"Ini bukan hanya tentang aku dan dia. Tapi tentang apa yang dia yakini dan apa yang aku takuti. Tentang batas yang tidak mungkin kami langkahi."
.
.
.
Sebagai perempuan Indonesia yang sudah memasuki fase quarter life crisis, tuntutan menikah sudah s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kukira Harvey bercanda. Ternyata dia serius beneran mau beli mobil.
Tapi, yang membuatku bingung. Kenapa dia kepikiran untuk beli atas namaku? Dan menyuruhku untuk memilih mobil mana yang kusuka.
Kepalanya habis kebentur apa, sih?
"Aku bukan orang Jakarta. Datanya nanti ribet, KTP kamu kan, Jakarta. Jadi kalau urus pajak dan sebagainya lebih gampang. Tenang aja, aku beli cash kok, bukan kredit. Jadinya kamu nggak usah khawatir dikejar tagihan. Aku cuma pinjam data aja. Semua aku yang tanggung. Itu pun kalau kamu nggak keberatan, sih. Kalau kamu keberatan ... ya nggak—"
Kutekan bibirnya pakai jari telunjuk. "Ini kalimat terpanjang pertamamu."
Dia tersenyum dengan wajah berseri-seri. Sepertinya dia memang pengin banget beli mobil. Mungkin sudah mulai lelah pakai taksi online?
"Kenapa nggak beli motor aja? Supaya bisa nyelip kalau macet? Kamu kan, emosian. Nanti cranky kalau kejebak macet pakai mobil dan nyetir sendiri."
Dia diam. Menggerakkan bibirnya sambil berpikir keras.
"Benar juga." Dia menghela napas dan bersandar di kursi. "Kalau motor, enggak deh."
Sejak awal kenal, dia memang kelihatannya anti motor banget. Masa iya, laki-laki tidak suka motor? Memangnya saat remaja dia ke sekolah tidak pakai motor?
Bukankah saat jaman dia remaja itu sedang ramainya balapan motor? Kota tempatnya besar pun terkenal dengan balapan motor liar yang sering masuk berita.
Apa sebenarnya dia memang anak baik-baik semasa remaja? Anak penurut yang ikut mobil jemputan sekolah?
Siapa sih sebenarnya laki-laki yang kupacari ini?
Harvey juga pernah beberapa kali memarahiku saat datang ke indekos pakai ojek online. Dengan alasan tidak safety.
Dia juga memarahiku saat tau kalau di rumah, aku sering mengendarai motor untuk ke minimarket. Padahal itu sangat wajar, kan?
Setelah minum kopi, kami ke indekos. Aku urung untuk pulang lebih cepat hari ini. Membayangkan kembali bertemu ayah dan ibu, lalu mengobrol saat makan malam membuatku sakit kepala.
"Kenapa? Kamu kayaknya anti banget sama motor."
"Nggak apa-apa. Nggak safety aja."
"Semua kendaraan aman kalau tau cara merawatnya dan benar mengendarainya. Nggak ugal-ugaln."
Harvey diam saja setelah mencuci kaki dan wajahnya. Dia cuma menunduk, duduk di sofa.
"Kalau udah takdirnya kecelakaan, mobil semahal dan secanggih apapun bakal tetap bisa membunuh orang di dalamnya. Pesawat pun bisa jatuh, toh?"
Seketika raut wajahnya berubah. Ada kemarahan di sana, tapi matanya berkaca-kaca dan dadanya naik turun seperti orang kehabisan napas yang habis berlari jauh.