Extra Part - 1

1.7K 108 9
                                        


How He Met Her

"Kak!" tepukan dipundak Atlas membuatnya menoleh. Alex berdiri di belakangnya seraya memberikan cengirannya. Dalam hati, pria itu sudah tahu apa yang ingin adiknya ini sampaikan.

"Kaka gamau ya Lex." ucapnya tegas sebelum kembali memfokuskan dirinya pada iPad di tangannya. Kepalanya menggeleng, masih tak mengerti kenapa adik dan bundanya itu seakan tak ada hentinya menyuruhnya berkencan.

"Eh kak! Tunggu dulu. Lo inget kan Cecil? Itu loh yang kemarin main kesini buat kerja kelompok sama gue," sanggah Alex seraya duduk disamping Kakanya.

"Kakak gak inget Lex, udah sana Kakak lagi kerja," tolak Atlas halus tanpa meninggalkan fokusnya pada iPadnya. "Loh ko gak inget sih Kak? Kemarin kan Alex udah bikin kalian berdua saling jabat tangan. Anaknya pinter banget loh Kak, otaknya encer. Itu primadona di kampus Alex tau. Itu loh yang rambutnya sebahu warna coklat. Masa gak inget?" ucap Alex lagi masih belum menyerah.

Atlas memilih untuk mengabaikan adiknya itu. Meskipun senyum gelinya sengaja ia tahan karena tingkah adiknya itu.

"Sama kamu aja kalau gitu Lex, kamu kan suka cewek-cewek cantik. Kakak denger dari Axel juga sekarang pacar kamu ada 4." tanggap Atlas yang membuat Alex langsung menatap kembarannya dengan sengit.

"Awas loh kena karma nanti." peringat Atlas yang membuat Alex langsung diam dan menyudahi aksinya.

"Yaudah kalau proposal Alex ditolak, gimana kalau ikut rekomendasi Bunda aja?" suara lembut wanita yang melahirkannya.

Atlas tersenyum mendengar Bundanya, meskipun tak urung suara helaan nafas turut keluar dari dirinya. "Bunda kan udah sering di tolak juga," cetus Alex yang membuat Axel mendengus.

"Ini baru Kak, anaknya teman arisan Bunda. Yang baru buka bakery di depan kompleks itu loh," tutur sang Bunda seraya sibuk menggulir ponselnya.

"Nih liat deh, cantik kan?" ucap Bunda selayaknya sedang promosi. Tak lupa sekaligus menunjukkan foto dari anak teman arisannya itu.

"Kalau cantik aja Kak Atlas juga bisa cari sendiri Bun." cetus Axel pada akhirnya bersuara. "Udah, nanti Kakak cari sendiri aja ya?" tawar Atlas berusaha menyudahi kegiatan ini.

"Tapi kenapa sih kak gak pacaran? Lo masih gagal move on ya?" tanya Alex penasaran. Bunda berdecak kemudian tertawa, "Gak mungkin gagal move on. Sama yang waktu itu kan emang dia gak pernah suka," timpal Axel lagi lebih cerewet.

Adiknya yang paling irit bicara itu memang selalu bisa diandalkan dalam situasi seperti ini. Setidaknya Atlas tidak sendirian melawan Bunda dan Alex sekarang.

"Berarti belum pernah ngerasain first love dong Kak?" tanya Alex lagi yang langsung membuat semua penghuni ruang tamu itu memusatkan fokus hanya pada Atlas.

Atlas memilih tak menjawab. Ya memang belum sih. Banyak yang mendekatinya, bahkan dikenalkan padanya, tapi Atlas merasa tidak ada yang special yang dirasakannya.

Bukannya first love itu harus special?

"Atlas mau ke supermarket dulu ya, iseng nih mau beli camilan. Ada yang mau titip?" tanya Atlas sebagai jurus terakhirnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan kediamannya dengan mobilnya.

- - -

Ini gila, tapi Atlas merasa ia seperti seorang penguntit sekarang. Saat ini ia sedang ada di balik kemudinya. Mobilnya baru saja berhenti beberapa menit yang lalu di parkiran supermarket dekat rumahnya.

The ManTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang