Part 79

13 3 0
                                        

Beberapa hari berlalu, dan perubahan itu terasa jelas. Meli kembali tertawa bukan yang dipaksakan, tapi yang ringan dan lepas. Matanya tak lagi sembab, langkahnya pun lebih pasti, seolah hati dan pikirannya akhirnya menemukan ritme baru.

Sejak malam itu, ada satu hal kecil yang ikut berubah. Meli jadi lebih manja pada Gunawan.

"Hari ini jemput aku ya," pesannya hampir tiap pagi, kadang disertai stiker lucu yang berlebihan.

Gunawan awalnya cuma menghela napas pendek sambil tersenyum. "Kamu ini, udah gede masih aja," gumamnya, tapi tetap mengambil kunci mobil.

Di dalam mobil, Meli sering lebih banyak diam. Kadang bersenandung pelan, kadang cuma menatap keluar jendela. Tapi sikap manjanya itu bukan soal dimanja, lebih seperti mencari rasa aman. Dan Gunawan paham betul itu.

Di sisi lain, Rara melihat perubahan itu dari cerita-cerita kecil Meli. Pesan-pesan singkat yang kini nadanya lebih ringan, keluhan yang tak lagi pahit. Rara tahu, Meli mulai pulih pelan, dengan caranya sendiri.

Dan di antara rutinitas antar-jemput itu, tanpa disadari, Gunawan menjadi tempat pulang bagi Meli, tak perlu banyak kata, cukup ada.

Sejak saat itu juga, frekuensi pertemuan Rara dan Gunawan meningkat tanpa pernah benar-benar direncanakan. Kadang berpapasan saat menjemput dan kadang diminta menemani Meli sampai Gunawan datang. Awalnya biasa saja. Obrolan ringan, tawa singkat, jeda yang tidak canggung. Tapi lama-lama, kebiasaan itu terasa nyaman.

Sampai suatu sore, Meli melontarkan ide yang langsung membuat Rara mengernyit.

"Joging bareng yuk minggu ini," katanya santai, sambil mengaduk minumannya. "Biar sehat. Biar waras."

Gunawan melirik Meli. "Ini usul atau perintah?"

"Usul yang kalau ditolak bakal aku ingat seumur hidup," jawab Meli cepat.

Rara tertawa kecil. "Kamu ini dramatis."

"Enggak. Ini demi kesehatan jiwa dan raga," Meli mengangkat alis.

Gunawan menghela napas, lalu tersenyum pasrah. "Jam berapa?"

Meli langsung bersorak kecil. "Nah gitu dong."

Pagi itu, udara masih dingin ketika Rara tiba di taman kota. Gunawan dan Meli sudah menunggu, mengenakan jaket tipis dan sepatu lari, Gunawan sudah menawarkan untuk menjemput, tapi Rara bersikeras ingin berangkat sendiri.

"Pagi," sapa Rara.

"Pagi," jawab Gunawan dan Meli berbarengan.

"Prepare sekali anda teryata." Meli melihat Rara dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Rara terkekeh. "Emang begini kan harusnya."

"Gak usah diladenin Ra, ayo." Gunawan berlari mendahului mereka.

Mereka mulai berlari pelan. Langkah awal canggung, ritme belum sejalan. Tapi perlahan, napas mereka menyesuaikan, obrolan mengalir ringan tentang musik, tentang kerjaan, tentang hal-hal kecil yang biasanya tak sempat dibahas.

Di satu titik, Rara melirik Meli. "Ternyata nggak seburuk yang aku bayangin."

Meli tersenyum. "Joging atau ditemani dia?"

"Dua-duanya," jawabnya jujur.

Meli menahan tawanya. "Duh takut banget ada yang clbk."

"Berisik." ucap Rara tepat didepan muka Meli.

Meli tertawa lepas, hampir tersedak napasnya sendiri. "Eh santai, santai. Joging, bukan kejar-kejaran perasaan."

Rara mendengus, mempercepat langkah setengah meter di depan Meli. "Makanya lari aja. Kebanyakan komentar bikin ngos-ngosan."

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang