Baik Nephis maupun Sunny tidak ingin turun dari tembok, karena itu akan membuat mereka tidak punya jalan keluar jika sesuatu yang buruk terjadi. Tanpa perlu berdiskusi, mereka memutuskan untuk menjelajahi menara terdekat dan melihat apakah ada cara yang cocok untuk turun dari tembok di dalamnya.
Mereka menyusuri dinding yang sedikit melengkung ke utara, sambil mengawasi reruntuhan di bawahnya. Dari waktu ke waktu, Sunny dapat melihat bentuk-bentuk makhluk bergerak melalui jalan-jalan sepi kota kuno itu. Namun, tampaknya tidak ada yang tertarik untuk memanjat benteng granit yang tinggi.
Untuk saat ini, mereka aman. Namun, Sunny tidak merasa aman. Sebaliknya, dia terus melirik ke arah Crimson Spire yang jauh dan menggigil. Hal itu sungguh mengerikan. Untunglah kami akan segera keluar dari sini... Itulah satu-satunya pikiran yang membuat Sunny tidak panik. Perjalanan mereka melalui Forgotten Shore akan segera berakhir. Mereka telah bertahan dan melewati banyak hal. Kadang-kadang, Sunny bahkan tidak yakin bahwa mereka akan berhasil keluar dari sini hidup-hidup. Tapi sekarang, semua penderitaan mereka akan segera terbayar. Jalan menuju kebebasan sudah di depan mata mereka... mereka hanya harus mengatasi satu rintangan terakhir ini untuk kembali ke rumah dengan penuh kemenangan.
...Tak lama kemudian, mereka mendekati salah satu menara besar yang dibangun di dalam tembok. Strukturnya berbentuk bundar, menjulang diatas tanggul utama sejauh belasan meter. Ada gerbang kayu lebar yang mengarah ke dalam menara, yang sudah lama rusak, dengan hanya beberapa serpihan yang tersisa di engsel besi kuno. Di balik pintu, tidak ada apa-apa selain kegelapan.
Sunny merasa pemandangan pintu masuk itu agak menyeramkan. Tentu saja, kegelapan tidak berarti apa-apa baginya. Tapi... tiba-tiba, Cassia menarik bahunya, memaksa Sunny untuk berhenti. Baik dia maupun Nephis menoleh pada gadis buta itu, tangan mereka terentang dan siap memanggil pedang mereka. "Ada apa, Cassia?" tanya Sunny dengan khawatir.
Dalam beberapa situasi, gadis tunanetra itu mampu mengenali bahaya sebelum mereka menyadarinya. Pendengarannya yang tajam dan indra penciumannya terkadang memungkinkannya untuk melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh manusia normal. Kini, wajah Cassia tampak cemberut. Sambil menoleh sedikit, dia berbisik: "Dengarkan."
Sunny menahan napas dan mengikuti kata-katanya, sambil berusaha sekuat tenaga untuk mendengar. Tak lama kemudian, ia dapat mendengar suara aneh yang berasal dari dalam menara.
Krauk. Krauk. Krauk...
Kedengarannya seperti... ada sesuatu yang dilahap disana, daging dan tulang di giling oleh gigi-gigi tajam. Suara daging yang disobek dan dikunyah membuat Sunny meringis.
Sunny dan Nephis saling berpandangan, lalu memanggil pedang mereka. Seperti biasa, sebelum mereka berdua bergerak maju, Sunny mengirimkan bayangannya untuk menyelidiki musuh potensial. Bayangan itu meluncur diatas batu, dengan cepat mendekati menara. Kemudian, ia menyelam ke dalam kegelapan dan menyembunyikan dirinya di bawah naungan luas yang menyelimuti bangunan itu.
Sunny bisa melihat ke dalam... Hal pertama yang dilihatnya adalah beberapa monster mati tergeletak diatas batu dalam genangan darah. Jejak berdarah yang tertinggal di lantai batu menunjukkan bahwa tubuh mereka yang besar diseret ke sini oleh sesuatu yang sangat kuat. Mereka dipotong-potong dan dikeluarkan isi perutnya, seolah-olah di sembelih oleh seorang tukang daging yang bersemangat. Kemudian, ia melihat tumpukan besar tulang yang sudah digerogoti tergeletak diatas batu. Beberapa diantaranya masih memiliki potongan daging yang menempel, sementara yang lain sudah terbelah dan bahkan sumsumnya sudah kosong.
