Mungkin bercanda dengan Kai agak kejam, tapi Sunny benar-benar kesal dengan betapa tampannya dia. Ditambah lagi, dia sudah lama tidak berbicara dengan manusia lain sehingga keterampilan komunikasinya yang sudah berkurang menjadi benar-benar berkarat. Karena mereka akan segera mengunjungi istana, Sunny harus mempersiapkan diri untuk menghadapi saat-saat yang tak terelakkan ketika ia terpaksa berbicara dengan orang asing. Memperluas Flaw-nya hingga batas maksimal adalah latihan yang baik. Ia tidak ingin hal seperti... kecelakaan itu terjadi lagi. Kenangan yang tidak mengenakkan itu memperburuk suasana hati Sunny.
Sementara itu, Kai menatapnya dengan ekspresi yang sangat aneh di wajahnya. Sunny berdeham. "Uh... itu juga bagian dari lelucon."
Pemuda tampan itu terus menatap, wajahnya penuh keraguan.
Apakah aku terlalu keras pada orang malang ini? Dia pasti sudah ketakutan setengah mati... dia mungkin benar-benar panik sekarang. Siapa yang tidak akan merasa sedikit khawatir saat bertemu dengan orang 'gila'? Ya... mungkin lelucon itu tidak selucu yang kukira.
Kai dengan hati-hati menggelengkan kepala. "Bukan itu maksudku. Aku hanya merasa harus memberitahumu sesuatu."
Sunny mengangkat alis. "Ya? Tentang apa?"
Kai ragu-ragu sejenak, lalu berkata dengan nada yang sangat menenangkan: "Ini tentang Flaw-ku. Aku benar-benar bisa tahu saat seseorang berbohong padaku. Jadi, uh... saat kau bilang ada batu yang memberithumu apa yang harus dilakukan, aku langsung tahu itu benar."
Sunny menatap tajam kearah pemuda tampan itu dengan ekspresi tidak percaya. Dalam hati, dia tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis. Flaw? Bagaimana bisa itu disebut Flaw/Cacat? Itu kekuatan super, dasar bajingan hina!
Mengapa Kai begitu beruntung? Dia memiliki suara yang menawan, perawakan yang tinggi, dan wajah yang sempurna. Bahkan kekuarangannya adalah sebuah anugerah! Secara kebetulan, itu juga merupakan penangkal yang sempurna terhadap sebagian besar tipu daya Sunny. Jika Kai tidak memberitahunya tentang Flaw anehnya itu, Sunny akan segera mendapat masalah besar. Beruntungnya, pemuda tampan itu ternyata adalah pria yang sangat jujur.
Benar-benar malaikat!
Saat Sunny mendidih karena marah, Kai berkata dengan nada lembut: "Jadi Sunny... apa sebenarnya yang diminta batu itu darimu? Apa kau ingin memberitahuku?"
Sunny mendesah. Aku harus sangat, sangat berhati-hati dan memperhatikan apa yang kukatakan disekitar orang ini. "Ya, kau sama sekali tidak menyenangkan. Batu yang bisa bicara itu sebenarnya adalah Memori yang mampu mengulang kata-kata. Kadang-kadang aku menggunakannya sebagai alarm, jadi batu itu hanya memberitahuku untuk bangun. Mengenai hal-hal yang kuceritakan tentang bayanganku yang suka berpendapat... itu juga benar. Uh, tapi kurasa kau sudah tahu. Bayanganku punya sedikit kepribadian karena fungsinya dalam Aspek-ku."
Kai merenung, lalu tersenyum. "Oh, begitu! Jadi itu benar-benar lelucon. Sangat licik. Maaf merusaknya dengan Flaw-ku."
Sunny mengernyit. "Jangan mengguruiku..." Kemudian dia berhenti, memikirkan sesuatu, dan berkata dengan marah: "Tunggu, kalau kau bisa tahu bahwa seseorang berbohong, kenapa aku harus menghabiskan waktu setengah jam meyakinkanmu untuk keluar dari sumur itu?!"
Kai berkedip beberapa kali, tampak polos dan terluka. "Begini, bagaimana aku tahu jika Flaw-ku bekerja pada Makhluk Mimpi Buruk? Aku belum pernah berbicara dengan makhluk seperti itu sebelumnya. Seseorang tidak akan pernah terlalu berhati-hati saat membuat kesepakatan dengan makhluk-makhluk mengerikan kuno, kau tahu."
Sunny menutupi wajahnya dengan tenang. "Ya, aku tahu."
Kai menatapnya dengan khawatir. "Uh, Sunny? Kau baik-baik saja?"
