Liam baru selesai memuaskan dirinya, bahkan Niall masih terengah di bawahnya. Ketika ponselnya bergetar, Liam membiarkannya. Ia memilih merapikan helaian rambut Niall yang berantakan setelah mereka memiliki kegiatan yang melelahkan.
Nafas Niall mulai berangsur normal, ia melirik ponsel Liam yang sekali lagi bergetar. "Siapa, Liam?"
Liam menghela nafas tak suka menyadari malam intimnya dengan Niall harus terganggu. "Sebentar, Niall sayang."
Liam hanya perlu sedikit bergerak untuk meraih ponselnya di atas nakas, dan ia mengerutkan dahinya melihat ternyata Damien yang menghubunginya. Sangat jarang Damien menghubunginya tanpa ampun seperti tadi.
"Ya, Damien?" Liam menelepon balik temannya itu, berpikir ada hal penting.
Tangan Liam yang satu membantu Niall memperbaiki posisi berbaringnya, ia juga menutup tubuh telanjang Niall dengan selimut.
📞 "Zach mengacau lagi, bisakah kau kemari? Yang kali ini―berbeda." Terdengar suara Damien yang frustasi.
"Tapi Damien, malam ini aku tak bisa. Aku harus bersama Niall." Liam membelai pipi Niall lembut, tak membiarkan Niall kehilangan afeksi meski ia berbicara dengan orang lain.
Liam tak mungkin meninggalkan Niall sementara mereka baru tidur bersama, ia akan seperti orang brengsek yang meninggalkan pasangannya setelah ditiduri. Meski sebenarnya Niall pun terlihat mulai mengantuk, dan bisa ditinggalkan Liam tak akan melakukan hal setidak tau diri itu untuk meninggalkan Niall saat ini.
"Aku minta maaf, kau tangani selagi bisa. Sisanya besok aku yang mengurusnya." Ujar Liam pada Damien.
"Kau bawa dulu wanita itu ke tempatmu, katakan kau akan membantunya meminta tanggung jawab Zach." Lanjutnya.
Niall di antara rasa kantuk karena kelelahan, bertanya pelan setelah Liam mematikan sambungan telepon. "Zach lagi?"
"Ya." Liam ikut berbaring di samping Niall dan memeluknya, merengkuh tubuh yang mulai menyerah pada rasa kantuk.
"Neneknya tidak tau ia begitu nakal, Liam?" Niall menyamankan posisi kepalanya sambil memejamkan matanya.
Liam terkekeh mendengar cara Niall berbicara. "Tidak tau, perlukah kita memberitahunya?"
"Hm." Niall mengangguk lemah, matanya bahkan telah terpejam erat.
Tangan Liam mengusap pelan punggung Niall, kemudian mengecup puncak kepalanya. "Selamat tidur, amour."
_________
Pagi harinya setelah mengantar Niall ke tempat kerjanya, Liam menemui Zach di tempat Damien. Karena semalam ternyata Damien sekalian membawa Zach ke tempatnya bersama wanita yang Zach tiduri itu.
"Ia menangis." Zach menunjuk wanita yang ia tiduri semalam pada Liam yang baru tiba.
Zach merasa sekarang ia sungguh seperti adik Liam yang tengah mengadu juga meminta tolong, dan ia baru menyadari bahwa sejak dulu Liam memang lebih dekat definisinya sebagai sosok kakak bagi Zach dibanding teman. Dan ternyata memang benar ia dan Liam memang saudara.
Liam tak tau apapun soal fakta itu, dan Zach juga tak berniat memberitahunya.
"Ini pertama kali untuknya, dan ia semakin takut mengingat aku tidak menggunakan pengaman semalam." Zach meringis ketika sekelebat ingatan kejadian malam tadi ia benar-benar masuk kategori memperkosa, karena wanita yang ia tiduri sempat menolak begitu tau Zach tak menggunakan pengaman.
Liam melirik Zach penuh peringatan. "Aku selalu mengingatkanmu."
