Part 64

17 2 0
                                        

PENTING!!!!!!! BACANYA SAMBIL DENGERI LAGUNYA YA. TAPI JANJI JANGAN NANGIS!

Kereta melaju meninggalkan stasiun, membawa Gunawan kembali ke Jakarta, kota yang terasa lebih bising dari biasanya. Ia duduk dekat jendela, memandangi pantulan wajahnya sendiri di kaca. Terlihat sama, tapi rasanya tidak.

Aku datang dengan niat membereskan, pikirnya. Tapi malah ninggalin luka baru.

Ponselnya tergeletak di paha. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada nama yang ia tunggu. Kontak itu masih sama: Sayaaang. Ia tidak pernah sanggup menggantinya, seolah dengan mengubah nama itu, ia juga harus mengakui sesuatu yang belum selesai. Gunawan mengingat ulang kata-kata Meli. Tentang jarak. Tentang waktu. Tentang bagaimana niat baik tidak selalu berarti benar.

Aku pengen tahu perasaannya, tapi aku lupa perasaanku bukan satu-satunya yang penting.

Ia menyandarkan kepala. Untuk pertama kalinya, Gunawan tidak merencanakan apa pun. Tidak pesan. Tidak panggilan. Tidak pembelaan. Kalau Rara memilih menjauh, ia akan diam. Kalau Rara butuh waktu, ia akan menunggu tanpa menyentuh, tanpa mengganggu. Karena kali ini, mencintai berarti tidak menarik siapa pun ke dalam kebingungannya sendiri.

Waktu tidak benar-benar menyembuhkan. Ia hanya mengajarkan cara hidup berdampingan dengan yang belum selesai.

Beberapa bulan kemudian, Rara sibuk dengan dunianya sendiri. Kuliah, organisasi, dan tawa-tawa kecil yang ia bangun agar hari-harinya terasa penuh. Ia jarang memikirkan Gunawan bukan karena lupa, tapi karena ia memilih tidak membuka pintu itu lagi.

Sampai suatu siang di sebuah bengkel.

Rara sedang memainkan ponselnya, tapi suara di bangku sebelah terdengar familiar. Terlalu familiar. Ia menoleh dan dunia seolah berhenti sepersekian detik.

Gunawan.

Ia terlihat lebih kurus, rambutnya sedikit lebih panjang, jaket hitam yang dulu sering ia pakai masih sama. Mata mereka bertemu. Tidak ada senyum spontan. Hanya keterkejutan yang tidak sempat disembunyikan.

Hai, Ra "Suara Gunawan terdengar hati-hati, seolah takut salah nada.

Ada jeda canggung. Panjang. Keduanya berdiri di tempat masing-masing, ragu apakah pertemuan ini boleh dilanjutkan.

Rara menelan ludah. "Hai, lagi di sini?"

Iya, "jawab Gunawan singkat. "Kamu sendiri?"

Rara tersenyum kecil. Senyum sopan. Aman. "Iya."

Gunawan mengangguk. Matanya ingin bertanya banyak hal, tapi mulutnya menahan.

Bertepatan dengan itu, nama Rara dipanggil tanda kendaraannya sudah selesai di service.

Rara berdiri, meraih tasnya. "Aku duluan, ya. Senang ketemu kamu."

Ia tidak menunggu jawaban. Bukan karena benci, tapi karena ia tahu tinggal lebih lama hanya akan membuka sesuatu yang ia kunci rapat-rapat.

Saat Rara melangkah pergi, Gunawan berdiri mematung. Ada dorongan untuk mengejarnya, menjelaskan semuanya bahwa ia tidak punya siapa pun, bahwa cerita itu salah, bahwa perasaannya masih sama. Tapi ia tidak bergerak.

Di dalam mobilnya, Rara berhenti sejenak. Ia menghela napas, menatap langit yang mulai gelap.

Dia kelihatan baik-baik aja, pikirnya. Pasti dia bahagia sekarang.

Tetap MenungguCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang