"Ini bukan hanya tentang aku dan dia. Tapi tentang apa yang dia yakini dan apa yang aku takuti. Tentang batas yang tidak mungkin kami langkahi."
.
.
.
Sebagai perempuan Indonesia yang sudah memasuki fase quarter life crisis, tuntutan menikah sudah s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jangan begitu, Prisa. Itu salah."
"Astaga, Bu. Ini kan, cuma menjemur pakaian. Memangnya ada aturan dalam menjemur pakaian?" Entah sudah berapa kali aku menghela napas lelah mendengar ibuku yang terus protes mengenai cara menjemur pakaian.
"Kalau kamu menjemurnya langsung terpapar sinar matahari begini, bajunya cepat rusak. Warnanya bisa cepat pudar." Ibuku mengibaskan salah satu kaus ayahku tepat di depan wajahku. Cipratan air membuatku mengusap wajah dengan sebal. "Kalau menjemur baju aja nggak bisa, gimana nanti mengurus suami?"
"Ya ampun, apa hubungannya menjemur baju sama suami, Bu?"
"Setelah ini, kamu bereskan kamar. Sarang laba-laba di sudut kamarmu itu ampun deh, Prisa. Apa kamu nggak risih? Anak perempuan kok jorok banget, sih? Nanti dapat pacar berewokan, mau?"
"Mau kalau ganteng kayak Liam Payne, atau ... Jamie Dornan."
"Jodoh yang ibu maksud, jodoh dalam dunia nyata, Prisa. Bukan khayalan, bahan halusinasimu. Kebanyakan baca novel dan nonton film sih."
Hampir satu jam aku menahan diri untuk tidak melakukan hal gila karena mendengar ocehan ibu. Aku benar-benar sebal pada ibuku yang selalu menghubungkan segala sesuatu dengan jodoh. Kenapa, sih?
Ini hari libur yang paling melelahkan. Bagaimana tidak? Pagi-pagi aku sudah bangun untuk bersepeda. Belum sempat istirahat dan sarapan, ibu memintaku untuk membantunya mencuci pakaian dan berakhir dengan ceramah tata cara menjemur pakaian yang disangkut pautkan dengan jodoh.
Semangkuk sereal sudah kandas dalam waktu kurang dari dua menit. Aku lapar banget. Sepertinya, semangkuk sereal pun masih belum cukup membuatku kenyang. Ternyata menahan amarah bisa menguras tenaga lebih banyak dari olahraga.
Sebelum ibu bernyanyi lagi, seusai sarapan aku segera membereskan kamar. Menyingkirkan sarang laba-laba di sudut kamarku yang selama ini kuanggap sebagai ornament pemanis ruangan, supaya kamarku ada kesan mistisnya gitu.
Sampah-sampah kertas yang berserakan kuremas semua dan kusatukan dalam kantung plastik besar. Isi dari keranjang sampah yang hampir penuh, juga aku tuangkan ke dalam kantung plastik besar yang sama. Waktuku termakan cukup banyak untuk membereskan kekacauan kamar berukuran 3x3 meter persegi ini. Ya memang sih, sudah hampir setengah tahun aku tidak pernah membereskan kamar. Kurasa ini cukup sepadan.
Meluruskan kaki, menyandarkan punggung pada dinding yang dingin, akhirnya aku bisa istirahat sejenak. Kamar yang rapi dan bersih ternyata enak banget loh. Beda gitu auranya, tidak seperti kamar horor lagi. Aku tersenyum sendiri melihat hasil kerja kerasku membereskan kamar yang lebih mirip sarang hantu sebelumnya.
Perlahan-lahan, aku merangkak ke atas ranjang untuk beristirahat dalam posisi yang lebih nyaman. Azan dzuhur berkumandang. Belum sempat merebahkan tubuh di atas ranjang, kali ini ayahku yang bernyanyi, berulang kali meneriaki namaku—memberi perintah untuk melakukan salat. "Prisa, salat! Jangan ditunda-tunda!"