What If I Kill The Bird?

6 1 0
                                        

~ Tiara Ezralina Hutabarat ~

"Jadi kau datang ke sini karena matamu sakit?"
Seorang gadis tertawa kikuk, mengusap tengkuknya. Matanya melirik sang psikiater takut-takut. "Sebenarnya tidak sakit sih...."
Sang psikiater lantas menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya. Ia membolak-balikkan data yang diterima lalu memandang gadis berambut putih itu dengan serius. "Kalau matamu sakit, kau bisa ke dokter mata, Miss—"
"Puan. Aku lebih suka dipanggil Puan."
"Baiklah. Di sini kau berkata bahwa kau merasakan perih setiap kali membuka mata. Namun orang-orang mengatakan kau gila karena nyatanya matamu tidak sakit."
Puan membasahi bibir bawah, mengangguk-angguk.
"Kau sudah berulang kali ke dokter mata tapi hasilnya tetap sama. Tanpa resep tanpa obat padahal matamu semakin hari semakin perih."
Lagi, Puan mengangguk setuju.
"Baiklah," sang psikiater memandang Puan lekat-lekat, "bisa katakan padaku bagaimana matamu?"
Puan mengerjap, menjilat bibir bawahnya. "Sebenarnya, dok," jeda sejenak. Puan mencondongkan kepala untuk menatap sang psikiater lebih dekat, "sebenarnya... aku tidak tau kenapa mama menyuruhku kemari."
"Ah," sang psikiater mendesah, "kau merasa seharusnya kau dibawa ke dokter mata?"
Puan mengacungkan ibu jari.
Hening sejenak. Reaksi Puan membuat sang psikiater berpikir sejenak sebelum mengambil sebuah kertas lalu mencoretinya. "Ini. Aku seorang dokter mata. Aku mengambil s2 sebagai psikiater," bohong sang psikiater asal sembari menunjukkan sebuah kertas.
Bodohnya Puan percaya.
"Jadi, bisa kau ceritakan masalah matamu sekarang?"
Kalau begini, Puan baru yakin. Gadis itu membetulkan posisi duduk. "Mataku selalu memerah. Warnanya kayak darah segar."
Tanggapan sang psikiater hanya senyum manis. Itu justru membuat Puan sedikit resah. Apa dokter mata ini tidak bisa melihat matanya memerah?
"Kau melihat mataku, 'kan?" tanya Puan, memastikan.
Lagi dan lagi, balasan sang psikiater hanya anggukan dibarengi senyum kecil.
"Sejak kapan kau merasakan sakit di matamu?" Akhirnya sang psikiater bertanya lagi.
Semua animasi kembali berputar di kepala mungil Puan. Gadis berumur 16 tahun itu menunduk, memainkan tangan.  Sebagai pasien, ia merasa senang akhirnya tidak dibalas dengan 'matamu tidak memerah. Apa kau berhalusinasi?'. Namun keheningan di ruangan putih dengan wanita yang tengah menunggunya— ini sungguh tidak nyaman.
"Dokter," Puan menggaruk tengkuk, ragu, "kau pernah mendengar cerita anak-anak?"
"Semua orang pernah mendengar cerita anak. Yang manakah maksudmu?"
"Yang... burung."
"Ehm, mungkin aku melupakan yang itu. Bisa kau ceritakan keseluruhannya."
Justru dengan senang hati Puan akan menceritakannya. Gadis itu memulai dengan tangan bergoyang-goyang memeragakan. "Itu. Semua manusia sebenarnya dikendalikan. Aku, dokter, papa, mama, semuanya. Emosi kita dikendalikan."
Si psikiater hanya mengangguk-angguk.
"Kita dikendalikan oleh 5 burung. Mereka burung emosi. Satu buruns satu sukacita, satu dukacita, satu marah, satu jijik, dan satu takut."
Lagi dan lagi psikiater itu mengangguk.
"Burung-burung ini tinggal di gunung yang sangat jauh. Mereka selalu terbang tinggi, melayang di udara. Sayap mereka bagus. Saat berkibar, kita bisa melihat kepakan bulu-bulu lembut yang amat elok. Terlebih warna legam mereka jauh lebih bersih dan enak dilihat daripada merak."
Jeda sejenak. Puan menyesap teh yang disediakan si psikiater.
"Saat mereka terbang tinggi, kita jadi kurang emosional. Tapi kalau mereka sedang mengitari kita, kita bisa jadi sangat emosional dan labil."
Puan berhenti sejenak. Memperhatikan setiap ekspresi yang dikeluarkan sang psikiater. Setelah memastikan sang psikiater menyimak, Puan mengajukan pertanyaan.
"Jadi," sang psikiater mendelik sedikit, "apa dokter pernah mendengar cerita itu?"
"Aku baru pertama kali mendengarnya. Cerita yang menarik."
"Tapi tidak buatku." Puan mendesah setelah mengatakannya. Sedetik kemudian maniknya mengedar. Memandang ke seluruh ruangan tanpa beranjak sedikit pun dari kursi.
"Apa burung-burung itu ada hubungannya dengan matamu?"
Puan tersentak dari lamunannya. Terkejut, ia melotot kaget pada sang psikiater yang tampak sabar. Kemudian Puan mengangguk-angguk cepat menyetujui pertanyaan sang psikiater.
"Ada. Burung-burung itu penyebab mataku sakit."
Sang psikiater menyimak.
"Kau tau, dok?" Puan tersenyum jahil lalu berkata, "aku membunuh salah satu dari mereka."

Evne
Mempersembahkan
What If I Kill The Bird?

Berjalan menyusuri hutan. Di tengah tingginya pepohonan, seorang gadis berpipi gempal bergidik memandang tanah-tanah basah akibat hujan deras semalam. Bibirnya maju, cemberut. "Ah, kenapa sih kita harus ke sini? Kan kaki Puan jadi kotor!" Gadis itu mengeluh membersihkan kaki pendeknya dari lumpur
Tak ada yang menanggapi celotehan bocah berumur 8 tahun. Puan menjadi semakin sebal dan menginjak-injak lumpur agar memercik mengotori kaki orang-orang di sekitarnya. Ekspresi kesal membuat Puan senang. Dia tertawa kecil melihat Jack, sang sepupu, mengaduh lalu mencubit pipi Puan keras-keras.
"Jack bego, Jack bego," ledek Puan sontak membuat semua orang di sekitarnya menggelengkan kepala. Siapa yang ngajarin anak kecil ngomong kasar. Aduh...
Puan bosan mendengar para dewasa membicarakan masalah busur dan sebagainya. Ia memilih berjongkok melihat apapun yang ada di bawah. Dahi Puan mengernyit melihat daun-daun secara random bergerak sendiri. Apa ada sesuatu bersembunyi di dalamnya? Puan menunduk, membuang dedaunan. Mendapati anak burung jerpit di antara ranting, Puan menyungging senyum lebar.
"Kenapa? Kakimu sakit?" tanya Puan nyaring melepaskan ranting-ranting itu. "Bego sih. Makanya bego jangan dipelihara!"
Burung berwarna legam itu hanya memandang Puan. Atau hanya perasaan Puan saja kalau burung itu tampak tertarik padanya. Puan menggigit kuku, mendekatkan muka. "Kenapa? Kau mau berterimakasih? Gak usah deh! Aku gak suka sama kamu soalnya."
Burung itu mengangguk.
Namun saat Puan ingin mengambilnya dan memamerkannya pada keluarganya, burung kecil legam tersebut keburu mengepakkan sayap, terbang bebas di udara. Sedikit membuat Puan kecewa dan mengumpat. Namun akhirnya ia kembali menyengir riang melompat-lompat kembali ke tempat di mana keluarganya berkumpul.

***

"Puan kesal."
"Puan benci di sini."
"Di sini kotor, bau, sumpek."
"Puan-kan orangnya bersih, cantik, wangi!"
"Puan gak suka di sini!"
"Kapan sih kita pulang?"
"Mana makanannya bau basi lagi. Eww!"
Di belakang beberapa orang menggelengkan kepala, lelah. Beberapa lagi sibuk berbisik, "terlalu dimanja sih." Seberapa banyak Puan ditenangkan, bocah itu selalu menggembungkan pipi, mengeluh-mengeluh dan mengeluh. Sesuatu yang menambah keruhnya suasana. Apalagi sejak daritadi anak cowok tidak mendapatkan buruan untuk dimakan.
"Masa makan malam kita mie instan?" cicit Puan begitu mendengar mamanya berbicara pada sang sepupu. "Mama-kan udah janji nanti Puan makan daging rusa!"
"Puan, sayang, daging rusa itu gak enak. Enakan mie instan," ucap mama penuh kesabaran.
"Daging kadal ada. Mau?" ledek Jack mengambil cicak yang kebetulan lewat lalu melemparnya pada Puan. Pastilah Puan menjerit-jerit kesetanan berlari kencang dari pondok. Jack? Terbahak sampai terguling-guling.
Setidaknya Puan diam untuk sementara waktu.
Puan berjalan mengitari tingginya pepohonan. Gemerisik angin sepoi-sepoi menerbangkan beberapa daun, menyejukkan tubuh Puan. Puan duduk di salah satu batu besar dekat sungai yang jaraknya hanya beberapa meter dari pondok. Gadis itu memajukan bibir, bete. "Masa makan malam cuma mie? Gak enak ih."
"Enakan di rumah. Makan ayam, pizza, terus ada waffle cokelat. Di sini...," Puan menatap jijik lumut di antara bebatuan, "cuma ada hijau. Jijik!"
"Puan gak suka makan begituan. Puan—"
Suara burung terdengar. Kicauan burung menggelegar sedemikian rupa membuat Puan menoleh sempurna lalu takjub. Pemandangan yang sungguh mengagumkan. Barisan burung legam melintasi langit biru dengan sayap dilebarkan sempurna. Puan yang terduduk sampai berdiri lengkap dengan mulut terbuka.
Merasa diperhatikan, salah satu dari mereka melihat Puan lalu terbang rendah mendekati Puan. Sosok yang sama dengan yang baru saja Puan tolong. Puan mengernyit, menggerutu, "kau enak ya. Aku juga pengen jadi burung."
Burung itu mendekat. Semakin dekat semakin cantik saja kelihatannya. Bulunya memang begitu bersih dan lembut. Puan mematung saat burung itu berhenti semeter di depannya, menunduk seolah memberi hormat.
Puan mengernyit. Apa burung itu sedang berterimakasih?
Ragu, Puan melangkah mendekat. Burung itu tidak beranjak. Masih dengan posisi sama.
Selangkah lagi.
Burung itu mengadahkan kepala.
Selangkah lagi.
Burung itu membuka sayap lebar-lebar berniat berlalu dan kembali ke barisan. Namun detik berikutnya pekikan terdengar. Pekikan amat nyaring nan menyiksa. Bulu-bulu berjatuhan. Percikan darah memuncrat kemana-mana yang kemudian mengalir deras. Detik berikutnya terdengar teriakan,
"MA, PA, JACK BEGO, KITA HARI INI MAKAN DAGING BURUNG YA!"

***

"Setelah itu, apa yang kau rasakan?"
Puan mengusap dagu, berpikir serius. "Aku... tenang."
"Tenang?"
"Iya."
"Kau tidak merasa bersalah?"
"Kenapa aku harus merasa bersalah?" Puan menggoyangkan kaki, dia memiringkan kepala menatap sang psikiater dengan jenaka, "diakan cuma burung."
"Burung ya," sang psikiater membetulkan posisi duduk, "jadi dia hanya burung biasa?"
Puan menggeleng cepat. "Sudah kubilangkan aku membunuh salah satu dari mereka?"
"Ya."
"Tapi... setelah itu hidupku berubah."
Puan merasakan keringnya tenggorokan. Cepat-cepat ia menyesap teh, menegaknya sampai habis.
"Berubah seperti apa?"
Mata Puan mendelik. Memandang sang psikiater dengan sempurna. Membiarkan keheningan memenuhi ruangan. Menyisakan kecanggungan yang sangat mendalam.
"Aku," Puan berkata sembari memiringkan kepala, "aku menerima resikonya."
"Resiko seperti apa? Matamu menjadi sakit?"
"Aku menjadi kosong."
"Kosong?" sang psikiater mengangguk-angguk seakan memahami maksud Puan.
"Aku benar-benar kosong."
"...."
"Aku... tidak bisa merasa sedih."
"...."
"Aku bisa merasakan semua hal dalam hidupku. Senang, marah, takut, dan jijik."
"...."
"Tapi untuk sedih... aku tidak merasakannya."
Suara deheman terdengar. Sang psikiater menghela napas. Puan mengatakannya dengan wajah datar sedikit disiram dengan rasa takut. Ya, sama sekali tak tersirat emosi sedih. Apa ini penyebab ia tidak menyesal?
"Semua pasien saya seperti itu," sang psikiater tersenyum profesional, "ada yang tidak bisa marah, ada yang—"
"Saat Jack meninggal, aku tidak sedih. Padahal dia satu-satunya sahabatku."
"Baik—"
"Tulangku patah saat aku mendaki. Tapi aku tidak merasa sedih."
"..."
"Setelah memakan daging burung, aku tidak menyesal. Tapi takut. Setiap hari aku gelisah. Aku takut. Aku merasa dikutuk."
"Membunuh hewan sebenarnya tidak baik untuk anak-anak."
"Tapi dia bukan burung biasa. Aku merasa sudah membunuh sisi kesedihan dalam hidupku."
"Bukankah itu bagus? Kau tidak akan merasa sedih seumur hidupmu?" tanya psikiater dengan suara lembutnya.
"Aku merasa kosong."
"...."
"Aku... tidak bisa merasa senang."
"Kenapa?"
Puan tersenyum nanar. "Saat tak ada hitam, kau tak akan merasakan putih yang sesungguhnya. Kau hanya tau itu putih, bersih. Tapi... kau takkan tau betapa bersihnya putih saat tak ada hitam."
"...."
"Aku tak merasakan kesedihan. Sampai kapanpun aku tak akan merasakan kebahagiaan. Aku tak tau apa itu bahagia yang sesungguhnya. Aku tak tau seberapa berartinya kebahagiaan tanpa kesedihan."
"Aku... menyesal pada apa yang kulakukan pada burung itu. Tapi hanya dalam perkataan dan pikiran. Sementara hatiku terasa datar."
Semua ekspresi itu masih melekat di mata si psikiater. Memang tak ada sirat kesedihan di sana. Hanya ada garis wajah datar. Memperhatikan gerak-gerik gadis ini juga percuma. Gadis ini hanya mematung di tempat.
"Baiklah. Aku selesai. Mataku tidak sakit lagi." Puan bangkit dari kursi, meraih tas selempangnya yang ia taruh di atas meja.
"Kau akan pergi sekarang?"
Puan menoleh, tersenyum ringan. "Mataku gak sakit lagi, dok."
"Kau bisa menemuiku kapanpun kau mau."
"Aku tau," kata Puan cengengesan, "walau mataku sebenarnya tidak sakit, kita akan bertemu setiap hari, dok." Dia melangkah girang keluar dari ruang konseling. Ruangan putih yang begitu mencekam. Setelah keluar dari sana Puan merasakan gemuruh yang sangat di dalam dada.
Dia menghentikan langkah.
Bersandar ke dinding.
Lalu air mata meleleh. Mengalir deras dari kedua pelupuk mata. Puan berjongkok, membenamkan kepala, menahan isakan yang begitu kuat. Untuk pertama kalinya ia merasakan sesak di dada setelah sekian lama.
Maka di sanalah Puan.
Berjongkok di depan ruang konseling, menangis tersedu-sedu.
Untuk pertama kalinya, ia merasa sedih.
Di belakang pintu konseling tampak seorang psikiater. Seorang wanita cerdas terpercaya dengan berbagai gelar bersandang di belakang namanya. Dia membuka jendela lebar-lebar. Detik berikutnya tangan kuning langsatnya berubah menjadi sayap lebar legam yang amat elok.
Wanita— burung itu mengepakkan sayap, keluar dari ruang konseling.
Diiringi dengan banyak burung legam yang sedari tadi mengelilingi ruangan.
"Jadi, siapa yang mau menjadi burung kesedihannya?"
"Aku saja."
"... setidaknya dia sudah berubah. Dia tidak membunuhku lagi walau tau ia sedang berbicara denganku."
***

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk segala sesuatu ada akibatnya.”

Event; KumcerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang