Kejadian itu terjadi pada hari mereka membunuh Carapace Demon. Saat itu, mereka bertiga benar-benar kelelahan. Setelah menjauh dari mayat makhluk raksasa itu dan menemukan tempat persembunyian yang bagus, mereka jatuh ke tanah dan langsung tertidur. Namun mereka tidak tertidur lama. Satu atau dua jam kemudian, Sunny dibangunkan oleh Cassia yang memegang bahunya. Ekspresi ketakutan tergambar jelas di wajahnya. "Sunny! Sunny! Bagun!"
Seketika sadar kembali, Sunny melompat berdiri dan memanggil Midnight Shard, takut kalau-kalau mereka sedang diserang. Akan tetapi, tidak ada seorangpun disana kecuali Cassia yang panik dan Nephis yang waspada, yang berada dalam posisi yang sama, pedangnya terangkat siap menyerang. Bingung, Sunny menatap gadis buta itu. "Cassia? Ada apa?"
Sambil mencengkeram bahunya lagi, Cassia mendekatkan wajahnya dan berbisik dengan nada memohon: "Sunny, kau harus menghentikannya! Kumohon! Kaulah satu-satunya yang bisa!"
Sunny mengerutkan kening, gagal memahami apa sebenarnya yang seharusnya dia hentikan. Apakah dia melihat penglihatan lain? Berusaha menenangkan, Sunny berkata dengan nada terukur: "Tidak apa-apa, Cassia. Pelan-pelan saja, tarik napas. Ceritakan apa yang terjadi. Mulai dari awal..."
Cassia menggelengkan kepala dengan putus asa. "Tidak ada waktu! Aku akan segera lupa! Kita semua akan lupa! Tapi kau, kau harus ingat!"
"Kita semua akan lupa? Apa maksudnya?"
Tidak dapat melihat ekspresi bingung Sunny, Cassia berteriak, "Kau harus ingat, Sunny! Itu lima! Ingat! Kau harus ingat! Itu ada lima!"
Ingat... lima?
Gadis buta itu tidak bisa berkata apa-apa. Sunny dengan hati-hati memeluknya, merasakan betapa takutnya dia karena tubuhnya yang gemetar. "Baiklah, Cas. Aku janji akan mengingatnya. Lima, kan? Lihat, cukup sulit untuk melupakannya."
Nephis menatap mereka dengan cemberut, tidak mengabaikan untuk mengamati sekelilingnya untuk mencari tanda-tanda bahaya dari waktu ke waktu. Entah mengapa, Cassia hanya berbicara dengan Sunny dan tidak memperhatikannya. Apa yang menurutnya dapat dilakukan Sunny, tapi tidak dapat dilakukan Changing Star?
Mendengar nada menenangkan Sunny, gadis buta itu sedikit tenang. Tapi, dia masih ketakutan. "Bagus. Bagus. Ingat, itu lima. Kau berjanji..." Suaranya terdengar semakin pelan, seolah-olah dia tidak yakin dengan apa yang dia katakan. Sunny hampir tidak dapat mendengar gumamannya. "...semakin rumit sebuah pikiran, semakin sulit untuk mempertahankannya. Itulah sebabnya aku hanya dapat menyampaikan satu kata ini, hal yang paling sederhana untuk di sampaikan... ketika waktu yang tepat tiba, hal itu mungkin akan mengubah segalanya..."
Berhati-hati memilih kata-katanya, Sunny dengan ragu bertanya: "Cassia? Bisakah kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?"
Mendengar itu, Cassia tersentak dan mengangkat kepala untuk menghadap Sunny. Masih ada jejak ketakutan di matanya, tapi sebagian besar telah digantikan oleh kebingungan. "Hah? Apa terjadi sesuatu?"
Sunny berkedip. Bukankah dialah yang membangunkan mereka dalam kepanikan? Tunggu... kenapa dia membangunkan kami, sejak awal? Entah mengapa, Sunny kesulitan mengingat detail beberapa menit terakhir. Percakapan yang baru saja mereka lakukan sudah samar-samar dalam ingatannya. Kurasa aku masih pusing karena bangun tiba-tiba. Kurang tidur memengaruhi konsentrasi... "Kau ingin memberi tahu kami sesuatu. Itu ada hubungannya dengan... uh... nomor lima?
Cassia mengangkat alis. "Lima? Kenapa lima?"
Sunny tidak tahu harus berkata apa. Dia akan menanyakan pertanyaan yang sama.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."
Bingung, Sunny memandang Nephis, berharap dia akan mampu menjernihkan situasi. Changing Star berdiri beberapa langkah jauhnya dengan ekspresi bingung di wajah. Merasakan tatapan Sunny, dia menatap dan bertanya: "Mengapa kau mengeluarkan pedangmu?"
Sunny melirik Midnight Shard dan mencoba mengingat apa yang menyebabkan dia memunculkan Memori itu. "Uh... aku tidak yakin. Kenapa kau memanggil milikmu?"
Nephis menunduk, seolah baru pertama kali melihat pedang di tangannya. Ekspresi keraguan muncul di wajahnya.
Apa yang salah dengan kepala kami saat ini? Memahami bahwa tidak ada gunanya mengharapkan bantuan dari Nephis, Sunny menghela napas dan berbalik pada Cassia. "Apakah kau melihat penglihatan lain?"
Gadis buta itu gemetar. Matanya terbuka lebar, sekali lagi dipenuhi rasa takut. "Penglihatan... ya, aku melihat sebuah penglihatan. Sebuah penglihatan yang mengerikan..."
"Apa yang kau lihat?"
Cassia terdiam beberapa saat, mencoba mengingat. Kerutan dalam muncul di wajahnya. Akhirnya, Cassia berkata pelan: "Aku melihat... sebuah gunung... sebuah gunung mayat. Mayat-mayat yang tak terhitung jumlahnya menumpuk satu sama lain hingga membentuk sebuah bukit yang berlumuran darah. Dan di puncaknya, sebuah benih hitam kecil mengambang di genangan darah..." Dia terdiam, lalu melanjutkan: "Itu masa lalu, kurasa. Tapi kemudian aku melihat masa depan... masa depan. Itu adalah kita. Ya Tuhan! Kita... kita..." Suaranya bergetar. Seolah tidak berani mengatakan sesuatu dengan keras, Cassia berhenti.
Sunny menunggu sebentar, lalu dengan hati-hati bertanya: "Kita apa?"
Gadis buta itu menoleh padanya dengan bingung. "Apa?" Dia menggaruk kepalanya. Apa yang baru saja mereka bicarakan?
"Kau... uh... menceritakan pada kami tentang penglihatanmu. Kurasa begitu?"
Cassia mengerutkan kening. "...Penglihatan apa?"
Sunny juga tidak yakin karena malu. Dia hanya ingat sesuatu tentang angka lima dan... sebuah biji? Entah mengapa, dia merasa seolah-olah angka itu sangat penting. Tapi mengapa? Ia tidak tahu. "Aku lupa."
Tiba-tiba, Nephis yang berdiri di dekat mereka, menurunkan tangannya dan menyingkirkan pedang yang entah mengapa dipegangnya. Sambil menatap kedua temannya dengan sedikit kebingungan, dia bertanya dengan ragu: "Kenapa kalian masih terjaga? Kita perlu istirahat. Ada sesuatu yang mungkin tertarik oleh mayat iblis itu, jadi sebaiknya kita kembali ke kondisi prima sesegera mungkin."
Teralihkan dan sudah melupakan pembicaraan dengan Cassia, Sunny berkedip beberapa kali, mengangkat bahu, dan memutuskan untuk kembali tidur. Semua ini tidak masuk akal. Mereka mungkin tercengang karena kelelahan... Dia merasa sangat lelah... Beberapa jam kemudian, ketika bayangannya menyadari makhluk bersayap berputar-putar di sekitar pulau, ia terbangun lagi. Pada saat itu, ingatan akan peringatan Cassia begitu terpecah-pecah dan buram sehingga tampak seperti mimpi yang aneh.
Namun benih itu sudah tertanam jauh di alam bawah sadarnya. Dan kini setelah mekar, Sunny akhirnya mampu berjuang menembus kabut kelupaan dan mengingat segalanya.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Shadow Slave
FantasyTumbuh dalam kemiskinan, Sunny tidak pernah mengharapkan sesuatu yang baik dari kehidupan. Namun, bahkan dia tidak mengantisipasi akan dipilih oleh Nightmare Spell/Mantra Mimpi Buruk dan menjadi salah satu dari Awakened - kelompok elit orang-orang y...