"Aku mabuk, Liam." Zach memasang wajah meminta maaf pada Liam.
"Liam, tapi masalahnya ia sudah memiliki kekasih." Damien yang sejak tadi diam kini memberitahu fakta yang belum Liam ketahui.
Bertahun-tahun mereka bertiga berteman, menyelesaikan masalah Zach adalah hal biasa bagi mereka. Tapi kenyataan barusan sepertinya hal baru bagi mereka hingga membuat Damien pun sakit kepala tak habis pikir semalam dan menghubungi Liam karena tak sanggup mengurusinya sendiri.
Mendengar itu Liam menganga tak percaya, bagaimana bisa Zach bertingkah lebih parah lagi dari biasanya. "Kau―"
"Aku tak mengerti kenapa ia ada di club." Zach dengan cepat mengatakan pembelaan, rautnya meyakinkan kedua temannya.
"Zach, yang benar saja. Kau tetap tak bisa menarik wanita sembarangan." Liam tak menerima pembelaan Zach.
"Aku mabuk berat semalam." Zach tetap tak terima disalahkan sepenuhnya di saat menurutnya wanita itu juga salah karena berada di club dan di dekatnya.
"Tapi tau cara mencari hotel." Dengus Damien mengingat bagaimana hotel tempat Zach meniduri wanita itu juga memiliki kelas tak main-main, sudah jelas Zach memesannya dengan sadar.
Meski kedua temannya terus berbicara sinis dan menatapnya penuh peringatan tapi Zach tau keduanya akan tetap membantunya keluar dari masalah ini.
__________
"Zach kenapa lagi, Liam?" Niall bertanya begitu ia dan Liam dalam perjalanan pulang, dengan Liam yang menjemputnya.
Setelah semalam Niall mendengar singkat bahwa Liam dan Damien harus mengurus sisa kenakalan Zach, tapi Niall belum tau detail apa lagi yang kali ini Zach perbuat.
"Ia meniduri kekasih orang lain." Jawab Liam.
Niall terkesiap, menatap Liam tak percaya. "Kanapa bisa?!"
"Sebenarnya wanita itu sedang mencari pelarian dengan pergi ke club karena kekasihnya banyak mengecewakannya dan malah bertemu Zach yang mabuk." Liam menceritakan apa yang tadi ia dapat dari Zach juga si wanita itu.
"Jadi bagaimana sekarang Zach dengan wanita itu?" Niall tak habis pikir dengan berbagai macam kejadian yang menimpa Zach. Niall pikir Liam dan Damien lebih bertanggung jawab sebagai perwalian Zach dibanding orangtua Zach sendiri.
"Aku menyarankan mereka ke dokter rutin memastikan ia tak hamil karena Zach. Dan wanita itu mengatakan akan melakukan aborsi andaikan ia hamil, itu keputusan tepat untuk mereka." Setelah tadi Liam banyak berbicara dengan Zach, Damien serta wanita itu.
Memang keputusan itu perlu dilakukan, mengingat wanita itu memiliki kekasih dan tak mungkin ia melahirkan anak Zach yang bahkan kelakuannya masih begitu sulit dipahami. Tapi ada gelenyar tak nyaman setiap Liam mendengar kata semacam itu diucapkan orang-orang.
Niall mengangguk sambil meringis pelan atas kekacauan yang dibuat Zach kali ini.
"Kau harusnya melarang Zach untuk mabuk, Liam." Ujar Niall, menyadari semua hal buruk selalu terjadi setiap Zach mabuk.
"Aku dan Damien sudah melakukannya, dan kau melihatnya sendiri. Zach tak mendengarkan." Sahut Liam dengan dengusan geli mengingat lagi perkataan Niall semalam tentang Zach.
"Sepertinya aku harus mengikuti saranmu untuk memberitahu neneknya."
Niall mengangguk setuju. "Benar, Liam."
Dan Liam tertawa pelan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.