Chapter - 84

2.3K 146 10
                                        

"Mas," panggilan lembut disetai dengan sentuhan pada pundak Atlas membuat pria itu kembali pada alam sadarnya. Matanya perlahan terbuka dan mendapati istrinya sedang menatapnya dengan lembut.

"Pagi sayang," sapa pria itu saat melihat jam digital pada nakas yag menunjukkan pukul dua pagi. Istri cantiknya itu menggunakan gaun tidur berwarna putih gading dengan rambut bergelombangnya yang membingkai wajahnya. Terlihat cantik sekali di mata Atlas meski tanpa riasan sekalipun.

"Mas tidur disini lagi?" tanya istrinya saat Atlas menarik pinggang si cantik itu dengan lembut. Membuat ibu dua anak itu berakhir duduk dalam pangkuannya. Jemari lembutnya mengusap setiap sisi di wajah suaminya, menatapnya penuh sayang sama seperti pria itu menatapnya.

"Maaf ya, Mas ketiduran sayang," tutur si tampan seraya memeluk istrinya. Wajahnya seketika terkubur pada ceruk leher istrinya. Masih degan suaranya yang serak khas bangun tidur.

"Abang sama Kakak nangis lagi ya?" tanya Lili dengan lembut. Menatap suaminya yang tampak lelah dan mendapati dua kantung berisi ASI nya yang sudah kosong didekat suaminya.

Ini bukan yang pertama. Tidak jarang Lili terbangun di tengah malam seperti ini dan mendapati sisi tempat suaminya tidur kosong dan terasa dingin. Prianya itu selalu terbangun lebih dulu darinya.

Seakan memiliki firasat bahwa kedua anaknya akan terbangun karena kelaparan ataupun popok mereka yang penuh dan membuat tidur keduanya tak nyaman.

Mendengar kedua anaknya disebut seketika senyuman terbit dari wajah pria itu. Atlas lantas mendongak dan memandang ke arah dua keranjang bayi di seberang mereka. Atlas menggangguk. Membuat hati Lili menghangat karena melihat binar di mata suaminya.

"Kan Mas bisa bangunin aku," ucap Lili lagi. Ucapannya itu seketika membuat Atlas menoleh dan menggeleng tak senang. "Kamu lebih butuh istirahat daripada Mas sayang," tolak Atlas dengan lembut. Namun dari nadanya, Lili tahu kalau perkataan suaminya itu tak terbantahkan.

Tanpa menjawab apapun, Lili memilih untuk memeluk suaminya. Tangannya mengusap punggung Atlas dengan lembut. Ia tahu suaminya khawatir. Memang sih, Lili baru keluar dari rumah sakit sekitar satu minggu yang lalu. Dan hal itu juga yang membuat suaminya seprotektif ini.

Padahal sebenarnya, Lili tahu Atlas jauh lebih lelah daripada dirinya. Bagaimana tidak? Pria itu mengorbankan waktu istirahatnya untuk mengurus kedua anak mereka seperti saat ini. Atlas juga belum membolehkannya meggendong Ally dan Arthur terlalu lama. Belum lagi, pria itu juga mengurusinya.

Iya, mengurusi Lili. Ini terdengar memalukan, tapi... Atlas membantunya untuk sekedar menggunakan celana hingga membantunya ke kamar mandi untuk buang air dan mandi. Padahal Lili berani bersumpah, rasa sakit akibat melahirkan kedua anaknya sudah sangatlah membaik.

Tapi Atlas tetaplah Atlas.

"Makasih ya Mas, udah baik banget sama aku dan anak - anak," ucap Lili tulus setelah meninggalkan kecupan ringan pada rahang kokoh suaminya. Atlas menunduk, menatap lama istrinya sebelum mencium bibir favoritnya itu.

"Gak perlu bilang begitu sayang, memang Mas harusnya begitu ke kalian," jawab Atlas penuh kelembutan. "Mas senang lihat anak - anak kita, ngurus mereka, apalagi bikin mereka ketawa. Terlebih, Mas seneng bisa ngurusin istri Mas yang paling Mas sayang ini," ucap Atlas lagi seraya menatap Lili.

Lili tersenyum dibuatnya, memang ia tidak bisa marah pada suaminya ini. "Ya iyalah Mas paling sayang, kan istrinya cuma aku. Kecuali istri Mas ada-" candaan Lili itu lantas terhenti karena mendapati suaminya yang diam dan menatapnya tak suka, sekaan mengerti bahwa perkataannya memang sebaiknya tak ia lanjutkan, pria itu kemudian meyentil dahi istrinya.

"Jangan bicara aneh - aneh kaya gitu lagi," ucapnya serius menanggapi. "Yaampun, aku cuma bercanda Mas," balas Lili setengah protes.

