🍃JUARA 3🍃
Nur Azizah
Seperti biasa, hujan membasahi kota Bandung, menyirami tanaman kurang lebih sejam lamanya. Lalu bintang-bintang kembali muncul, menerangi malam yang gelap.
Hujan kali ini adalah hujan terakhir di bulan Juni. Hujan yang selalu mengantarkanku pada Rindu. Hujan yang mengingatkanku pada seseorang yang kucintai. Setengah dari hujan adalah memori yang membekas di ingatanku. Setetes dari hujan adalah bukti dari cinta kami tempo dulu.
Dua tahun yang lalu, tepatnya pada malam minggu. Waktu sakral untuk para pasangan untuk jalan. Restoran, kafe, alun-alun, pasar malam, selalu ramai dipadati oleh orang-orang yang bergandengan tangan. Termasuk aku dan Aril, kekasihku. Malam itu adalah malam pertama kami jalan setelah terikat status yang jelas.
Sebenarnya, aku tak tahu Aril mau membawaku ke mana. Saat kutanya, dia tak menjawab apa-apa.
Aril menaiki motornya dan mengikut sertakan aku di boncengannya. Aku dapat melihat betapa padatnya jalan raya ini. Termasuk melihat orang orang yang menepi, yang kuketahui sedang berteduh dikarenakan gerimis yang semakin lama semakin deras. Kuarahkan tanganku memeluk pinggang Aril yang dibaluti jaket tebal, pertanda bahwa aku kedinginan.
"Kak, kenapa nggak berhenti? Hujan deras ini," ucapku keras di dekat telingannya, takut Aril tak mendengar.
"Nggak pa-pa, Nay. Sekali-kali kita emang harus hujan-hujanan agar mengerti makna dari hujan."
Aku menaikkan sebelah alisku bingung, "Maksudnya?"
"nanti kamu juga bakal ngerti."
Aril melajukan motornya menerobos derasnya hujan membuatku dan Aril basah kuyup. Namun ditengah perjalan motor tiba tiba berhenti.
"ada apa kak?"
"mogok kayaknya"
"astaga, sudah hujan mogok lagi. Munkin inilah yang namanya sial,"seruku kesal.
"ini bukan kesialan tapi inilah yang namanya Takdir. Takdir yang membuat kita lebih lama untuk bersama. Ah rasanya sangat bahagia,"kata Aril lalu tersenyum kepadaku kemudian Turun dari motor serta ikut membantu ku juga turun dari motor besarnya. Aku mentapnya bingung.
"Sebenarnya kita mau kemana kak?" Tanya ku untuk kedua kalinya.
"Nanti kamu juga tau."
Dengan kesal aku mencubit mencubit lengannya, "dari tadi setiap aku nanya itu mulu jawabanya. Nggak ada yang lain apa yah?".
"Nggak ada tuh"
Bukk
Tasku mendarat indah di kepalanya membuatnya merintih kesakitan.
"Kamu jahat," kata Aril merajuk. Membuatku geleng geleng kepala. Aku berhenti berjalan membiarkan hujan tetap mengguyurku.
"Kak Ril emang kita mau kemana?" Tanya ku untuk ketiga kalinya.
Aril menghembuskan nafasnya, "fine, kita ke Taman," kata Aril mengalah.
Aku mengangguk. Membulatkan mulutku berbentuk huruf 'o' kemudian kembali menlanjutkan jalan tapi dengan tangan kami yang bertautan.
Hujan sudah mulai redah, satu persatu burung burung pun sudah berkeliaran di langit. Dan aku dengan Aril pun ssama masih berkeliaran di jalan.
"Tamannya jauh banget," gumamku pelan namun masih bisa di dengar oleh Aril.
"Udah dekat kok"
"Kenapa?"sambung Aril.
"Enggak"
KAMU SEDANG MEMBACA
Event; Kumcer
RandomEvent cerpen yang telah dilakukan oleh member Feedback Squad. 𝙋𝙚𝙢𝙗𝙚𝙡𝙖𝙟𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙗𝙚𝙩𝙪𝙡𝙖𝙣. 𝙄𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙙𝙞𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙙𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙨𝙞𝙢𝙖𝙠 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙠𝙪�...
