🍯 Karya : Vina 🍯
Seorang siswi yang terkenal akan sikapnya tidak bisa diatur, ia tidak suka jika ada seseorang yang mengatur hidup dan berkomentar dengan kepribadian yang ia punya. "Del, Lo jangan kayak gini terus dong. Lo gak cape masuk keluar BP Mulu?" gerutu teman Adelia.
"Ini hidup gue, Lo gak usah ngatur"
"Gue bukan ngatur Lo. Gue cuma mau ngarahin Lo ke arah yang bener, kasihan nyokap sama bokap Lo"
"Bacot!"kemudian ia berjalan meninggalkan temannya .
Saat ia berjalan dikoridor, tak sengaja tubuhnya bertabrakan dengan tubuh bidang milik seorang laki-laki yang sedikit lebih tinggi darinya. Ia kesal sambil memegang keningnya yang sakit.
"Lo kalo jalan pake mata dong!"
"Dimana-mana jalan pake kaki"
"Terserah" kemudian Adelia pergi menuju kelasnya dengan perasaan yang berkecamuk, menghentak-hentakan kakinya pada lantai disepanjang koridor. Ia menubruk beberapa kali siswa yang tengah menghalangi jalannya, karna tak ada waktu buat menyebutkan sepatah atau dua patah kata untuk berkata 'minggir'. Tak heran banyak yang tau jika Adelia memang siswi yang susah diatur meskipun ia adalah cucu dari seorang pemilik Yayasan Sekolahnya saat ini.
"Huhfttt, kesel banget gue hari ini." Ucapnya kalau menelungkupkan kepalanya di meja.
Tak lama, datang guru mata pelajaran yang hari ini mengajar dikelasnya. Guru tersebut memang dikenal akan keglamorannya dihadapan banyak murid yang melihatnya, berbeda dengan Adelia. Ia justru risih dengan pakaian dan semua perhiasan yang menggantung di seluruh tubuhnya seperti wahana permainan yang memakai antek-antek di luarnya, tak jauh seperti itulah.
"Adelia!" Teriaknya, seketika keadaaan kelas hening
"Hm"
"Kamu mau niat belajar atau tidak? Kalau tidak silahkan keluar dan tinggalkan pembelajaran ibu sekarang. Kamu disekolahin buat bener, malah gak bener"
"Makasih" tanpa disuruh Adelia langsung pergi keluar kelasnya dengan malasnya. Jujur saja ia sedang malas berdebat dan menerima asupan ceramah-ceramah yang masuk ke dalam telinganya, dan lebih baik ia keluar dan berdiam di rooftop sekolahnya. Sebuah tempat yang memang membuatnya selama ini damai dan bisa melupakan semua yang terjadi sesaat.
"Gak akan ada kemajuan jika trus diam disini" ucap tiba-tiba suara berat disekitarnya
"Ngapain Lo?"
"Kenapa? Gak boleh?"
"Ditanya malah balik nanya"
"Kenalin gue Arhan"
"Gak nanya"
Arhan tersenyum. Baru kali ini ia dicuekin oleh seorang perempuan disekolahnya, dan memang baru kali ini ia melihat lebih dekat seorang gadis yang bernama Adelia yang terkenal akan kenakalan dan seringnya masuk BP.
"Lo gak kepengen berubah gituh?"
"Emangnya kenapa? Ini hidup gue"
"Justru itu, hidup dipake buat hal yang berguna. Lo disekolahin buat apa? Buat pinter, akhlak Lo baik, banyak teman tapi gak salah pergaulan, bukan kayak gini"
"Lo siapa sih? So' ceramahin gue" ucapnya kesal
"Gue penunjuk jalan terang buat Lo"
"Paan si gak jelas"
"Pernah gue berpikir buat apa gue cape-cape sekolah, ngeluarin duit ini itu buat hal semacam seragam alat tulis, kadang uang saku gue habis gara-gara dipake bayar potokopi tugas yang hanya sebuah kertas itu. Yang sudah dipake langsung buang gituh aja. Saat gue ngerasa down, hidup gue berantakan, sering masuk BP, gak disangka seseorang masuk ke kehidupan gue. Dia bilang sama gue "Lakukan kebaikan selagi kamu hidup, karena kamu tak pernah bisa melakukan itu disaat kamu tiada nanti" dan dia juga beri gue motivasi lainnya"
"Gak disangka lama-lama gue ngerasa berarti ngejalanin hidup gue, dan gue mulai deket sama orang itu. Hidup gue jadi berarti gara-gara dia, tapi naas tragedi menimpanya dia kecelakaan waktu nyebrang pas gue jemput disekolah" ucapnya dengan suara sedikit parau
Ia merindukan seorang gadis yang kini telah tiada, yang telah meninggalkannya 2 tahun lalu.