Ini adalah kutukan takdir yang mempermainkanku lagi. Apa peluang bertemu seseorang yang Flaw-nya hampir kebalikan dari milikku? Dan mengapa dia begitu memukau... apakah itu seharusnya menjadi kebalikan dari panampilanku? Hah?! "Ya. Baiklah. Mari kita mulai saja."
Kai mendesah. "Tentu saja. Janji adalah janji. Aku akan membantumu melakukan apapun yang ingin kau lakukan di istana. Bagaimana kalau kita pergi bersama?"
Sunny menggeleng. "Belum. Aku harus mampir ke suatu tempat dulu. Apa kau tahu katedral besar yang hancur di sebelah selatan sini?"
Sleeper itu berpikir sebentar, lalu mengangguk. "Kurasa begitu. Aku sering terbang diatas bagian kota itu, dan sulit untuk tidak melihatnya. Apakah kau akan membawaku kesana?"
Pertanyaan bagus... Disatu sisi, Sunny tidak ingin ada yang tahu dimana dia tinggal. Disisi lain, dia tidak cukup percaya pada Kai untuk membiarkannya kembali ke istana dan menunggu disana. Tapi bergerak melintasi kota dengan sumber cahaya bukanlah sesuatu yang ingin ia lakukan. Apakah ada pilihan lain?
"Aku tidak bisa membawamu ke manapun dengan lentera milikmu itu. Aku bertahan hidup dengan bersembunyi dalam kegelapan, ingat? Jika kau bisa terbang ke katedral sendirian. Tunggu aku disana."
Kai melihat ke selatan, mengingak lokasi katedral yang hancur, lalu mengangguk. "Baiklah."
Sunny mengangkat tangan, menghentikan pemuda itu agar tidak terbang menjauh. "Tunggu. Apapun yang terjadi, jangan masuk ke dalam katedral, oke? Aku tidak bercanda. Ada Iblis Fallen yang tinggal didalamnya, jadi jika kau melakukannya, dia akan membantaimu seperti dia membantai kelompok idiot yang menculikmu."
Kai menatapnya dengan kegat. "Apa? Mereka sudah mati?"
Sunny mengangkat bahu. "Bagaimana menurutmu aku bisa menemukanmu disumur itu? Salah satu penjahat yang mati punya peta di tubuhnya. Kupikir pasti ada harta karun yang tersembunyi dilokasi yang ditandai itu. Tapi..."
Sleeper cantik itu tersenyum. "Tapi itu sesuatu yang jauh lebih baik? Ah, terima kasih atas pujiannya. Aku akan berhati-hati untuk tidak memasuki katedral, tenang saja."
Sunny menatap Kai yang tersenyum beberapa saat, lalu mengangkat bahu dengan jengkel. "Baiklah. Kalau begitu, pergilah. Dan ingat - jika kau melanggar perjanjian kita, aku akan..."
"...menemukan dan membunuhku, ya. Jangan khawatir, Sunny. Aku tidak akan pernah mengingkari janji."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Kai mengangkat kepalanya dan mendongak. Hembusan angin lembut menyentuh kulit Sunny, dan sesaat kemudian, Sleeper menawan itu tiba-tiba melayang diatas tanah, dan dengan cepat menghilang ke langit. Tak lama kemudian, hanya titik kecil lentera kertasnya yang terlihat, bergerak ke selatan melalui langit hitam seperti bintang yang kesepian.
Tiba-tiba Sunny gemetar. Perasaan dingin dan takut mencengkeram hatinya bagai besi. Mengikuti titik cahaya dengan matanya, Sunny berbisik: "...Ada sebuah bintang tunggal yang bersinar di langit yang gelap, dan dibawah cahayanya, kastil itu tiba-tiba terbakar, dengan sungai-sungai darah mengalir di lorong-lorongnya."
Sunny berdiri beberapa saat dalam kegelapan, tidak bergerak. Jika Sunny tidak tahu lebih baik, dia akan mengira ramalan Cassia itu berbicara tentang Kai. Namun dia tidak tahu. Dia telah mengetahui kebenaran ramalan itu beberapa waktu lalu.
Sambil menundukkan kepala, Sunny menjilat bibirnya dan bertanya pada bayangan yang tak bersuara itu dengan suara serak: "Apakah... apakah ini sudah dimulai?"
Seperti biasa, bayangan itu tidak menjawab.
Pertanyaan yang bodoh.
Tentu saja tidak. Itu sudah dimulai sejak lama. Tepat pada saat mereka bertiga memasuki kota yang hancur.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Shadow Slave
FantasiaTumbuh dalam kemiskinan, Sunny tidak pernah mengharapkan sesuatu yang baik dari kehidupan. Namun, bahkan dia tidak mengantisipasi akan dipilih oleh Nightmare Spell/Mantra Mimpi Buruk dan menjadi salah satu dari Awakened - kelompok elit orang-orang y...
