Di pagi hari, Sunny terbangun oleh desiran lembut dedaunan. Saat membuka mata, ia melihat sinar matahari jatuh melalui mahkota merah Pohon Jiwa, mewarnai dunia dengan nuansa merah muda yang lembut. Pemandangan itu indah dan tenang. Rasanya seperti seolah tidak ada bahaya dan teror dari Dream Realm yang dapat menjangkaunya disini.
Angin sepoi-sepoi menyentuh kulitnya, membawa kesejukan dan aroma dedaunan yang berguguran. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sunny merasa damai. Apakah seperti ini rasanya liburan? Jika demikian, keputusan mereka untuk melakukannya adalah keputusan terbaik yang pernah ada. Dia duduk sambil menguap dan melihat sekeliling dengan mata malas, Cassia dan Nephis sudah bangun. Melihat mereka membuat wajah Sunny tersenyum. Kenapa aku nyengir? Sambil menggelengkan kepala, Sunny memasang ekspresi serius dan berkata: "Selamat pagi?"
Gadis-gadis itu menyambutnya. Kemudian, Nephis sedikit memiringkan kepala dan bertanya: "Hai. Apa kau ingat kenapa kita tidak meninggalkan siapapun untuk berjaga tadi malam?"
Sunny berkedip. Benar, mengapa tidak ada yang menjaga perkemahan itu? "Uh. Tidak. Kurasa kita terlalu lelah? Lagipula, di sini sangat aman. Kenapa kita harus mengurangi waktu tidur?"
Nephis mengerutkan kening. Sunny mengira Changing Star akan marah, tapi, tanpa diduga, dia hanya mengangkat bahu. "Mungkin."
Huh? Tidak seperti dirinya. Bukankah aku satu-satunya yang sedang dalam suasana hati yang baik sekarang? Untuk membuat Nephis merasa lebih baik, Sunny menunjuk ke bawah dan berkata: "Jangan khawatir. Bayanganku akan memperingatkan kita jika sesuatu terjadi."
Nephis tampaknya sudah melupakan pertanyaannya dan kembali pada apa yang telah dilakukannya sebelumnya. Ketiganya mudah teralihkan perhatiannya akhir-akhir ini. Sunny mendesah. "Jadi... apa yang akan kalian lakukan hari ini?"
Cassia menoleh padanya sambil tersneyum dan menjawab dengan nada menggoda. "Tidak ada. Kita sedang berlibur, ingat? Jadi kita hanya akan beristirahat dan bersantai."
Kedengarannya seperti sebuah rencana. Berbicara tentang rencana...
Pada saat itu, Cassia mengerutkan kening dan berkata dengan ekspresi tegas dan lucu: "Kau juga, Sunny. Kau tidak boleh membuat rencana, merencanakan dan bersekongkol. Duduk saja dan nikmati hari ini. Oke?"
Sunny menggaruk bagian belakang kepalanya. "Baiklah." Dia merasa seperti melupakan sesuatu. Melihat Nephis, dia ragu-ragu bertanya: "Ingatkan aku, mengapa kau memanjat Pohon Jiwa kemarin?"
Nephis menatapnya dengan bingung. "Huh... Aku tidak begitu ingat. Untuk mengambil buah?"
Sunny tersenyum mendengar penyebutan buah ajaib itu dan mengangguk. Ya. Itu masuk akal.
****
Beberapa hari berlalu, Sunny, Nephis, Cassia menghabiskan waktu dengan bersantai, tidak peduli apapun di dunia. Tubuh dan pikiran mereka yang lelah membutuhkan waktu untuk beristirahat. Mereka tidur sampai siang, makan buah-buahan yang lezat, dan duduk di sekitar api unggun, mengobrol atau sekedar menikmati kehangatan. Kadang-kadang, mereka bermain game atau melakukan bentuk hiburan lainnya.
Di waktu lain, mereka akan menyendiri, menikmati perasaan privasi yang hampir terlupakan. Sunny telah menjadi penyendiri selama sebagian besar hidupnya, jadi beberapa minggu terakhir yang dihabiskannya berdampingan dengan orang lain, tanpa sempat meluangkan waktu sejenak untuk diirnya sendiri, merupakan pengalaman yang melelahkan. Ia menikmati kesempatan untuk menyendiri dengan pikirannya sekali lagi. Untungnya, pulau itu cukup besar untuk mereka bertiga tinggal terpisah jika mereka tidak ingin di ganggu.
Bukan berarti itu sering terjadi. Awalnya, Sunny mengira bermalas-malasan tanpa melakukan appaun akan cepat membosankan, tapi ternyata tidak. Ia merasa baik-baik saja hanya berbaring di tanah dan menatap cabang-cabang Pohon Jiwa yang bergoyang lembut, terperangkap dalam lamunan yang membahagiakan. Pada saat-saat seperti itu, Sunny akan lupa waktu, sering kali menyadari bahwa seluruh jam telah berlalu hanya ketika matahari hampir terbenam.
