~ Naila Desvita Anggraini ~
Pada suatu hari, di sebuah desa terdapat sepasang Sahabat yang saling menyayangi dan menjagai antara yang satu dengan yang lainnya. Mereka berdua selalu bersama dalam setiap hal diantaranya; mandi bersama, makan bersama, pakaian yang selalu couple-an atau sama dan selalu bersekolah dan kelas yang sama bahkan nama mereka hampir sama.
Mereka bernama Lina dan Luna.
Mereka memiliki kesamaan yang mirip dalam bentuk fisik, yaitu mata bulat dengan Lina yang memiliki bola mata berwarna abu - abu, sedangkan Luna berwarna cokelat terang, rambut yang berwarna pirang asli khas keturunan Indonesia-Jerman, pipi Lina yang chubby dan Pipi Luna yang tirus, tinggi tubuh mereka sekitar 175 cm dan sama - sama penyuka Cokelat.
mungkin kalian berpikir apa perbedaan yang mencolok dari Mereka?
Perbedaan Mereka ada pada sifat.
Lina memiliki sifat yang lembut, sabar, ceria dan berpikiran luas, sedangkan Luna, dia lebih cenderung kasar, urakan, pendendam dan selalu ber-spekulasi pendek atau mengambil keputusan tanpa memikirkan dampaknya bisa dibilang berpikir pendek.
Baiklah, dari persamaan dan perbedaan di atas, Kita sudah bisa memilih untuk berteman baik dengan siapa, kan?
*******
Suara kicauan Burung yang selalu aktif di Pagi hari sebagai alarm dan penyemangat untuk menyambut aktivitas seharian. Luna yang masih bergelung di bawah Selimut-pun menggerutu kala mendengar suara ketukan Pintu yang mengganggu rasa Ketenangan abadinya yang sekarang sirna.
tokk! tokk! tokk!
"Luna! bangun, yukk. Lina bawa Roti sandwich buatan Bunda lho!" Rayu Lina dibalik Pintu bercat Putih dengan Papan hitam terplakat cantik di Pintu tersebut dengan tulisan, 'yang ganggu Gua, Gua tendang ke Pluto'.
Lina sebenarnya ingin mencak - mencak sedari tadi, tetapi jika Luna sudah kasar dan Lina membalasnya dengan kasar yang ada malah baku hantam.
"bangun dong, Lun!"
Luna yang tak tahan dengan suara emas seperti Bidadari yang berhati kaca yang mudah pecah-pun luluh dan membukakan Pintu untuk Lina tanpa mau melepas Selimutnya, "apasih! Pagi - Pagi buta udah hampir ngajak baku hantam aja deh!"
"Gue ngantuk tahu!" decak Luna dengan wajah bantalnya.
Lina yang melihatnya tak tega dan merasa bersalah karena sudah mengganggu ketenangan Luna. Dengan berjalan perlahan memasuki Kamar Luna tanpa dihiraukan oleh sang empunya dan menaruh nampan yang berisi Enam Buah sandwich dengan Dua gelas Susu Cokelat diatas nakas.
"yuk makan!" ajak Lina dengan tampang polos dan dewasanya sambil duduk diatas Kasur.
Luna memutar bola matanya malas, tapi tak urung mengambil Roti sandwich itu Dua biji dengan cepat sebelum lengannya dipukul oleh sang sahabat. Lina yang melihat Luna mengambil makanan dengan rakuspun dengan cepat mengeluarkan nasihat yang sudah sering bahkan menjadi rutinitas bagi Mereka setiap makan bersama saat remaja seperti sekarang. "Luna! Aku kan udah pernah bilang, jangan ambil makanan berlebihan. nggak bakal Aku ambil juga kok. Kan Kita udah punya porsi makanannya masing - masing."
Tanpa menghiraukan nasihat sang sahabat, Luna berjalan menuju meja Belajar dan mengambil benda pipih yang sudah seperti pacarnya sendiri.
"Luna.. makan nggak boleh sambil jalan atau main HP. Itu sama saja kamu nggak menghargai makanan tersebut, Luna." peringat Lina dengan suara lembutnya.
Luna berdeham, lalu berjalan lagi untuk mengambil Susu Cokelat kesukaan Mereka berdua.
Setelah minumannya tandas, Luna berucap, "Thanks. Gua mandi dulu."
Lina menggelengkan kepalanya saat melihat tubuh Luna yang sudah tertutup sempurna dengan Pintu kamar mandi yang terdapat di dalam Kamar Luna.
Setelah beberapa menit berlalu, Lina dan Luna berjalan menuju sekolah baru Mereka.
yups! Mereka baru memasuki masa SMA, yang berarti mereka berdua akan menjalankan MOS.
Lina berjalan dengan riang sambil memberikan senyuman dan sapaan kepada orang yang dikenalnya dengan wajah coretannya. Mungkin saat ini tidak zaman lagi dengan mengerjai anak MOS untuk membawa atau memakai barang yang aneh - aneh, tetapi di Desa Sidomuncul, Sekolah SMA masih menerapkan peraturan itu untuk menghormati para anak OSIS.
Berbeda dengan Luna yang berjalan di belakang Lina dengan santai dengan kedua tangannya yang dilipat di belakang kepala sebagai sandaran sambil bersiul dengan jalan pongahnya tanpa memakai perlengkapan tambahan seperti Lina.
Lina yang melihat Sahabatnya hanya berjalan santai pun memperlambat langkah semangatnya.
"Kamu kok enggak ada semangat - semangatnya sih?!" Tanya Lina dengan heran.
Biasanya, anak - anak yang mau masuk Sekolah setelah sekian lama libur dari penderitaan tugas akan bersemangat untuk menjalani hari pertamanya, apalagi mereka berdua akan masuk ke Sekolah favorit didaerah pedalaman Solo ini.
semakin bertambah semangat harusnya.
"Lu-nya aja kali yang terlalu seneng, udah mah senengnya melampaui batas. Dibawa santai aja, nanti ujung - ujungnya juga Lo ngeluhnya ke--Gua."
Lina hanya membalas dengan cengir tak berdosa.
Setelah sampai mereka berbaris di Lapangan SMA 1 Sidomuncul.
"Assalammualaikum.. selamat pagi adik - adik semua. pertama Kita kenalan dulu ya? Nama Kakak Juan Fernanda, biasa dipanggil Juan, menjabat sebagai Ketua Osis. Nah, sekarang yang nggak pake atribut lengkap yang sudah disuruh Kakak OSIS, bisa maju ke depan!"
Semua peserta MOS menengok Kanan - Kiri, siapa yang akan maju ke depan karena tidak memakai barang yang disuruh Kakak OSIS?
Luna dengan santainya berjalan maju dengan Baju Putih dan rok Biru khas anak SMP yang sudah agak kecilan dengan santai.
Kakak OSIS yang melihatnyapun berdecak sebal dan ada yang berkomentar, 'calon cabe - cabean ini mah', Tetapi tidak dihiraukan oleh Luna.
Dilihat hanya Luna yang maju, Juan-pun bertanya lagi, "Nggak ada yang maju lagi kah?"
semuanya diam.
"Baiklah. Kita tanya temen kalian yang terhormat ini." ucap Juan dengan sinis.
Luna yang mendengarnya berdecak.
gila kali ni orang! mau malu - maluin ceritanya? Oke, Gua ladenin!
"Kenapa Kamu nggak pakai atribut yang disuruh sama saya?" Tanya Juan selaku Ketua OSIS.
bergeming, Luna tetap diam dengan wajah songongnya menunduk hanya untuk formalitas.
"Jawab!" sentak Juan dengan kesal dan Peserta MOS karena cuaca panas sudah membuat mereka merasa terbakar.
"Urusannya sama Kakak apa? Gue disekolahin buat nambah akhlak bukan buat nindas orang lain. Tapi LO?!" Luna menggelengkan kepala tak percaya lalu melanjutkannya, "Dengan membawa nama OSIS yang terhormat. salah satu Organisasi kepercayaan Guru melakukan hal penindasan dengan alasan menguatkan mental para peserta MOS? halah! bullhit!"
*******
Waktu berlalu dengan cepat, sekarang Mereka sudah menjadi Murid SMA 1 Sidomuncul. sejak kejadian saat MOS, banyak yang menyukai Luna secara terang - terangan ataupun diam - diam dengan menaruh surat kagum atau surat cinta di loker depan Kelasnya. X IPA 1.
Sejak itu pula, Lina menjauh dari Luna.
Sudah tidak ada suara teriakan Lina yang menggema dirumahnya, sarapan bareng dengan Lina dan semuanya seakan hanya tinggal menjadi kenangan saja.
Bahkan, sekarang Lina bergabung dengan Geng Kakak kelasnya yang berpakaian seperti cabe - cabean.
Luna-pun tak peduli, Ia tetap menjalani hari - harinya seperti biasa walaupun terkadang merasa kesepian.
Tidak ada yang mau berteman dengannya.
Mungkin Mereka berpikir Luna kasar dan urakan, sehingga tidak ada yang mau berteman dengannya.
Padahal itu hanya penampilannya, bukan menampilkan sifatnya.
bagaimanapun Luna, Ia bersyukur masih ada yang mau berteman dengannya.
Galang Erlangga, namanya.
Cowok yang memiliki paras tampan dengan kulit Putih yang sangat kontras saat berkontekan langsung dengan Matahari.
Sungguh manis rasanya, saat mengingat kemarin Galang menembaknya dan memintanya menjadi Pacarnya. Luna yang memiliki perasaan yang sama menerimanya dengan senang hati.
Namun, sekarang tidak lagi. Hari ini, tepat pada sore hari Ia dikunci di Kamar Mandi dekat Gudang Sekolahnya, karena saat Ia ke Kamar Mandi biasa sedang rusak semua.
Sialnya, ada seseorang yang membully Luna saat di Kamar Mandi seperti sekarang ini.
"apaan si LO?! GAJE banget tahu nggak? Bocah sih. Mainnya labrakan anjir!"
Seseorang yang membullynya menggeram kesal, tak terima. "BERISIK ANJING!"
buset ngegas.
batin Luna bergumam dan seketika sebuah tamparan mengenai pipinya.
"Lo tahu? Gua udah suka sama Galang dari lama dan dengan mudahnya lo ambil? Dulu, juga Gua suka sama Juan, dan lo ambil juga. DASAR JALANG!"
PLAAKK!!
Panas. itulah yang dirasakan Luna di Pipinya.
Orang itu tersenyum smirk lalu menyalakan full lampu di Kamar Mandi.
Luna dengan mengerjapkan mata melihat siapa yang berani membullynya, dan seketika matanya memanas.
LINA??!
"Hahaha, kaget? Lu kira selama ini Gua ngejauhin Lu buat apa? Gua kira Lu cukup tahu diri,.. tapi ternyata nggak sadar - sadar juga?!"
"ANJING, emang!"
sreettt!!
sreettt!
Tangan Luna digoreskan dengan Pisau lipat oleh Lina.
Luna tidak menjerit atau apa pun, Ia diam.
"Lin.. kalau memang persahabatan Kita rusak cuma gara - gara cowok, terus Lu anggep kebersamaan Kita itu apa?" ucap Luna dengan suara yang pilu.
Lina ingin membalas, tetapi Pintu Kamar Mandi terdobrak dengan cepat ia menendang kepala Luna hingga mengeluarkan darah, namun tak sampai pingsan lalu buru - buru pergi melewati atap.
Luna yang melihatnya ingin berteriak, namun tak kuasa. Saat melihat siapa yang mendobrak Pintunya, ternyata Galang dan anak Gangnya.
"OMG my bebep Luna kenapa?" Teriak shock Chan yang terkenal dengan humorisnya.
Galang tak menghiraukan, Ia buru - buru menghampiri kekasihnya lalu melepas ikatan Luna dan mendekapnya erat.
"Sorry, babe. Aku lama menolong kamu." ucap Galang bersalah.
Luna tersenyum, lalu mengecup Pipi Galang sekilas. "Nggak apa - apa, Sayang. Yang penting Aku nggak kenapa - napa."
Kejadian romantis itu terpaksa berhenti sejenak karena mendengar suara Vahri dengan langkahnya yang tergesa - gesa.
"Lang. Lina..."
Luna seketika melepas dekapan Galang lalu berusaha bisa berdiri.
"Apa?? Apa yang mau Lo omongin tentang Sahabat GUA?" teriak Luna kesal karena nama Sahabatnya disebut - sebut.
"Sorry, Lun. Lina ke tabrak truk saat mau keluar dari area sekolah."
DEG!
Seketika pasokan oksigen yang berada di Paru - Paru Luna menghilang.
tanpa ba-bi-bu, Luna bergegas keluar menuju Depan Sekolahnya dengan Pakaiannya yang sudah penuh darahnya dengan tertatih.
"Luna!"
Tak menghiraukan, Luna segera memasuki kerubungan orang - orang yang tengah melihat kejadian itu.
Luna tertunduk lesu, menghampiri sahabatnya yang sudah terkapar dengan darah ditubuhnya hingga kepalanya.
"Lina..."
"Hiks.. LINA JANGAN TINGGALIN GUA!"
Tangis pilu Luna pecah seketika melihat keadaan Lina.
"Lu mau Galang? Ambil, Lin. Gua nggak apa kehilangan dia daripada kehilangan lo. LINA BANGUN...!!!"
Lina yang masih bisa merasakan segera mengangkat tangannya lalu memegang Pipi Luna sebelum nyawanya diambil Tuhan.
"Lun.. maafin gu--gue ya... Gu--gue sayang lu. Jaga kese--kesehatan ya, jangan suk---suka marah - marah, UHUK! Maafin Gua yang udah bikin lu sa--sakit kek gini. gu--gue sa--sayang lo Lu--luna. mungkin, in--ini azab Gue ya--yang lupain sa--sahabatnya.."
"I lo--love you, my best friend forever!" Dan Tangan itu melemah terjatuh di dada Lina.
"LINAAA!!!"
***END***
KAMU SEDANG MEMBACA
Event; Kumcer
RandomEvent cerpen yang telah dilakukan oleh member Feedback Squad. 𝙋𝙚𝙢𝙗𝙚𝙡𝙖𝙟𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙗𝙚𝙩𝙪𝙡𝙖𝙣. 𝙄𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙙𝙞𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙙𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙨𝙞𝙢𝙖𝙠 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙠𝙪�...