"Mas gak merasa itu lucu sayang, you're not a joke for me and neither is anything about you," ucap Atlas seraya mengecup bibir ranum Lili lagi. Pipi Lili bersemu seketika, wanita itu lantas bangkit dari pangkuan suaminya dan memukul pundak suaminya pelan seraya berkata,

"Mas gak asik," cetusnya seraya menyembunyikan rona di wajahnya. "This might sounds cheesy but i will only love once, and its you my silly,"  tutur Atlas seraya bangkit dari duduknya dan berakhir kembali memeluk istrinya.

"So i'm a silly now?" tanya Lili hampir tak terdengar. Dulu saja dia dipanggil princess bisa - bisanya sekarang ia berubah jadi silly.

"Sayang?" panggil Atlas seraya membuat jarak pada pelukan keduanya. Membuat kedua sejoli itu bisa menatap satu sama lain dari jarak ini.

"Hm?" Lili bergumam sebagai jawaban. Matanya tak berhenti memandangi seluruh titik di wajah suaminya, menikmati setiap pahatan di paras sempurna yang selalu berhasil menyihirnya itu.

"You missed the point," ucap Atlas dengan terus mendalami manik matanya. "What point?" tanya Lili terdengar bercicit. Jantungnya berdegup tak karuan ditatap sedalam ini oleh suaminya.

"I said i love you," ucap Atlas seraya tersenyum saat melihat semburat merah yang menghiasi pipi istrinya.

"Ih Mas!" ujar Lili tertahan seraya mendorong pelan suaminya. Membuat pelukan mereka akhirnya terpisah begitu saja. "Ada anak - anak." lanjut Lili yag membuat Atlas menahan tawanya.

"Sayang, mereka udah dengar semuanya dari dua puluh menit lalu." ucap Atlas seraya terkekeh pelan. "Aku yakin mereka juga udah liat aku pangku kamu tadi," tambah pria itu lagi dengan jahil.

"Mas ih!" hardik Lili lagi dengan tertahan. Atlas menarik istrinya keluar dari kamar bayi mereka, tangannya menggenggam Lili dengan lembut seraya tawa beberapa kali keluar dari mulutnya saat mendengar istrinya menggerutu.

"Ayo tidur, kurang istirahat gak baik untuk ibu menyusui, nanti produksi ASInya jadi gak lancar loh," bawel Atlas seraya menahan tawanya saat mereka sampai di ranjang mereka. Lili menurut walaupun masih ingin menggerutu.

Keduanya terbaring dengan saling berhadapan. Tidak ada ucapan yang keluar dari bibir keduanya. Hanya mata mereka yang saling bertukar pandang yang seakan mengkomunikasikan semua perasaan mereka.

Atlas tersenyum, sekali lagi terkagum dengan kecantikan istrinya. Tangannya terulur untuk mengusap surai istrinya yang saat ini sedang berbantalkan lengannya yang lain. Usapan itu seketika membuat Lili memejamkan matanya sebentar merasakan setiap kelembutan dan kehangatan yang suaminya berikan.

Lili mengikis jarak mereka, memilih untuk mendekat ke dada suaminya dan menguburkan dirinya pada pelukan ternyaman yang selalu didambanya.

Lili seketika mendongak. Teringat pembicaraan terakhir mereka sebelum meinggalkan kamar anak mereka. Pandangannya seketika bertemu dengan suaminya, seakan tahu apa yang akan terjadi, sebuah senyum lantas terbit di wajah tampan Atlas.

"I love you Mas," tutur Lili tanpa memutus kontak mata dengan suaminya. Atlas lantas mengecup lama kening istrinya. Tangannya tak tinggal diam, melainkan ikut mengusap kepala istrinya dengan lembut.

"I love you more My Silly," jawab Atlas sebagai respon, Lili mencebikkan bibirnya dalam sepersekian detik. "I'm not silly!" protesnya tak terima yang membuat Atlas lantas tertawa dan memeluknya lebih erat.

"Mas! Masa dari princess ke silly sih?" tutur Lili lagi masih belum selesai dengan aksi protesnya. Atlas terkekeh lagi.

"Terus kamu maunya dipanggil apa istriku?" tanya Atlas yang justru membuat Lili salah tingkah. "Ih Mas!" ujar Lili salah tingkah. Nadanya terdengar seperti protes tapi justru wajahnya yang bersemu mengatakan sebaliknya.

"Apa sayang?" goda Atlas lembut yang membuat Lili semakin menciut. Atlas tertawa lagi seraya mengecup puncak kepal istrinya.

Astaga! Gimana coba caranya Lili tidur kalau jantungnya party kaya gini?! Setelah Lili pikir - pikir, sepertinya dia tidak perlu nama panggilan yang lain lagi. Demi tuhan, mendengar Atlas memanggilnya dengan sebutan istri dan sayang saja rasanya dia sudah seperti mau pingsan.

THE END

Eits! Jangan sedih! Aku udah siapin extra part juga buat semuanya yaa, sampai ketemu lagi!!

The ManTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang