Di tengah kota terkutuk itu, sebuah bukit tinggi menjulang diatas reruntuhan. Di dasarnya, sebuah lengkungan yang terbuat dari marmer putih bersih berdiri di tengah kehancuran. Lengkungan itu tidak ternoda sama sekali, seolah-olah dilindungi dari sentuhan entropi kegelapan yang melahap segalanya oleh suatu kekuatan agung. Di balik lengkungan itu, sebuah jalan lebar yang dilapisi batu-batu putih mendaki bukit.
Sunny mendongak saat mereka melewati bawah gapura, mencoba membayangkan kerumunan orang berpakaian pesta melakukan hal yang sama di masa lalu. Sulit dan sedikit memilukan memikirkan bagaimana rupa kota kuno itu sebelum bencana misterius itu.
Tanpa menoleh, Effie berkata dengan nada sedih: "Ada beberapa area di reruntuhan yang cenderung dihindari oleh banyak Makhluk Mimpi Buruk karena suatu alasan. Kastil adalah salah satu tempat tersebut. Aku diberi tahu bahwa ketika kelompok Sleepers pertama datang kesini dengan harapan untuk mendapatkan pijakan di kota, hanya ada satu Spire Messanger/Utusan Menara yang bersarang di ruang singgasana, tanpa ada monster lain di sekitarnya. Orang-orang gila itu benar-benar berhasil membunuhnya."
Nephis menatapnya sekilas. "Utusan Menara?"
Sang pemburu terkekeh. "Bajingan besar jelek dengan bulu hitam dan tubuh pucat, kau pasti pernah melihat mereka berburu di Labirin. Mereka datang dari Spire."
Changing Star ragu-ragu. "Apa peringkat dan kelas mereka?"
Effie menggigil sedikit. "Binatang buas Fallen. Itulah sebabnya aku mengatakan bahwa orang-orang itu sedikit gila. Namun, mereka adalah kelompok yang kuat." Dia terdiam lalu menambahkan dengan suara pelan: "Pada akhirnya, pasti butuh banyak usaha untuk membunuh mereka."
Terbawa suasana khidmat oleh pernyataan terakhir itu, mereka terus maju dalam diam. Jalan batu itu melingkari bukit, perlahan menanjak lerengnya yang terjal. Disana-sini, jalan itu diselingi oleh anak tangga yang panjang dan benteng yang tangguh, tapi anehnya anggun. Namun, tidak ada seorangpun yang berjaga. Seluruh jalan itu kosong.
Sunny menunjuk ke salah satu barikade batu dan bertanya: "Mengapa tidak ada penjaga?"
Effie mengangkat bahu. "Gunlaug hanya memiliki cukup orang untuk menjaga tembok kastil. Namun, mereka akan melihat apapun yang mendekati bukit. Seluruh kota terlihat jelas dari atas sana, dan ada berbagai tindakan perlindungan yang diterapkan. Mereka juga dapat melihat kita."
Sunny menggeser tubuhnya sedikit, tidak menikmati perasaan diawasi oleh beberapa orang asing yang tak terlihat dan berpotensi membahayakan.
...Setelah berjalan cukup lama menyusuri jalan berkelok dari batu putih, mereka akhirnya mencapai puncak bukit dan melihat kastil megah dengan segala kebanggaannya. Dari dekat, itu tampak lebih menakjubkan. Dibangun dari marmer murni yang sama dengan lengkungan di dasar bukit, lengkungan itu menjulang ke langit seperti gunung putih yang dibuat oleh tangan manusia. Menara paling depan lebar dan megah, dengan gerbang tinggi yang dihias dan tangga megah yang mengarah turun darinya ke platform batu besar tempat jalan berakhir.
Di kedua sisi menara paling depan, yang sedikit menonjol, berdiri dua menara lain sebagai benteng pertahanan, yang dihubungkan dengan jembatan udara melengkung dan disertai menara-menara pendamping yang lebih kecil. Di belakang menara-menara itu, menara utama menjulang lebih tinggi, seolah-olah mencoba menantang Crimson Spire yang menjulang tinggi diatas dunia di kejauhan. Menara, puncak menara, dan sayap yang lebih kecil berdiri disana-sini, membentuk formasi yang rumit dan anehnya harmonis. Seluruh bangunannya sangat indah, mencolok, dan pada saat yang sama memancarkan kesan kokoh yang tak tergoyahkan. Seolah-olah kastil itu dibangun untuk para dewa, bukan manusia.
Satu-satunya hal yang merusak pemandangan itu adalah puluhan tengkorak manusia yang tergantung diatas gerbang dengan rantai berkarat.
Sunny meringis, tersadar pada kenyataan pahit akibat pemandangan mengerikan itu. Pandangannya turun ke bawah, baru sekarang menyadari puluhan gubuk kasar dan darurat berdempetan di panggung batu. Gubuk-gubuk itu dibangun dari pecahan puing, kayu lapuk, dan potongan kulit monster, menempel tak beraturan di batu seolah takut tertiup angin.
Bau tak sedap yang anehnya tak asing menusuk hidungnya beberapa saat kemudian. Bau itu adalah bau yang beraneka ragam, tapi tak terbantahkan dari daerah kumuh. Bau itu sama sekali tidak seperti bau busuk beracun dari daerah pinggiran, dan pada saat yang sama terasa familiar.
Sunny tak dapat menahan senyum miringnya. Wah, aku pulang.
Di antara gubuk-gubuk itu, orang-orang kurus kering dan bermata kosong sibuk berjuang keras menjalani hidup mereka yang menyedihkan. Mereka mengenakan campuran aneh antara kain compang-camping kotor dan Memori yang mengilap, dengan mereka yang mengenakan baju besi menonjol diantara yang lain seperti keanehan yang langka. Kebanyakan dari mereka sangat muda, hampir tidak lebih tua dari Sunny mereka sendiri. Sunny bisa mencium kelelahan dan keputusasaan mereka bahkan dari tempatnya berdiri.
Sunny benar-benar ingin tertawa. Setelah semua yang telah dilaluinya sejak terinfeksi oleh Mantra Mimpi Buruk, siklus itu akhirnya berakhir. Ia kembali ke tempat ia memulai, hanya saja keadaannya jauh lebih buruk. Bukanhah ini hal terlucu yang pernah ada? Jika ini bukan takdir, maka dia tidak tahu lagi. Oh, ironisnya...
Suara Changing Star menyadarkannya dari lamunan. "Sunny? Kau baik-baik saja?"
Sunny berkedip beberapa kali, lalu perlahan berbalik menghadap Nephis dan berkata setelah jeda singkat: "Ya, aku hanya mengenang sesuatu."
Ada sesuatu dalam suara Sunny yang pasti terdengar aneh, karena gadis itu menatapnya lama sebelum berbalik dan mengangguk singkat. "Bagus. Jangan santai dulu." Kemudian dia menoleh pada Effie dan bertanya: "Apa yang kita lakukan sekarang?"
Sang pemburu melihat sekeliling dan mengangkat bahu. "Hari akan segera gelap, jadi aku sarankan kalian mencari tempat berlindung sebelum itu. Carilah gubuk kosong. Dengan banyaknya orang yang pasti mati setiap musim, pasti akan ada banyak gubuk kosong. Kalau tidak, dua dari kalian bisa membayar upeti dan masuk ke dalam kastil. Tapi yang ketiga harus tetap tinggal."
Changing Star terdiam, lalu berkata: "Bagaimana denganmu?"
Effie menyeringai. "Bagaimana denganku? Pondok mewah satu kamar tidur disana itu milikku. Ingat, pondok itu dibangun dari barang-barang jelek terbaik yang bisa kau temukan disini... meskipun tetap saja jelek. Ngomong-ngomong, aku akan pulang, menyiapkan makan malam yang lezat, lalu tidur. Aku sangat lelah setelah beberapa hari terakhir ini. Maaf, aku tidak menerima tamu."
Nephis menatap wanita itu, jelas ingin berkata lebih banyak, tapi kemudian hanya mengangguk. "Begitu ya. Terima kasih atas semua yang telah kau lakukan untuk kami. Aku tidak akan melupakannya."
Effie tersenyum, menepuk bahunya, lalu menoleh pada Sunny dan Cassia. "Selamat tinggal, orang bodoh. Selamat tinggal, boneka. Sampai jumpa." Setelah itu, dia mulai bersiul melodi ceria dan berjalan pergi.
Ketiganya tiba-tiba ditinggal sendirian, tersesat dan tidak yakin harus berbuat apa. Para penghuni pemukiman luar tidak terlalu memperhatikan mereka, hanya sesekali melirik acuh tak acuh ke arah ketiga orang asing. Hanya kecantikan Cassia yang menarik beberapa tatapan tajam dan gelap.
Setelah sekitar satu menit berlalu dalam keheningan yang membingungkan, Changing Star dengan ragu-ragu mengeluarkan dua pecahan jiwa yang mereka kumpulkan dari sisa-sisa Rolling Stone dan memandangi kristal berkilauan yang ada di tangannya itu. Mereka harus membuat keputusan.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Shadow Slave
FantasiTumbuh dalam kemiskinan, Sunny tidak pernah mengharapkan sesuatu yang baik dari kehidupan. Namun, bahkan dia tidak mengantisipasi akan dipilih oleh Nightmare Spell/Mantra Mimpi Buruk dan menjadi salah satu dari Awakened - kelompok elit orang-orang y...