Konsep waktu, secara umum, menjadi sangat sulit dipahami. Sunny tidak sepenuhnya yakin berapa hari yang telah mereka habiskan di pulau yang damai itu. Ia cukup yakin bahwa itu kurang dari seminggu, tapi tidak dapat mengingat jumlah pastinya. Tidak dapat mengingat sesuatu telah menjadi kejadian yang umum. Ketiganya menjadi semakin linglung dan pelupa. Terkadang, Sunny mendapati dirinya berusaha keras untuk mengingat detail kehidupan sebelumnya atau memperhatikan keanehan perilaku mereka. Namun semenit kemudian, ia akan melupakan semua kekhawatiran itu, teralihkan oleh beberapa pikiran atau kejadian yang tidak berbahaya.
Ingatannya semakin buram. Satu-satunya hal yang jelas di dalamnya adalah betapa lezat dan menyegarkannya buah ajaib itu, betapa menyenangkannya hidup dibawah naungan Pohon Jiwa, dan betapa hebatnya itu. Pohon itu indah, baik, dan murah hati. Pohon itu melindungi mereka dari kutukan labirin merah, mengusir monster, dan menyediakan makanan bagi tubuh dan inti jiwa mereka. Sunny semakin yakin bahwa menemukan Pohon Jiwa yang agung adalah berkat sejati. Pikiran untuk meninggalkan semua itu dan kembali ke kengerian dunia luar tampak semakin tidak menarik. Mengapa harus pergi jika mereka sudah bahagia disini?
Ya... setidaknya dua diantara mereka. Sementara Nephis sama riang dan tenangnya seperti Sunny dan Cassia pada awalnya, seiring berjalannya waktu, dia menjadi sangat putus asa dan muram. Sepertinya dia telah kembali ke dirinya yang dulu, terasa jauh dan tidak ramah. Alih-alih mengobrol atau bersantai bersama mereka, Changing Star akhirnya menghabiskan sebagian ebsar waktunya dengan duduk di tepi barat pulau sendirian, menatap ke kejauhan dengan mata muram.
Sunny tidak tahu apa yang salah. Ia mengkhawatirkannya. Bahkan seringnya ia lupa akan sesuatu tidak mampu mengatasi kekhawatirannya terhadap Nephis. Pada suatu malam, Sunny mendekati lereng barat pulau itu, merasa seolah-olah kepalanya akan pecah karena rasa sakit. Entah mengapa, ia terus-menerus lupa alasan kunjungannya dalam perjalanan ke sini. Butuh seluruh tekadnya untuk mempertahankan niatnya. Dia ingin memeriksa Nephis.
Seperti biasa, gadis itu duduk dipunggung bukit disisi barat, menatap ke kejauhan. Sunny naik ke punggung bukit dan duduk, menatapnya dengan ragu-ragu. "Hai, Neph."
Changing Star meliriknya. Ekspresi acuh tak acuhnya kembali, membuat segala upaya untuk memahami emosinya yang sebenarnya menjadi sia-sia. Namun, jelas bahwa dia tidak baik-baik saja. "Hai."
Sunny menggaruk bagian belakang kepalanya. Apakah dia berkhayal atau rambut gadis itu agak lebih panjang dari sebelumnya. "Mengapa kau tidak menikmati liburanmu?"
Changing Star mengerutkan kening. Setelah beberapa saat, dia berkata: "Bukankah kita... harus bergerak ke barat?"
Sunny mengangkat alis, terkejut. "Barat? Apa yang ada di barat?"
Kerutan di dahi Nephis semakin dalam, berubah menjadi ekspresi cemberut. "Aku... aku tidak ingat. Tapi aku merasa... aku merasa..." Dia terdiam, lalu berkata pelan: "Aku merasa harus melakukan sesuatu yang sangat penting."
Meninggalkan Pohon Jiwa... sungguh ide yang aneh. Sunny merenung sejenak, mencoba memahami dari mana Nephis mendapat ide bahwa mereka harus pindah ke suatu tempat. Akhirnya, dia bertanya: "Mengapa barat, dari segala arah?"
Nephis menoleh. Ada ekpsresi aneh dan sedih di wajahnya. Sambil menggertakkan gigi, dia berbisik: "Aku tidak tahu."
Sunny mendesah. Jika gadis itu sendiri bahkan tidak tahu, maka tidak ada yang dapat dia lakukan. Yang Sunny tahu hanyalah bahwa dia ingin membuatnya merasa lebih baik. Tapi bagaimana caranya? Sunny mengerutkan kening, mencoba memikirkan cara. Dia merasa ada sesuatu yang sangat jelas yang dilupakannya. Sesuatu yang akan langsung menghapus penderitaan Nephis...
Saat kesadaran itu menghantamnya, Sunny terpaku. "Tentu saja! Bagaimana mungkin aku bisa lupa..."
Jawabannya sangat jelas. Dia hanya perlu memanjat Pohon Jiwa dan menemukan buah yang sangat lezat untuk gadis itu makan...
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Shadow Slave
FantasiaTumbuh dalam kemiskinan, Sunny tidak pernah mengharapkan sesuatu yang baik dari kehidupan. Namun, bahkan dia tidak mengantisipasi akan dipilih oleh Nightmare Spell/Mantra Mimpi Buruk dan menjadi salah satu dari Awakened - kelompok elit orang-orang y...
