56 || Mendadak Sakit

110 13 0
                                        

"Harv, aku boleh menginap?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Harv, aku boleh menginap?"

Baru kali ini aku melihat kedua alis Harvey nyaris menyatu. Dia menjeda acara podcast yang sedang ditontonnya.

"Aku nggak salah dengar?" Dia membungkuk dalam posisi duduk, mencondongkan tubuhnya ke arahku yang duduk di tepi kasurnya.

Aku menggeleng ragu.

Kini Harvey pindah duduk di sebelahku. "Ada apa?"

"Nggak ada apa-apa. Kalau nggak boleh juga ngg—"

"Boleh. Tapi kenapa tiba-tiba mau menginap?"

Aku menghela napas, lalu berbaring. "Suasana di rumah sedang nggak kondusif."

"Mau cerita?" Tangannya mengusap lututku.

"Bahas yang lain aja, boleh?"

Harvey tidak menjawab. Dia beranjak pergi ke kamar mandi.

Rasanya aku pengin banget teriak. Aku pengin nangis. Aku yang membuat masalah, tapi aku juga yang sakit kepala jadinya.

Kepalaku benar-benar sakit. Suara ayah yang mengucapkan kalimat menyakitkan minggu lalu, terus terngiang-ngiang di telingaku.

Setelah dari kamar mandi. Harvey ikut berbaring di kasur bersamaku.

Jujur, walaupun bisa dikatakan aku ini 'nakal', tapi di saat seperti ini aku masih ketakutan akan dosa.

Di bulan suci seperti ini, aku sudah berniat untuk tidak melakukan hal yang aneh-aneh karena dosanya bisa berkali-kali lipat.

Sebisa mungkin aku menghindari aktivitas yang menumpul dosaku menjadi berlapis-lapis.

Aku pura-pura tidur, supaya Harvey tidak menggodaku atau melakukan hal random yang berujung dengan ... kurasa tidak perlu dijelaskan.

"Pris?" Harvey memanggil sambil menggoyangkan bahuku. "Kamu tidur?"

Sengaja tidak menjawab, agar Harvey percaya aku benar-benar tidur.

"Kok badanmu panas?" Harvey menarik tubuhku secara paksa sampai akhirnya aku membuka mata.

"Aku ngantuk, Harv."

"Kamu sakit? Pris! Kalau kamu sakit, jangan menginap deh. Kamu istirahat di rumah aja."

Astaga! Bisa-bisanya apa yang kutakutkan justru berbanding terbalik dengan kenyataan.

Bukannya mengajak melakukan yang aneh-aneh, justru Harvey mengajak perang.

Emosi yang sedang tidak stabil berhasil membuatku tersulut akan perkataan laki-laki itu.

"Aku nggak sakit, Harvey."

"Nggak sakit gimana? Cek sendiri suhu badanmu. Kalau kamu positif covid dan nular ke aku, terus aku menularkan lagi ke orang-orang di kantor, bisa panjang urusannya, Pris!" Suaranya yang meninggi benar-benar membuatku pengin meledak.

BATASTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang