Pesan itu masuk di sela jam istirahat siang, saat Rara baru saja menutup berkas pasien dan melepas masker. Ponselnya bergetar pelan di saku jas putih. Nomor tak dikenal. Rara nyaris mengabaikannya. Tapi ada jeda singkat, insting kecil yang menyuruhnya membuka.
Assalamu'alaikum, Kak Rara. Perkenalkan, saya Dimas dari panitia Reuni Akbar SMAN 1. Kami sedang menyiapkan acara reuni dan ingin mengundang Kak Rara sebagai salah satu pembicara, dengan tema kesehatan dan perjalanan karier alumni. Apakah Kak Rara berkenan?
Rara membaca pesan itu dua kali. Bukan karena tak paham isinya, tapi karena ada rasa asing yang menyelinap: heran bercampur hangat. Ia meletakkan ponsel sebentar di meja, menatap jendela ruang perawat. Cahaya siang masuk lembut, memantul di lantai.
Reuini akbar. Nama SMA itu membawa wajah-wajah lama, lorong kelas yang dulu ramai, dan versi dirinya yang masih belajar banyak hal tentang mimpi, tentang patah, tentang pulang. Ia tak langsung menjawab. Beberapa menit kemudian, pesan susulan masuk.
Kami mengusung tema "Generasi Sehat, Kontribusi Nyata Alumni untuk Negeri". Foto Kak Rara sempat kami lihat di unggahan pengangkatan sumpah. Banyak adik kelas yang terinspirasi. Kami pikir cerita Kak Rara akan berarti.
Rara tersenyum kecil. Bukan karena disebut inspiratif, tapi karena kalimat itu terasa jujur. Ia mengetik pelan.
Wa'alaikumussalam. Terima kasih sudah menghubungi. Boleh saya tahu format acaranya dan tanggalnya?
Balasan datang cepat, rapi, penuh detail. Aula sekolah lama. Akhir bulan. Sesi singkat, dialog santai. Tidak diminta jadi tokoh utama. Hanya diminta berbagi.
Rara mengangguk sendiri, seolah mengiyakan sesuatu di dalam dada.
Sore itu, di rumah, Mama melirik Rara yang terlihat lebih lama menatap ponsel.
"Kenapa?" tanya Mama.
"Ada panitia reuni SMA, Ma," jawab Rara. "Mereka minta Rara jadi pembicara."
Mama terdiam sejenak, lalu tersenyum bangga. "Dulu kamu duduk di bangku itu sambil bingung mau jadi apa. Sekarang diminta cerita."
Papa ikut menimpali dari ruang tamu, suaranya ringan. "Datanglah. Biar kamu ingat, sejauh apa kamu sudah melangkah."
Malamnya, Rara menekan tombol kirim.
InsyaAllah saya bersedia. Terima kasih sudah mengundang.
Setelah pesan terkirim, ia meletakkan ponsel dan menghela napas. Bukan napas gugup. Lebih seperti napas orang yang siap berdiri di satu titik, menoleh ke belakang tanpa ingin kembali.
Rara tahu, reuni itu mungkin akan mempertemukannya dengan banyak hal, nama lama, cerita lama, bahkan orang-orang yang dulu pernah berarti. Tapi kali ini ia datang bukan untuk diingat, melainkan untuk berbagi. Bukan sebagai versi dirinya yang dulu, melainkan sebagai dirinya yang sekarang, tenang, utuh, dan tahu ke mana ia melangkah.
Hari-hari menjelang reuni berjalan tanpa gegap gempita. Rara tetap berangkat pagi, pulang menjelang senja, menyelesaikan pekerjaannya dengan ritme yang kini terasa pas di tubuhnya. Tapi di sela itu, undangan reuni sesekali menyelip di pikirannya, bukan sebagai beban, lebih seperti pintu yang akan dibuka sebentar, lalu ditutup kembali dengan rapi.
Panitia mengirimkan rundown acara seminggu sebelum hari H. Nama Rara tercantum di deretan pembicara alumni, berdampingan dengan beberapa nama yang dulu ia kenal hanya sebagai wajah di majalah dinding atau barisan depan kelas. Ada rasa kecil yang berdesir, tapi cepat reda.
Telepon itu berdering saat Rara baru saja menaruh tas kerjanya di sofa. Ia melirik layar, tersenyum kecil ketika nama Meli muncul.
"Assalamu'alaikum, Mbak pembicara," suara Meli langsung menyeringai dari seberang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetap Menunggu
RomanceJodoh memang rahasia Tuhan. Tapi Tuhan juga mengharuskan kita untuk berikhtiar dan menjemput jodoh itu. Berdoa adalah satu-satunya cara untuk merayu Tuhan agar jodoh itu datang.
