12 || Posesif

279 35 15
                                        

"Apa hubungan orang dewasa selalu begitu ya?" Pertanyaan Tabita dalam sambungan telepon membuatku mengerutkan kening

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Apa hubungan orang dewasa selalu begitu ya?" Pertanyaan Tabita dalam sambungan telepon membuatku mengerutkan kening.

"Begitu gimana?"

"Main cium-cium aja, dan menginap padahal baru kenal."

Dari segi usia, aku dan Tabita memang terpaut beberapa tahun. Dia lebih muda dariku, tapi sudah masuk ke dalam kategori dewasa. Hanya saja, seringkali dia merasa dirinya masih seorang gadis remaja. Aku memakluminya.

Padahal, cara pandang Tabita terkadang jauh lebih dewasa dariku. Untuk masalah perasaan, dan lawan jenis ... memang Tabita belum memiliki pengalaman banyak. Tapi kenapa aku selalu bercerita padanya? Karena aku senang setiap kali dia memberi pendapat secara logika, bukan berdasarkan hati.

Tabita orang yang selalu mengutamakan logika sejauh yang aku kenal. Terkadang dia sampai lupa, kalau dia seorang manusia yang juga punya hati. Selain itu, cara berpikirnya memang lebih rasional di bandingkan aku. Itulah alasan kenapa aku senang berbagi cerita dengannya karena aku senang mendapatkan pendapat yang tidak pasaran seperti orang kebanyakan.

"Bit. Aku nggak tau mesti menjelaskannya kayak gimana sama kamu, tapi ... nggak semua orang dewasa begini, kok." Aku menarik napas sebentar selagi memberi jeda. "Menurutku, cium pipi bukanlah masalah besar. Kalau soal menginap, itu memang kesalahanku. Eh, enggak sih, salahnya Arindi."

Tabita tertawa geli di tempatnya. "Jadi, gimana perkembanganmu sama si H itu?"

"Beberapa hari ini kita nggak ketemuan sih, tapi kita bertukar kabar setiap hari. Dan... kemarin dia kirim makan siang untukku."

"Ke kantor?"

"Pakai jasa pengiriman makanan."

"Baik juga orangnya. Pantesan mau dicium."

"Tabita!" jeritku dan dia tertawa lagi. "Dia memang baik, kok. Sejauh ini, dia memperlakukanku dengan baik."

"Syukurlah. Tapi, kamu ingat 'kan?"

"Ingat apa?"

"Ingat kalau kalian beda?"

"Iya bit. Aku ingat dan sadar akan batas yang membentang di antara kami." Kenapa mendadak dadaku terasa sesak ya? "Bit, nanti sambung lagi ya ceritanya. Aku mau pergi dulu."

"Oke. Hati-hati ya, Pris."

Setiap hari Jum'at aku libur bekerja. Beda dengan para pegawai pada umumnya, waktu bekerjaku hanya Senin-Kamis saja.

Di waktu liburku ini, aku sudah memiliki jadwal. Pagi hari, aku menebus obat rutin milik ayah dan ibuku di apotek, setelahnya aku menjenguk anaknya Safira yang sedang sakit—aku sudah berjanji padanya kemarin.

Saat di dalam perjalanan dari apotek ke rumah Safira, tiba-tiba saja terdapat panggilan masuk dari Harvey. Tapi, karena sedang menyetir, aku tidak dapat menerima panggilannya. Aku melipir sebentar di sebuah mini market untuk menerima panggilannya.

BATASTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang