Sunny punya banyak hal yang harus dilakukan sebelum matahari terbenam. Bagian-bagian rencana itu berputar di kepalanya, membuatnya sakit. Ia harus terus-menerus tetap fokus, mengerahkan tekadnya hingga batas maksimal, hanya untuk mencegah dirinya melupakan segalanya. Ketika itu tidak cukup, ia harus menggunakan rasa sakit untuk menambah konsentrasinya. Tangan dan lengannya dipenuhi bekas gigitan yang mengerikan. Tanpa Blood Weave, Sunny mungkin sudah pingsan karena kehilangan banya darah. Namun, dengan wajah pucatnya yang semakin memutih karena kelelahan dan cahaya demam yang menyala di matanya, dia pasti terlihat seperti zombi.
Untungnya Cassia tidak dapat melihat semua itu. Tidak butuh waktu lama untuk meyakinkannya bergabung dalam usaha aneh mereka. Kondisi gadis itu buta itu jauh lebih buruk daripada kondisi Sunny atau Nephis. Dia tampak hampir tidak bisa bertahan, pikirannya lambat dan lemah.
Hati Sunny diliputi kekhawatiran. Mengapa dia lebih terpengaruh daripada kami? Apakah karena kami memiliki Nama Sejati, dan dia tidak? Bagaimanapun juga, nama merupakan jangkar bagi jati diri seseorang. Mungkinkah Nama Sejati memiliki peran yang sama, hanya saja dalam hal yang berkaitan Spell? Sunny tidak tahu.
Sunny membimbing Cassia ke bangkai Carapace Demon. Nephis sudah sibuk melepaskan pelat baja dari punggung monster itu. Pedang peraknya tampaknya mampu mendorong logam yang rusak, membuat tugas itu tidak sesulit yang dikhawatirkan. Dengan lembut, Sunny mendudukan gadis buta itu di tempat yang dapat dilihat Nephis, lalu naik ke atas iblis yang mati itu dan mengevaluasi kemajuan pekerjaan Changing Star.
Nephis menatapnya dengan cemberut, "Tidakkah kau akan membantu? Lagipula, ini idemu."
Sunny mengangkat bahu. "Mungkin nanti. Lagipula, kau tampaknya menikmatinya. Sebagian orang mungkin mengatakan bahwa ini proyek kecil yang menyenangkan untuk mengusir kebosanan, bukan?"
Nephis berkedpi beberapa kali, lalu berkata: "Ku pikir begitu."
Sunny mengangguk beberapa kali, melihat ke bawah ke tempat-tempat dimana, tanpa pelat baja, daging iblis itu tersingkap. Darah biru telah membeku, membuatnya gelap dan sekeras batu. Namun, di sana-sini, lapisan lemak putih tetap dalam kondisi murni. "Sebenarnya, aku punya proyek lain dalam pikiran."
Nephis mengangkat sebelah alisnya. "Oh, benarkah?"
Sunny memanggil pedangnya dan melangkah mendekati celah pada baju besi makhluk itu. "Ya. Aku ingin membuat lilin." Sambil mengucapkan kata-kata itu, ia mulai memotong, memisahkan lemak dari jaringan otot yang mengeras.
Neph berkedip beberapa kali lalu menatap Cassia. "Hei, Cass. Apakah Sunny sudah gila?"
Gadis buta itu menjadi bersemangat mendengar namanya disebut. "Hah? Uh... aku tidak yakin. Kurasa dia hanya bosan."
Sunny berkonsentrasi pada tugasnya, tidak memedulikan mereka. Sesaat, ia memikirkan ide untuk melukai dirinya sendiri dengan pisau tajam milik Midnight Shard, tapi kemudian mengabaikannya. Memotong Puppeteer's Shroud akan sangat sulit, dan ia tidak bisa mengabaikan baju zirahnya di depan gadis-gadis itu. Ya... lebih tepatnya dia tidak mau.
Dengan potongan besar lemak iblis ditangan, Sunny melompat turun dari bangkai dan mendarat di tumpukan daun yang berguguran. Membuat lilin dari lemak hewan tidaklah terlalu sulit. Ia hanya membutuhkan api, air, dan waktu. Sumbu lilin dapat dibuat dari serat rumput laut. Hasilnya memang tidak akan indah, tapi ia tidak peduli dengan estetika.
Meninggalkan Nephis dan Cassia, Sunny bergegas kembali ke perkemahan mereka. Matahari sudah tinggi di langit. Dia menghabisakan sisa harinya dengan melakukan dua hal: mengawasi proses pembuatan lilin dan berlari mengelilingi pulau, mengumpulkan sebanyak mungkin daun yang gugur. Dari waktu ke waktu, dia akan melihat sekilas Nephis bekerja di perahu, terkadang menyuruh Cassia membantunya dengan tugas-tugas kasar. Dari apa yang bisa dia lihat, perahu itu terbentuk dengan baik. Changing Star tahu apa yang sedang di lakukannya.
