"Ini bukan hanya tentang aku dan dia. Tapi tentang apa yang dia yakini dan apa yang aku takuti. Tentang batas yang tidak mungkin kami langkahi."
.
.
.
Sebagai perempuan Indonesia yang sudah memasuki fase quarter life crisis, tuntutan menikah sudah s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku memang kurang beruntung soal percintaan, dan pernah beberapa kali tidak pakai otak saat mencintai pasanganku. Tapi, untuk kali ini rasanya aku benar-benar kehilangan akal sehat sepenuhnya deh.
Akhir-akhir ini, aku jadi sering sakit kepala karena memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu ada di dalam kepalaku.
Apa lagi kalau bukan, Harvey, Harvey dan selalu Harvey.
Sejak dia mulai WFO lagi, rasa-rasanya ada yang berubah. Kalau menurut pengakuannya sih, dia sedang menyesuaikan diri untuk beradaptasi ulang dengan lingkungan kerja, mengatur waktu, jarak indekos ke kantor, juga banyak hal yang selama 2 tahun belakangan ini sempat freeze.
Sedikit aneh dan ada rasa kehilangan, karena aku hampir terbiasa dengan Harvey yang suka menganggu waktu kerjaku di siang hari. Yang tiba-tiba kirim link video kucing lucu di instagram, yang kangen pengin ketemu tapi gengsi dan akhirnya ngajak berantem.
Baru seminggu dia WFO, aku mulai uring-uringan dan overthinking parah.
Gimana ya enaknya? Aku udah kasih sinyal-sinyal, semacam kode untuk menyindirnya dari story instagram. Beberapa kali dia notice, tapi justru ngamuk karena rupanya benar-benar kesentil dengan sindiranku hehe.
Tapi, ya tetap saja. Aku tidak mendapatkan penjelasan apapun soal hubungan ini.
"Gimana kalau kita ketemunya dua kali aja dalam sebulan? Atau sekali dalam sebulan?"
Shit!
Dewa kematian melirik sinis.
Kayaknya salah ngomong deh.
"Soalnya kan, sekarang kamu udah mulai full ke kantor lagi. Takutnya capek." Buru-buru aku meluruskan maksudku.
"Kenapa?"
"Eng... ya itu, takutnya kamu capek. Tapi, itu cuma usul aja kok kalau nggak mau nggak apa-apa."
"Udah mulai bagi waktu untuk yang lain?"
Loh? Bukan begini konsepnya dong, Harv. Kenapa jadi aku yang diserang? Makhluk ini memang susah banget dilawan.
"Kenapa jadi nuduh?"
"Bukan tuduhan, itu pertanyaan."
"Enggak, Harv. Aku cuma takut kamu bosen aja ketemu aku terus setiap weekend. Dan kemarin-kemarin bahkan dalam seminggu bisa ketemu dua sampai tiga kali."
"Kalau kamu yang bosen, bilang aja, Pris. Nggak usah bikin alasan takut aku capek, takut aku bosan." Dia mendengkus dan memutar mata.
"Nggak begitu, Harv. Duh, salah terus aku kalau ngomong sama kamu."
"Kamu aneh, tiba-tiba usul ketemuan dalam sebulan cuma dua kali, bahkan sekali. nggak masuk akal kalau alasannya takut aku capek atau bosen. Bullshit lah, Pris!"