"Del, tadi mamah dapat surat dari sekolah. Kamu buat ulah lagi?"
"Begitulah"
Mamahnya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putri semata wayangnya itu.
Ting!
Gue di depan rumah
Sebuah pesan masuk dari Regan pacar Adelia, ia langsung pergi menemui Regan.
"Tumben Dateng ke rumah?" tanya Adelia
"Gak boleh?"
"Haishhh bukan gitu, gak biasanya aja. Lo kan sibuk"
"Kebetulan hari ini gue lagi gak ada kerjaan juga."
Adelia ber-oh-ria. Kemudia datang ibunya Adelia menghampiri mereka. "Ehh ada Nak Regan, udah lama gak main kesini. Gimana kabarnya?" sapanya ramah
"Baik Mah, "
"Ibu kamu sehat? Kapan-kapan ajak main kesini, kumpul bareng-bareng"
"Sehat Mah, iya Regan nanti ajak Ibu kesini"
"Ya udah dilanjut lagi yah, Mamah mau ke Indomaret dulu. Kalo mau minum ambil aja yah nak"
"Iya Mah makasih"
Sepeninggal Ibunya Adelia ke luar. Diantara keduanya hanya hening. Tetapi disisi lain memang kedua remaja itu tengah saling merindukan satu sama lain. Tapi memang ego menyelimutinya dan tak berani mengucapkannya.
"Gimana sekolah?"
"Yahh gitu"
"Buat ulah lagi?"
"Haishhh, kenapa semua orang bilang gue buat ulah sih?! Padahal yang gue lakuin itu untuk kebaikan sendiri, haishhh bete"
"Ya udah, jangan cemberut lagi dong, ntar cantiknya ilang" candanya dengan memainkan pipi tembem Adelia
"Ihhh apaan sih, ntar makin tembem tau" cebiknya sebal
"Yahh gak papa, ntar enak kalo dicium"
"Ya ampun, Lo diajar darimana kayak gitu Gan?" tanyanya takut
"Ada aja" seringainya
Adelia bergidik ngeri. Ada sesuatu yang aneh dengan sikap Regan setelah mendapatkan suatu pekerjaan yang memang terkadang ia tidak pernah saling bertemu sapa.
"Ntar malem kosong kan?" tanya Regan
"Heem. Kenapa?"
"Pengen keluar, mau?"
"Mau mau mau, kapan lagi coba keluar sama pacar"
"Hehehe, iya maaf juga gue jarang ada waktu buat Lo"
"Ehh btw, kenapa Lo suka sama gue?" Tanya Adelia
"Gak ada alasan gue buat suka sama Lo, sekalinya gue suka tetep suka. Dan gue juga gak liat Lo dari fisik dan apapun itu, gue yakin dalam hati Lo ada sesuatu yang bikin gue tertarik sama Lo"
"Hmm..aneh yah"
"Bukan aneh, tapi ajaib" lalu tawanya meledak.
Dan hari itu juga adalah hari bahagia bagi mereka meski memang waktu dan tempat terkadang membuatnya terbatas untuk sekedar bertemu sapa. Tapi bagi mereka se sebentar waktu yang mereka lalui adalah sebuah moment dimana haruslah banyak tersimpan kenangan, daripada waktu banyak yang di lalui tetapi tak ada hal yang berkesan diantaranya.
Dan malam ini mereka tengah berada di suatu tempat yang memang ramai jika malam mulai menyambut, banyak para anak remaja yang hanya sekedar nongkrong atau berduaan dengan pacarnya masing-masing.
Adelia dan Regan memilih tempat yang tidak terlalu banyak orang, ia lebih memilih tempat dekat sebuah pohon yang diterangi lampu kerlap-kerlip disekitarnya dan hiasan meja yang membuat suasana dan hiasannya makin terasa dikeduanya.
Tanpa disadari Regan membawa sebuah kotak kecil yang lucu, dan membuka pelan dengan dihadapkan kepada Adelia. "Del, Lo mau kan jadi istri gue?"
Tak bisa berkata apa-apa, Adelia diam seperti patung. Tetapi tak lama, kepalanya mengangguk. Ia menerima lamaran dari Regan. Keduanya saling berpelukan tak banyak orang diam-diam memotret mereka berdua.
KAMU SEDANG MEMBACA
Event; Kumcer
De TodoEvent cerpen yang telah dilakukan oleh member Feedback Squad. 𝙋𝙚𝙢𝙗𝙚𝙡𝙖𝙟𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙗𝙚𝙩𝙪𝙡𝙖𝙣. 𝙄𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙙𝙞𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙙𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙨𝙞𝙢𝙖𝙠 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙠𝙪�...