Tentu saja, itu hanya mungkin karena Sunny telah meyakinkannya bahwa ini hanyalah sesuatu yang ingin dia lakukan untuk bersenang-senang. Jika gadis-gadis itu tahu bahwa dia berencana menggunakan perahu untuk meninggalkan Ashen Barrow, efek dari keterikatan akan terus menghapus ingatan mereka tentang tugas itu, sehingga mustahil untuk menyelesaikannya. Saat ini, Sunny adalah satu-satunya yang tahu tujuan sebenarnya dari perahu itu. Itulah sebabnya dia terpaksa menanggung beban penuh dari kerusakan pikiran Pohon Jiwa sendirian. Ia merasa seperti akan mati karena kelelahan. Kepalanya terasa seperti terisi besi cair. Pandangannya mulai buram.
Namun, Sunny dengan keras kepala menolak untuk menyerah. Betapapun lelahnya dia, betapapun dia ingin melepaskan dan meringankan penderitaan ini, kembali ke kebahagiaan karena tidaktahuan, dia tetap memusatkan pikirannya pada satu tujuan, dan hanya satu tujuan. Melarikan diri dari cengkeraman Sang Pemakan Jiwa.
Akhirnya, saat senja menjelang, perahupun siap. Seperti mayat berjalan, Sunny perlahan mendekati bangkai iblis itu, yang kini telah dipotong dan diiris-iris. Seolah-olah seorang ahli bedah hewan gila telah mengunjungi pulau itu untuk melakukan otopsi pada raksasa itu dan lupa menjahit kembali makhluk malang itu.
Nephis menatap Sunny dengan khawatir. "Sunny... kau baik-baik saja?"
Sambil tersenyum sinis, Sunny mengangkat bahu. "Aku baik-baik saja. Secara komperatif." Dia tidak ingin merinci dengan apa tepatnya dia membandingkan kondisinya saat ini. Sambil menoleh, Sunny memandangi perahu itu dengan kepuasan yang gelap. Itu... tidak seperti yang dia bayangkan.
Lambung perahu terbuat dari pelat lengkung dari logam mengilap, dengan paku-paku tajam mencuat dari pelat-pelat tersebut ke segala arah. Pelat-pelat tersebut diikat dengan tali emas yang diikatkan erat di sekelilingnya. Changing Star berhasil membuat celah-celah diantara berbagai bagian lambung kapal begitu tipis sehingga tidak ada air yang bisa masuk. Tiang kapal terbuat dari tulang belakang dan tulang rusuk sang iblis, dengan jubah ajaib Cassia digantung disana sebagai layar. Bahkan ada dayung kemudi yang dibuat dari ujung sabit raksasa.
Sunny mengira akan melihat rakit darurat, tapi yang ditemuinya adalah sebuah perahu sungguhan. Ya, perahu yang tampak kasar... tapi juga kuat, mengerikan, dan anehnya mengesankan. Berlayar diatas lautan terkutuk di atas perahu yang terbuat dari tulang-tulang iblis... kedengarannya seperti awal dari sebuah legenda, pikir Sunny, terpesona sejenak oleh penampakan mengerikan dari perahu Carapace itu.
Nephis menatapnya dengan sedikit rasa puas. "Senang? Sekarang bagaimana?"
Sunny mengumpulkan pikirannya. Sekarang... Begitu dia mencoba memikirkan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya, penghalang tak terlihat muncul di pikirannya, menghalangi setiap upaya untuk melanjutkan pemikiran itu. Sekarang kita... kita... Tidak peduli seberapa keras dia mencoba, Sunny tidak dapat mengingat apa yang ingin dia lakukan.
Sambil mengerutkan kening, Sunny mengangkat tangan dan menggigit telapak tangannya yang terluka, merasakan tetesan darah mengalir ke dalam mulutnya. Tapi rasa sakit itupun tidak membuatnya menghancurkan penghalang itu. Sunny tersenyum muram dan berlutut, meletakkan tangannya di tanah. Memanggil Midnight Shard, dia mengangkat tangannya yang lain dan menurunkan gagang pedang tanpa ragu-ragu. Saat tulang rapuh di jari manisnya hancur akibat hantaman kuat, gelombang penderitaan menerpa pikiraanya, menghancurkan penghalang kuat itu.
Sekarang kita keluar dari sini!
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Shadow Slave
FantasiTumbuh dalam kemiskinan, Sunny tidak pernah mengharapkan sesuatu yang baik dari kehidupan. Namun, bahkan dia tidak mengantisipasi akan dipilih oleh Nightmare Spell/Mantra Mimpi Buruk dan menjadi salah satu dari Awakened - kelompok elit orang-orang y...
