Chapter 136. Refleksi

75 5 0
                                        

Di sisi lain pintu kokoh itu, ada sebuah ruangan kecil dengan dinding batu dan satu jendela sempit yang di tutup dengan daun jendela kayu dan dibungkus kain tebal. Harper telah mengingatkan mereka untuk tidak membuka jendela pada malam hari, tapi diluar sini, di Tower of Dusk, tidak seorangpun akan mau menatap pemandangan itu. Membiarkan cahaya masuk ke dalam kastil pada malam hari dianggap sebagai kejahatan berat, jadi Harper cukup tegas mengatakan hal itu. Tentu saja, pemuda kurus itu tidak tahu bahwa baik Sunny maupun Cassia tidak memerlukan cahaya untuk bergerak dalam gelepana. Mereka dapat membuka jendela selebar yang mereka inginkan... bukan berarti mereka punya alasan untuk melakukannya.

Di dalam kamar, ada tempat tidur dengan kasur jerami, lemari tipis, dan meja kecil. Di atas meja, ada baskom berisi air, beberapa helai kain bersih, dan lampu minyak. Bahkan ada cermin bundar kecil yang terbuat dari perunggu yang dipoles.

Sunny melihat sekilas bayangannya sendiri dan tersentak, seolah melihat orang asing. Dalam dua bulan terakhir ini, dia telah melihat dirinya sendiri melalui mata bayangannya berkali-kali, tapi itu tidak sama. Dia telah banyak berubah.

Wajahnya kini jauh lebih tegas dan bersudut, sisi-sisi kebulatan masa mudanya terkikis oleh rintangan berat Labirin... meskipun Sunny tidak pernah memiliki banyak lemak sejak awal. Wajahnya kurus dan pucat, dengan lingkaran hitam di bawah matanya dan tanda-tanda kelelahan ekstrem lainnya. Rambutnya yang hitam lebih panjang, menutupi matanya dengan berantakan. Namun, yang paling berubah adalah matanya sendiri. Jauh di kedalamannya yang gelap, ada kilatan dingin yang tenang, berat, dan suram yang sebelumnya tidak ada.

Dengan kesadaran yang mengejutkan, Sunny menyadari bahwa dia juga kini memiliki penampilan seperti petarung kawakan. Jenis sikap dingin penuh perhitungan yang tersembunyi di mata orang-orang seperti itu dikenal sebagai 'matematika pembunuh' di daerah pinggiran.

Pahlawan dan Nephis juga memiliki kualitas itu. Hanya saja, dalam kasus mereka, hal itu membuat mereka tampak seperti pejuang sejati. Sunny, di sisi lain... memiliki mata seorang pembunuh. Dan bahkan lebih dalam dari itu, yang hanya terlihat olehnya, benang emas warisan Weaver yang tidak manusiawi bersinar misterius dalam kegelapan.

Sambil menatap pantulan dirinya, Sunny menyeringai gelap dan berkata dengan suara serak yang aneh: "...Kelihatan bagus, Sunless."

****

Meninggalkan bayangannya untuk menjaga pintu kamar Cassia, Sunny jatuh ke kasur empuk, membungkus dirinya dengan selimut, dan mencoba untuk tidur.

Disini, di dalam keamanan kastil megah, di kelilingi ratusan orang, berbaring di tempat tidur sungguhan, sulit dipercaya bahwa baru beberapa hari lalu dia bepergian menembus kegelapan terkutuk lautan mematikan diatas perahu reyot, melawan monster-monster mengerikan di lanskap aneh labirin karang, dan kehilangan akal sehatnya sepotong demi sepotong akibat rasa lapar yang luar biasa dari pohon pemakan jiwa. Semuanya tampak bagaikan mimpi buruk.

Ini... tidak buruk. Dengan pikiran itu, dia tertidur.

Di pagi hari, setelah mandi dan menyegarkan diri, Sunny menunggu Cassia di lorong. Bahkan Puppetter's Shroud, yang akhirnya mendapat kesempatan untuk kembali ke Soul Sea/Laut Jiwa untuk waktu yang cukup lama dan memulihkan dirinya sendiri, tampak bersih dan rapi. Baju zirah yang malang itu telah mengalami cukup banyak kerusakan hingga dapat membunuh selusin Sleepers, tapi baju zirah itu masih kokoh dan menyelamatkan nyawanya dalam banyak kesempatan. Sunny teringat betapa beruntungnya dia telah mendapatkannya.

Gadis buta itu tidak membuatnya menunggu lama. Tak lama kemudian, Cassia keluar dari kamarnya, tampak berseri-seri dengan kecantikan dan kesegaran. Sepertinya dia telah melakukan hal yang sama seperti Sunny. Setelah berbulan-bulan merangkak melalui darah dan tanah di alam liar, mereka akhirnya terlihat dan merasa seperti manusia lagi.

"Selamat pagi!"

Sunny berkedip. Dia hampir lupa betapa menakjubkannya Cassia. Dengan wajahnya yang halus, mata biru cerah, dan rambut pirang pucat, dia tampak seperti boneka porselen. Gadis buta itu telah menyingkirkan jubah ajaibnya, membiarkannya hanya mengenakan tunik tipis, dengan sendal kulit di kakinya. Dia benar-benar menakjubkan. Sunny memejamkan mata dan mendesah. Ini... baunya seperti masalah. "Selamat pagi, Cassia." Gadis itu menoleh ke arahnya dan mengernyitkan hidung. Sunny mengerutkan kening: "Uh... apa?"

Cassia mengernyitkan dahi. "Aku tidak tahu. Aromamu berbeda."

Sunny menatapnya beberapa saat, lalu tertawa. "Jika ini caramu mengatakan bahwa aku pernah bau, maka terima kasih, kurasa."

Sambil terkiki, Cassia mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Sunny. "Bukan itu maksudku! Ayo makan."

Mereka berdua dalam suasana hati yang anehnya baik.

Sunny menuntun Cassia ke menara utama kastil, mengkuti rute yang dijelaskan Harper pada mereka malam sebelumnya. Dalam perjalanan, ia berhati-hati untuk menghindari pintu dan koridor yang di tandai dengan simbol ular emas yang melingkari menara putih. Bayangannya kemungkinan besar akan mengintip area terlarang di benteng itu nanti. Namun, untuk sekarang, mereka harus tetap bersikap tenang dan menghindari masalah.

Menemukan Benteng tidaklah sulit, karena banyak Sleeers lain yang juga pergi ke sana untuk menikmati sarapan. Makanan disajikan dua kali sehari di kastil, sekali di pagi hari dan sekali sebelum matahari terbenam. Jika melewatkan satu kali dan tidak punya cara lain untuk mendapatkan makanan, kau harus tetap lapar sepanjang hari.

Sunny mengamati para Sleepers dengan rasa ingin tahu, terkadang menggambarkan mereka pada Cassia dengan suara pelan. Para penghuni kastil sangat berbeda dari penghuni putus asa di pemukiman luar. Mereka umumnya tampak sehat, atau setidaknya cukup makan. Jumlah Memori tipe armor disini juga jauh lebih banyak, meskipun banyak yang masih mengenakan pakaian yang terbuat dari kain biasa. Hampir semuanya muda dan cantik, hanya beberapa orang yang pernah Sunny lihat yang tampaknya seperti berusia lebih dari dua puluhan. Meski begitu, hanya sedikit yang bisa dibandingkan dengan Cassia dalam hal penampilan.

Akhirnya, mereka memasuki aula utama Menara, tempat meja-meja kayu panjang diletakkan untuk menapung kerumunan pagi para Sleepers yang lapar.

Tiba-tiba, ratusan mata tertuju pada Cassia dan Sunny. Merasakan hawa dingin mengalir di tulang punggungnya, Sunny menelan ludah. Sial.






TBC


Shadow SlaveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang