~ Novita Daniati ~
Ardio Regan atau yang biasa dipanggil Dio adalah seorang remaja berusia 15 tahun. Saat usianya menginjak 7 tahun, Dio harus menerima kenyataan pahit jika kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan pesawat. Hidupnya yang dulu bahagia bersama orang tuanya dan Sang Adik yang hernama Rehan harus hancur selepas kepergian orang tuanya.
Ketika itu Bibi dan Pamannya mengusir Dio dan Rehan dari rumah mereka sendiri dan berhasil menguasai seluruh harta peninggalan orang tua mereka. Ketika itu Dio yang masih berumur 7 tahun harus merawat dan mengurus Rehan yang masih bayi tanpa seorang pun yang membantunya.
Untung saja saat itu Dio berhasil menemukan sebuah gubuk kecil di tengah hutan untuk menjadi tempat tinggalnya bersama sang Adik kecilnya. Semenjak saat itu Dio harus bekerja keras banting tulang untuk mencukupi kebutuhannya dengan Adiknya dengan berjualan koran keliling. Panas, hujan tak pernah menyurutkan langkah Dio mencari sesuap nasi untuk adiknya itu.
Dio tentu bahagia jika jerih payahnya selama ini mampu membuat Rehan bersekolah seperti anak yang lainnya namun entah mengapa Rehan seperti tak menghargai seluruh perjuangannya dan berkesan tak bersyukur atas nikmat yang masih Tuhan berikan untuknya.
Seperti hari ini, Rehan yang duduk di tingkat 2 SMP terus merengek pada Dio karena ingin dibelikan sepatu baru.
"Bang, pokoknya Rehan mau Abang beliin Rehan sepatu baru!" Ucap Rehan.
"Sepatu yang lama kan masih bisa dipake kenapa harus beli baru? Kamu tau kan, Abang belum punya uang untuk beliin kamu sepatu baru?"
"Rehan malu Bang, semua temen-temen pamer sepatu baru mereka sedangkan Rehan cuma pake sepatu jelek! Pokoknya sebelum Abang beliin Rehan sepatu baru, Rehan gak akan mau sekolah!!"
Tentunya Dio bimbang untuk memenuhi keinginan Rehan, satu sisi Dio ingin membahagiakan Rehan namun di sisi lain Rehan sama sekali belum mempunyai uang. Untuk makan saja susah apalagi untuk membelikan Rehan sepatu baru yang nominalmyantak sedikit
Untuk berusaha memenuhi keinginan Rehan, Dio harus rela bekerja dari pagi hari hingga malam hari hanya untuk berjualan koran sampai menjadi seorang pengamen jalanan. Jika Dio boleh jujur, ia sangat lelah tapi demi kebahagiaan Rehan, apapun akan ia lakukan.
Seminggu berturut-turut Dio melakukan aktiviras tanpa istirahat sampai akhirnya Dio berhasil mengumpulkan uang dari keringatnya sendiri. Tak ingin berlama lama, Dio menuju toko sepatu untuk membeli sepatu untuk Rehan walaupun tak terlalu mahal asalkan baru dan bisa membuat Rehan bahagia. Tetapi karena terlalu kelelahan setelah itu akhirnya Dio sakit tapi dengan teganya Rehan malah mengabaikan Kakak kandungnya sendiri dan menolak mentah-mentah dikala Dio menyuruhnya untuk hanya sekedar mengambilkanya segelas air putih dan obat.
Hati mana yang tak tersakiti jika seluruh perjuangannya dihadiahi dengan kekejaman? Dio mencoba memaklumi sikap Rehan yang selalu dingin padanya karena Dio tau Rehan tak menginginkan hidup miskin seperti ini bersamanya. Tetapi mau menangis darah pun tetap tak akan pernah bisa mengubah seluruh keadaan yang ada.
Tak sampai disitu saat Dio masih berada dalam keadaan sakit, Rehan malah memaksanya untuk bekerja untuk kembali memenuhi permintaannya yang kedua untuk dibelikan ponsel. Tentunya itu membutuhkan uang yang tidak sedikit tapi lagi dan lagi Dio hanya bisa menuruti peemintaan Rehan tanpa mau membuat Rehan sedikitpun kecewa. Dalam keadaan sakit seperti ini, Dio harus menguatkan dirinya sendiri untuk bekerja lebih giat lagi. Satu hal yang Dio ingat, di dunia ini ia hanya mempunyai Rehan jadi ia tidak boleh membeuat Rehan bersedih. Apapun akan Di lakukan demi Rehan, itu janjinya pada alm. Ayah dan Ibunya.
Mungkin nasib baik masih memihak Dio, dikala Dio merasa bingung harus mendapatkan uang dari mana untuk membelikan Rehan ponsel tiba-tiba saja seorang Bapak baik hati memberinya sedikit uang karena ia telah membantunya mengejar maling yang mengambil tas miliknya yang berisi berkas berkas penting kantornya. Alhasil Dio bahagia karena kembali bisa memenuhi keinginan Rehan.
Banyak yang Dio korbankan demi melihat Rehan bahagia, Dio rela putus sekolah demi melihat Rehan menjadi anak yang berpendidikan nantinya, Dio rela tidak makan demi melihat Rehan bisa tidur dengan perut terisi, Dio rela menahan sakit dan tangisnya demi melihat Rehan bahagia karena keinginannya terpenuhi. Dio merelakan itu semua karena Dio tau hanya ia yang Rehan punya, sedari kecil Rehan tidak pernah mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya dan itu membuat Dio bertekad menjadikan dirinya Kakah, Ayah, sekaligus Ibu Rehan.
Namun pada suatu ketika Dio harus menerima kenyataan pahit ketika Rehan berniat pergi dari rumah untuk pergi tinggal bersama orang tua angkatnya, Rehan mengatakan jika ia telah bertemu dengan sepasang suami istri orang kaya yang memintanya untuk menjadi anak mereka karena mereka sendiri tidak mempunyai anak.
"Rehan, kamu tega ninggalin Abang?" Dio menahan tangan Rehan yang ingin meninggalkan rumah mereka. "Kamu tau kan, Abang cuma punya kamu. Jadi Abang mohon jangan pernah tinggalin Abang, kamu harus tau Ayah sama Ibu selalu bilang sama Abang untuk jagain kamu dan kita harus tetep sama sama"
"Tapi Rehan bosen hidup miskin! Rehan cuma mau hidup enak sama orang tua angkat Rehan, jadi mendingan Abang urusin diri Abang sendiri karena mulai sekarang Rehan bukan Adik Abang lagi"
Bagai dihantam ribuan pisau, Dio begitu sesak saat menangisi kepergian Rehan. Dio tak menyangka seluruh pengorbanannya selama ini berakhir menyakitkan, kenapa Rehan begitu jahat meninggalkannya seorang diri demi bisa hidup enak dengan orang tua angkatnya? Dan melupakannya yang merupakan Kakak kandungnya sendiri.
Seminggu setelah kepergian Rehan, kini Dio hanya hidup seorang diri. Rasanya sangat sepi jika Rehan tidak ada di rumah ini tetapi Dio juga ingat bagaimana sikap buruk Rehan yang tak mengakui ia adalah Kakak kandungnya sendiri dihadapan kedua orang tuanya saat ia mencoba menjemput Rehan pulang dari rumah pasangan suami istri itu. Hatinya begitu sakit ketika mengingat akan hal itu.
Namun Dio terkejud saat melihat kedua orang tua angkat Rehan yang datang mengunjungi rumahnya tiba tiba, usut punya usut ternyata mereka ingin memberi kabar jika sekarang Rehan sedang sakit keras di rumah sakit tetapi pihak medis tak bisa mendeteksi apa penyakit yang Rehan derita yang membuatnya selalu kejang-kejang sambil melototkan namanya dan memanggil nama "Abangnya" yang mereka yakini itu adalah Dio.
Dio tak bisa berhenti menangis ketika melihat Rehan yang terus kejang-kejam menahan sakitnya yang tertahan di mulutnya.
"A-bang... Ma-a-fin Re-han" Ucap Rehan terbata bata sambil mengeluarkan air matanya.
"Abang udah maafin kamu" Jawab Dio memeluk tubuh Rehan dengan erat.
"Re-han ba-nyak sa-lah sa-ma A-bang. Rehan dur-ha-ka sa-ma a-bang"
Dio tak tega jika harus melihat Rehan kesakitan seperti ini jka ini azab yang Tuhan berikan, Dio berharap semoga ini akan berakhir karena sungguh ia telah memaafkan semua kesalahan yang Rehan perbuat selama ini padanya. Tak ada kata yang indah selain "memaafkan" Dio tak mungkin membenci Adiknya sendiri.
Setelah mendapat kata maaf tiba tiba saja Rehan langsung memejamkan matanya. Dan Dokter menyatakan jika Rehan telah meninggal dunia saat itu juga.
"Rehann!!!" Teriak Dio dalam tangisnya ketika menerima kenyataan jika satu satunya orang yang ada di dalam hidupnya harus meninggal dengan seperti ini.
END
"Hargai orang yang banyak berkorban demi hidupmu karena tanpa kamu tau bukan hanya dirinya yang ia korbankan melainkan juga kebahagiaanya demi melihatmu bahagia"
KAMU SEDANG MEMBACA
Event; Kumcer
RandomEvent cerpen yang telah dilakukan oleh member Feedback Squad. 𝙋𝙚𝙢𝙗𝙚𝙡𝙖𝙟𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙗𝙚𝙩𝙪𝙡𝙖𝙣. 𝙄𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙙𝙞𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙙𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙨𝙞𝙢𝙖𝙠 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙠𝙪�...