Hal berikutnya adalah... api yang menyala dalam lingkaran pecahan batu, dengan beberapa tusuk daging monster terpanggang di atasnya. Di samping api, sumber suara mengunyah dan berderak itu berasal dari orang yang duduk diatas batu, sambil mengunyah iga panggang yang lezat.
...Itu manusia. Sebenarnya, dia adalah seorang gadis muda. Dia tampaknya hanya sedikit lebih tua dari mereka bertiga.
Sunny berkedip.
Gadis muda itu tinggi dan menarik. Matanya berwarna cokelat yang selaras dengan rambutnya, yang saat ini diikat dengan kepang sederhana. Tubuhnya sangat atletis, dengan otot-otot ramping yang terbentuk sempurna di bawah kulit zaitunnya yang berembun di setiap gerakan. Dan ada... uh... banyak kulit yang terlihat, karena dia hanya mengenakan tunik putih pendek yang provokatif, dilengkapi dengan pelindung kaki perunggu dan pelindung dada dengan pteruge kulit. Sementara Nephis ramping dan lentur, orang asing ini memancarkan aura vitalitas dan kekuatan. Segala sesuatu tentangnya mewah dan murah hati, memancarkan kekuatan, potensi, dan semangat.
Namun, bagian yang paling aneh adalah ada ekspresi yang benar-benar santai, nyaman, dan bahagia di wajahnya. Selama berbulan-bulan di Forgotten Shore, Sunny tidak pernah, bahkan sedetikpun, membiarkan dirinya menurunkan kewaspadaannya sepenuhnya. Begitu pula dengan Nephis dan Cassia. Bahkan di saat-saat istirahat yang langka, terlindungi dalam keamanan yang dapat di andalkan, mereka selalu sedikit tegang, mengantisipasi segala macam kengerian akan menimpa mereka dalam serangan gigi, racun, dan cakar. Bahkan saat berada di bawah kutukan Soul Devourer, selalu ada bayangan tak terlihat dihati mereka. Namun, gadis muda itu tampak sangat puas berada di tempat terkutuk ini. Bahkan, dia tampak lebih bahagia daripada Sunny sebelumnya, bahkan di dunia nyata.
Saat Sunny memperhatikan, gadis muda itu melahap daging monster malang dengan berantakan. Cairannya mengalir di wajah dan jari-jarinya. Setelah selesai memakan dagingnya, dia menggigit tulangnya. Mata Sunny terbelalak.
Tulang adamantine milik Makhluk Mimpi Buruk itu dengan mudah diremukkan diantara giginya, dan sambil memejamkan mata karena kenikmatan, gadis itu mulai menghisap sumsum tulang tersebut, lalu mengunyah dan menelan sebagian besar tulangnya.
Krauk. Krauk. Krauk...
Selesai memakan iga, dia melemparkan sisa-sisanya ke tumpukan tulang yang sangat besar di kakinya, bersendawa keras tanpa sopan santun apapun, lalu segera mengulurkan tangannya untuk mengambil sepotong daging monster lainnya dari api, dan menggigitnya.
Sunny berkedip beberapa kali lagi, lalu mengalihkan pandangannya kembali dan menatap Nephis.
"Apa yang kau lihat?"
Sunny terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada ragu-ragu. "Yah... entah dia gadis manusia yang sangat lapar. Atau iblis yang sangat rakus."
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Shadow Slave
FantasiaTumbuh dalam kemiskinan, Sunny tidak pernah mengharapkan sesuatu yang baik dari kehidupan. Namun, bahkan dia tidak mengantisipasi akan dipilih oleh Nightmare Spell/Mantra Mimpi Buruk dan menjadi salah satu dari Awakened - kelompok elit orang-orang y...
