rasa penasaran melihat yang lain tertawa tidak wajar.

Apaan sih? "Meli langsung duduk di antara mereka. "Dari tadi ketawa-ketawa kayak habis ngerumpiin orang."

Nia mengangguk setuju. "Iya, kelihatan banget dari jauh."

Putri dan Ridwan saling pandang sekilas, lalu Putri tersenyum usil. "Oke, kita ceritain. Tapi siap ya."

Meli menyipitkan mata. "Siap apa?"

Ridwan tertawa kecil. "Hari mau nyatain perasaannya ke Aulia."

Nia refleks menoleh kearah Ridwan. "Hah? Serius?"

Meli terdiam satu detik, lalu matanya membesar. "HAH? HARI?"

Tenang "sela Putri cepat. "Belum kejadian. Dia baru minta pendapat kita."

Nia tersenyum lebar. "Akhirnya tanpa harus kita combalingan kan."

Meli masih mencerna, lalu perlahan ikut tersenyum. "Kalau gitu... ya bagus dong."

Belum sempat suasana jadi hangat, Putri menyenggol bahu Meli. "Ngomong-ngomong soal hubungan" katanya sambil tertawa kecil, "di sini cuma satu orang yang pacarnya di luar sekolah."

Hidup dua dunia tuh "tambah Faul, yang lain sambil tertawa.

Meli mendengus. "Hei! Salah aku apa coba? Emang cinta harus satu sekolah?"

Nanti kalau Hari sama Aulia gabung sama kita, kamu siap-siap jadi nyamuk ya "Gunawan tidak tahan untuk ikut menggoda

Nia ikut mengejek, "Iya Mel, kamu tuh eksklusif. Kita cuma bisa mantengin drama di sekolah, kamu malah LDR-an."

Meli menggeleng pasrah, tapi ikut tertawa. "Ya maaf ya, hidup aku gak seribet kalian." Meli teringat sesuatu. "Tapi Nabila juga belum ada pacarnya kan?"

Yah ketinggalan berita "Putri kembali mengejek. "Nabila udah sama Gilang" lanjut Putri membuat pipi Nabila merona

Semangat Mel. Kamu sendirian "Nia menepuk bahu Meli dengan nada mengejek

Tawa mereka kembali pecah. Di balik candaan itu, ada perasaan lega bahwa kali ini, cerita yang mereka bicarakan bukan tentang cemburu atau konflik, melainkan tentang keberanian dan perasaan yang tumbuh dengan jujur

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang