"Ini bukan hanya tentang aku dan dia. Tapi tentang apa yang dia yakini dan apa yang aku takuti. Tentang batas yang tidak mungkin kami langkahi."
.
.
.
Sebagai perempuan Indonesia yang sudah memasuki fase quarter life crisis, tuntutan menikah sudah s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bodoh!
Ini semua karena kecerobohanku pada saat sedang menggunakan aplikasi kencan online. Seharusnya aku mengusap layar ponselku ke kiri, tapi entah kenapa aku justru mengusap layar ponselku ke kanan dan seketika muncul notifikasi 'match'.
Harvey, 30. Itulah nama serta usia laki-laki yang tidak sengaja 'match' denganku di aplikasi kencan online. Sekilas kulihat salah satu fotonya seperti Zayn Malik dengan potongan rambut fade man bun.
Ah, tidak! Aku kebiasaan halusinasi. Mana ada laki-laki di Jakarta yang mirip Zayn Malik? Mungkin ada, tapi bukan Harvey.
"Kamu jadi ketemuan nggak?" tanya Arindi yang entah sudah berapa kali sejak aku tiba di indekosnya.
"Nggak tau, Arindi Lingga Putri. Match sama dia tuh, sebuah kesalahan."
"Tapi kalian masih kontekan sampai hari ini, kan?" Aku mengangguk. "Kesalahan yang menyenangkan."
Aku tahu, Arindi sedang tersenyum sekarang. Walaupun sebagian wajahnya terhalangi gelas kopi karena dia sedang menyeruputnya.
"Udah lima kali dia ngajak ketemuan, tapi aku selalu kasih alasan sampai akhirnya batal."
"Jahat banget."
"Aku nggak jahat, Ndi. Tapi ... aneh aja harus ketemu laki-laki dari aplikasi kencan online."
Mendadak, Arindi mengubah posisi duduknya. Semula dia bersandar malas di kursi kerja, sekarang menjadi duduk tegak dan memakai kacamatanya.
"Aku salah dengar?" Dia menarik telinga kirinya. Aku menggeleng. "Prisa Mikayla, seorang perempuan ahli kencan online bilang kalau 'aneh aja harus ketemu laki-laki dari aplikasi kencan'. Hey!" Dia menjentikkan jari ke depan wajahku.
"Ahli banget?" Aku memutar mata malas. "Ndi, nggak ada yang bisa diharapkan dari aplikasi kencan online."
"Memang." Arindi mengangguk setuju. "Tapi, nggak ada salahnya ketemuan. Dengan dia mengajakmu ketemu sebanyak lima kali, itu udah cukup menunjukkan seberapa penginnya dia ketemu kamu, Pris."
"Aku takutnya dia kecewa, karena fotoku cantik banget di aplikasi itu, Ndi."
"Kamu memang cantik."
Aku mendecak. "Aku lebih suka dibilang lucu daripada cantik."
"Kamu lucu."
"Ah!"
"Astaga, Prisa. Ayo lah. Kamu harus move on!" Kugelengkan kepalaku sebanyak hampir sepuluh kali sampai terasa pusing. "Kamu harus tunjukin sama Radit, kalau kamu bahagia tanpa dia, Pris."
"Nggak gitu caranya, Arindi. Ini bukan soal move on dengan mengenal orang baru."
"Lantas apa? Kenalan dulu nggak ada salahnya, Pris. Kalau memang nggak cocok, nggak usah dilanjut. Kan, nggak semua laki-laki yang match sama kamu di aplikasi itu bakal dijadikan pacar, toh?"